pelantar.id – Polisi mengungkap kasus prostitusi online sesama jenis yang ditawarkan lewat akun Instagram. Seorang pria berinisial Zaenal Mustofa alias Kurtubi (30) selaku pengelola akun tersebut sudah ditangkap, Senin (1/10).

Kasat Reskrim Kepolisian Resor Pelabuhan Tanjungpriok, AKP Faruk Rozi mengatakan, Kurtubi diringkus kawasan Pluit, Jakarta Utara.

“Peran tersangka yang diamankan ini sebagai muncikari yang merekrut terapis-terapis gay, kemudian dia tawarkan melalui akun media sosial, kebetulan yang digunakan adalah Instagram,” kata Faruk, Selasa (2/10).

Polisi berhasil mengungkap kasus ini setelah menyamar menjadi salah satu calon konsumen yang hendak memesan terapis. Faruk mengatakan,  sebelum menjadi mucikari, Kurtubi pernah menjadi seorang terapis yang bekerja bagi orang lain. Pengalaman itulah yang mengantarkannya menjadi mucikari prostitusi online.

“Ya awalnya dia ikut orang, tapi lama kelamaan muncullah ide untuk ‘kalau gitu gua jadi muncikari saja deh’. Dia kan sesama terapis sudah saling mengenal tuh, bahwa si A si B bisa dan lain-lain,” kata Faruk.

Faruk menyebutkan, tersangka  telah beroperasi sebagai mucikari sejak 2014. Saat diamankan, ada enam orang yang sudah direkrut dan dijadikan Kurtubi sebagai terapis panggilan.

“Membernya ada enam orang, freelance dia itu ada sekitar enam orang. Dia juga bisa dipakai juga,” ujar Faruk.

Tarif yang dipatok Kurtubi bagi pelanggannya berkisar dari Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta. Selain itu, dia juga diketahui mempunyai panti pijat di bilangan Pluit, Jakarta Utara.

“Jadi, tersangka ini punya tempat pijatnya juga, tapi dia freelance juga. Dia di tempat atau dia juga mengkoordinir yang melalui online,” kata Faruk.

Selain menangkap Kurtubi, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti yaitu uang tunai sebesar Rp1.050.00, sebuah celana dalam pria, 1 botol minyak zaitun, 1 buah vgel, 2 buah telepon genggam, dan sebuah kondom.

Akibat perbuatannya, Kurtubi dijerat Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang 21 Tahun 2017 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara.

Editor : Yuri B Trisna

Sumber : Kompas.com