Harga RAM di pasar global belum tentu langsung longgar, tetapi sinyal dari China mulai menarik perhatian. Khe-Hyun Kyung, mantan eksekutif Samsung, menilai kenaikan kapasitas produksi DRAM di China dapat menjadi pemicu yang membuat tekanan kelangkaan mereda lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
Di forum ke-285 NAEK yang digelar National Academy of Engineering di Korea, Kyung menyampaikan bahwa pasar memori sangat sensitif terhadap tambahan pasokan baru. Karena itu, setiap lonjakan output dari pemain baru berpotensi mengubah keseimbangan pasar, terutama saat permintaan bergerak lebih cepat daripada suplai.
Pasokan masih dikuasai segelintir pemain
Saat ini, pasokan DRAM dunia masih bertumpu pada tiga nama besar, yaitu SK Hynix dan Samsung di Korea, serta Micron di Amerika Serikat. Konsentrasi seperti ini membuat pasar gampang terguncang ketika ketersediaan barang tidak mengikuti laju permintaan.
Kyung menyoroti bahwa Korea memegang hampir 70% pasar DRAM. Dominasi sebesar itu menunjukkan betapa besar pengaruh produsen Korea terhadap harga dan ketersediaan memori di seluruh dunia.
China disebut bisa ubah arah pasar
Menurut Kyung, produksi DRAM China yang terus membesar bisa langsung menekan kelangkaan yang selama ini memukul pasar PC global. Jika kapasitas manufaktur di sana benar-benar naik tajam, sebagian pasokan dunia juga berpotensi lebih leluasa dialihkan ke pelanggan di wilayah lain.
Ia memang belum melihat kepastian apakah RAM buatan China akan segera masuk ke pasar Amerika Serikat. Meski begitu, peningkatan output tetap dinilai cukup penting untuk menggeser keseimbangan pasokan internasional.
Target kapasitas jadi penentu utama
Kyung memperkirakan produksi China dapat mencapai enam juta wafer per bulan pada paruh kedua 2027. Bila target itu tercapai, dampaknya terhadap ketersediaan DRAM diperkirakan besar dan bisa mulai mengurangi tekanan pasokan.
Dalam skenario itu, harga RAM berpeluang turun pada paruh kedua 2027 atau awal 2028. Bagi konsumen dan pelaku usaha, hal ini menjadi harapan baru setelah pasar DRAM berada dalam kondisi ketat untuk beberapa waktu.
Proyeksi tersebut juga terbilang lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya yang menempatkan akhir krisis pasokan DRAM baru terjadi sekitar 2030 atau 2035. Artinya, tambahan kapasitas dari China dipandang sebagai jalur paling konkret untuk mempercepat perbaikan pasar.
Dampaknya sudah terasa di industri
Kelangkaan DRAM bukan hanya soal harga. Di lapangan, banyak bisnis kecil di sektor elektronik konsumen disebut kesulitan bertahan saat pasokan tetap ketat.
Situasinya berbeda bagi perusahaan teknologi besar dan pemain AI skala besar yang masih relatif lebih aman. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa masalah pasokan juga menyentuh daya tahan rantai pasok, bukan sekadar biaya pembelian komponen.
Kyung juga mendorong Korea untuk mengalihkan fokus industrinya ke semikonduktor sistem fabless dan sovereign AI. Menurutnya, Korea sulit bersaing sekaligus dengan Amerika Serikat dan China dalam perangkat keras dan perangkat lunak.
Ia menilai Korea perlu memikirkan serius cara menerapkan AI sebagai bagian dari strategi industri berikutnya. Di saat yang sama, masih ada risiko bahwa investasi produksi DRAM dapat menurun bila perusahaan melihat imbal hasil dari investasi modal AI ikut melemah.
Karena itu, masa depan pasokan DRAM tetap bergantung pada arah belanja industri teknologi dan keberlanjutan investasi produsen. Namun bila kapasitas China benar-benar tumbuh sesuai proyeksi, pasar memori global punya peluang lebih cepat keluar dari tekanan yang selama ini membebani konsumen dan pelaku usaha.
Source: www.notebookcheck.net