Pelantar.id – Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh di perairan Karawang merupakan pesawat baru. Pesawat ini beroperasi sejak 15 Agustus 2018. Namun, pihak Lion Air sudah menyatakan laik beroperasi seperti yang dijelaskan oleh Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro.

“Pesawat ini buatan 2018 dan baru dioperasikan oleh Lion Air sejak 15 Agustus 2018. Pesawat dinyatakan laik operasi,” kata Danang dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/10/2018).

Pesawat Lion Air JT 610 merupakan jenis Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP. Keunggulan dari Boeing 737 Max 8 diantaranya penggunaan bahan bakar lebih hemat hingga 20 persen dibandingkan generasi 737 saat ini (737 NG) dan memiliki daya jelajah terbang 3.500 mil laut (6.500 km).

Baca Juga :   PT Flo-Bend Hadir di Batam, Produsen Pipe Fitting Satu-satunya di Indonesia

Dari segi aerodinamika, pesawat ini memiliki sayap model baru dengan desain winglet terbaru yang dijuluki Scimitar Winglet. Ciri utama varian B 737 Max yaitu ujung sayap pesawat dibelah menjadi dua, satu menjulur ke atas dan satu ke bawah.

Pesawat ini menggunakan mesin jenis terbaru CFM LEAP 1B dengan diameter CFM LEAP-1B juga lebih besar 20 cm, sehingga menghasilkan thrust lebih besar. Dengan demikian, konsumsi bahan bakar mesin CFM LEAP-1B diklaim 11-12% lebih hemat.

Operating cost-nya juga diklaim 7 persen lebih hemat dibanding mesin CFM56 yang dipakai varian 737 NG (Next generation).

Pesawat ini dikomandoi Captain Bhavye Suneja dengan kopilot Harvino bersama enam awak kabin atas nama Shintia Melina, Citra Noivita Anggelia, Alviani Hidayatul Solikha, Damayanti Simarmata, Mery Yulianda, dan Deny Maula. Hingga saat ini belum diketahui penyebab jatuhnya pesawat.

Baca Juga :   Liverpool vs PSG, Duel Dua Tim Menakutkan

sumber: detik.com