pelantar.id – Penerbangan langsung dari Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau ke Shenzen, Cina segera dibuka. Dibukanya rute ini bertujuan untuk memperluas akses kerja sama investasi dua negara serta kunjungan wisatawan.

“Sebelumnya penerbangan dari Guangzhou sudah dibuka ke Tanjungpinang (Bandara Raja Haji Fisabililla). Dalam waktu dekat juga akan dibuka penerbangan dari Batam ke Shenzen,” kata
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Syamsul Bahrum saat menghadiri perayaan Hari Jadi ke-69 Republik Rakyat China yang digelar Konsulat RRC di Medan di Hotel Best Western Panbil, Batam, Jumat 921/9) malam.

Di acara yang dihadiri General Konsulat RRC di Medan, Sun Ang dan para pengusaha tersebut, Syamsul mengatakan, saat ini Provinsi Kepri terus melakukan pembangunan di segala bidang. Peran pengusaha asal China sangat besar meningkatkan dunia investasi di daerah ini.

Di sektor pariwisata, kedua negara juga sudah menjalin kerja sama yang mantap. Khusus Kepri, penerbangan langsung Guangzhou-Tanjungpinang sudah membuka akses bagi wisatawan China datang ke Kepri, dan sebaliknya. Kunjungan wisatawan RRC ke Kepri terus mengalami peningkatan.

Menurut Syamsul, Kepri merupakan daerah terdepan dalam meningkatkan kerja sama antara China dengan Indonesia. Selain industri, kata dia, sektor pariwisata juga menjadi prioritas utama pemerintah daerah karena wisatawan negara bambu tersebut menyumbang wisatawan yang cukup besar.

Selain merayakan ulang tahun kemerdekaan RRC, acara itu juga disejalankan dengan peringatan ulang tahun berdirinya Asosiasi Pengusaha Tiongkok Kepulauan Riau (APTKR). Kegiatan itu mengusung tema Meningkatkan Persahabatan antara pemerintah RRC dengan Pemprov Kepri.

Baca Juga :   Satu Guru dan Satu Jamaah Tabligh di Batam Positif Covid-19

Pada kesempatan itu, Sun Ang mengatakan, RRC diproklamirkan pada 1 Oktober 1949. Dalam perjalanan 69 tahun, terutama sejak 40 tahun reformasi dan keterbukaan, RRC baru telah membuat pencapaian luar biasa dalam pembangunan dan telah mengalami perubahan yang mengguncang dunia internasional.

Menurut dia, RRC telah tumbuh menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, negara industri, perdagangan kargo, cadangan devisa terbesar. Rakyat RRC telah menjalani kehidupan yang lebih baik dan menikmati martabat dan hak yang belum pernah ada sebelumnya. China pun telah menyumbang lebih dari 30 persen untuk pertumbuhan ekonomi dunia selama bertahun-tahun dan telah menjadi penstabil utama dan sumber daya bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

“Tiongkok hari ini penuh dengan semangat dan harapan. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua teman di Provinsi Kepulauan Riau, yang telah lama berkomitmen dalam pertukaran persahabatan Tiongkok-Indonesia,” kata dia.

Sun Ang mengatakan, pada tahun 2018 yang merupakan ulang tahun kelima inisiatif program Satu Sabuk Satu Jalur (One Belt One Road) yang telah diprakarsai Presiden Tiongkok, Xi Jinping lima tahun yang lalu. Program ini sendiri terdiri atas Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt) yang berbasis pada wilayah daratan dan Jalur Sutra Maritim (Maritime Silk Road) dengan basis lintas wilayah samudra (laut).

“Jalur Sutra Ekonomi dan Jalur Sutra Maritim pada Abad ke-21 telah dibuka di beberapa negara terutama Kazakhstan dan Indonesia. Sejak itu, inisiatif Satu Sabuk Satu Jalur ini telah memasuki visi dunia yang secara bertahap mulai memicu resonansi positif dunia secara global,” jelasnya.

General Konsulat RRC di Medan, Sun Ang (tengah) menghadiri perayaan Hari Kemerdekaan ke-69 RRC di Hotel Best Western Panbil, Batam, Jumat (21/9) malam.
Foto: PELANTAR/Faturohym

Dalam lima tahun terakhir, lanjut Sun Ang, RRC telah menandatangani dokumen kerja sama dengan lebih dari 80 negara dan organisasi di dunia, dan juga telah membentuk 82 zona kerjasama ekonomi dan perdagangan luar negeri di 24 negara di sepanjang rute Satu Sabuk Satu Jalur.

Baca Juga :   BP Batam Tutup PTSP Selama Sosialisasi OSS

“Melalui penguatan kapasitas sektor produksi kerja sama dan juga membangun taman kerja sama sesuai dengan kondisi setempat (negara tempat kerja sama). Berbagai metode kerja sama telah diambil, dan serangkaian kesuksesan telah terakumulasi, di antaranya jalur kereta api dari Mongolia di Kenya, pelabuhan Piraeus di Yunani, taman industri Great Stone di Belarusia.” ujarnya.

Saat ini, hubungan China-Indonesia berada pada momentum yang sangat bagus untuk menghadapi peluang penting demi pengembangan ke depannya. Untuk itu RRC bersedia melakukan upaya bersama dengan Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini memasukkan konsensus penting dari kedua pemimpin antar kedua negara dan secara efektif menyilangkan strategi Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang diprakrasai Presiden Xi Jinping dan strategi Poros Maritim Dunia yang diprakarsai Presiden Joko Widodo.

“Untuk memperluas dan memperdalam pertukaran dan kerja sama bidang infrastruktur, interkoneksi, pariwisata, humaniora, dan lainnya, demi mendorong kemitraan strategis komprehensif antara China dan Indonesia. Provinsi Kepulauan Riau dan Kota Batam berada di garis terdepan dalam program pertukaran dan kerja sama yang diadakan dengan pemerintah kami,” ujarnya.

Reporter : Faturohym
Editor : Yuri B Trisna