pelantar.id – Beberapa waktu lalu, maskapai penerbangan VietJet Air ramai menghiasi pemberitaan di Indonesia. Maskapai asal Vietnam itu akan membuka dua rute ke Tanah Air yakni Bali dan Jakarta.

Managing Director VietJet Air, Do Xuan Quang mengatakan, rute Ho Chi Minh – Denpasar Bali akan dimulai pada Maret 2019. Penerbangan diperkirakan memakan waktu sekitar 3,5 jam. Sedangkan rute Ho Chi Minh – Jakarta baru dibuka akhir 2019 nanti.

Nama maskapai VietJet Air meroket lantaran kebijakan yang dianggap kontroversi. Pramugarinya tampil seksi dengan mengenakan bikini.

Do Xian Quang menegaskan, pramugari berbikini itu hanya ada untuk rute-rute khusus dan perdana, untuk tujuan penerbangan ke kawasan wisata yang memiliki pantai. Kebijakan ini pun langsung mencuri perhatian dunia.

Meski sempat mendapat hukuman denda dari otoritas penerbangan Vietnam, manajemen VietJet tak bergeming. Mereka tetap mempertahankan ide nyeleneh tersebut.

Mungkin tak banyak yang tahu, ada sosok wanita cantik yang melahirkan gagasan tersebut. Dia adalah Nguyen Thi Phuong Thao, sang CEO VietJet Air.

Sekilas Perjalanan Thao

Mengutip Maxim.com, Nguyen Thao kini masuk dalam daftar miliarder dunia. Ia dikenal sebagai pengusaha wanita Vietnam yang cerdas, disiplin dan bekerja keras untuk mewujudkan gagasannya.

Thao sudah mampu menghasilkan uang jutaan dolar di usianya yang baru 21 tahun. Ketika itu, ia menjual mesin faks dan karet lateks. Sejak itu, langkah Thao semakin kencang, dan kekayaannya terus melonjak.

Nguyen Thi Phuong Thao (google.com)

Thao masuk pertama kali ke dunia bisnis ketika masih menyandang status mahasiswa tahun kedua di Moskow pada tahun 1998. Ia mengambil bidang keuangan dan ekonomi.

Baca Juga :   Per Oktober-Desember, PLN Turunkan Tarif Listrik

Di sela aktivitasnya menuntut ilmu, bermodalkan sedikit uang, Thao menjalankan profesi sebagai distributor perdagangan. Ia menerima pakaian, peralatan kantor dan barang-barang konsumen secara kredit dari pemasok di Jepang, Hong Kong dan Korea Selatan, lalu menjualnya di Rusia.

“Saya mendapatkan kepercayaan dari pemasok. Saya selalu berusaha bekerja keras, saya juga selalu jujur ​​pada mereka,” kata Thao.

“Saya tidak punya banyak uang, dan mereka (pemasok) memberi saya banyak produk dengan persyaratan kredit yang lebih lama. Saya harus bekerja keras sambil menjaga kepercayaan itu,” sambung Thao.

Putri dari pasangan guru dan apoteker ini, kemudian melangkah lebih dalam ke dunia bisnis. Setelah cukup sukses di bidang yang digelutinya itu, dengan menghasilkan jutaan dolar, tiga tahun kemudian Thao menjajal bisnis penjualan mesin, baja, dan pupuk.

Mendirikan VietJet Air

Thao semakin serius berbisnis. Ia kembali ke Vietnam dan ikut menanamkan uangnya di Techcombank atau dikenal juga dengan Vietnam Technological and Commercial Joint-Stock Bank.

Tak lama, Thao mengajukan aplikasi untuk menjalankan maskapai penerbangan yang diberi nama VietJet Air. Ia memutuskan terlibat dalam persaingan dengan maskapai penerbangan nasional, Vietnam Airlines.

Lewat VietJet Air yang mengusung slogan Enjoy Flying, kekayaan Thao terdongkrak luar biasa. Menurut Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Thao terus merangkak naik hingga mencapai US$ 1,37 miliar. Saat itu usianya 45 tahun.

Beberapa tahun beroperasi, VietJet Air berhasil menangguk keuntungan lebih dari 30 persen pangsa pasar maskapai penerbangan di Vietnam. Kesuksesan VietJet tak lepas dari kehebohan yang diciptakan Thao dengan menampilkan pramugari berbikini di maskapai penerbangannya.

Pramugari VietJet Air melayani penumpang. (videomoviles.com)

Para pramugari berpenampilan seksi itu digunakan untuk melayani rute penerbangan dengan tujuan resort-resort dan pantai di kawasan Vietnam dan sekitarnya. Kehebohan pecah. VietJet dan Thao sebagai sosok pencetus ide itu menjadi buah bibir dunia.

Baca Juga :   BKPM Tak Siap, OSS Dijalankan Kemenko Perekonomian

Manajemen VietJet pun mendapat sorotan dari otoritas penerbangan Vietnam. Hasilnya, VietJet dihukum membayar denda.

Tapi Thao tak goyah. Ia tetap melanjutkan layanan pramugari berbikini. Dan memang terbukti sukses.

“Anda berhak mengenakan apa pun yang Anda suka, baik bikini atau pakaian tradisional ao dai,” kata Thao.

Thao berkeyakinan idenya itu tidak bermasalah. Ia merujuk pada tunik longgar tradisional Vietnam yang dikenakan di celana.

Thao kembali menunjukkan kecerdasannya dalam berbisnis. Kontroversi bikini tersebut dimanfaatkannya untuk meraup keuntungan.

Ia menerbitkan kalender para pramugari seksi, yang disambut hangat oleh masyarakat.

“Kami tidak keberatan orang mengasosiasikan maskapai dengan gambar bikini. Jika itu membuat orang bahagia, maka kita bahagia,” ujar Thao, yang di kalangan pengusaha Vietnam dikenal sebagai wanita pendiam ini.

Nama Thao terus berkibar. Sejumlah media melaporkan, Thao kini juga tercatat sebagai wakil ketua bank komersial swasta, yang memiliki 225 cabang dengan 10 ribu pekerja.

Tahun lalu, perusahaan itu mencatatkan total aset sekitar 4,6 miliar dolar Amerika Serikat. Thao pun disebut juga memiliki saham mayoritas di tiga resor di Vietnam yakni, Furama Resort Danang, Evason Ana Mandara Nha Trang, dan An Lam Ninh Van Bay Villas.

*****

Dikutip dari berbagai sumber