Banyak game eksklusif Nintendo yang justru mencatat nasib komersial yang jauh lebih kecil daripada reputasinya. Di atas kertas, kualitasnya kuat, ulasannya positif, dan basis penggemarnya jelas, tetapi momentum pasar sering datang di waktu yang kurang tepat.
Masalahnya tidak selalu ada pada isi gamenya. Dalam beberapa kasus, penjualan tertahan karena platform yang terlalu sempit, promosi yang lemah, atau audiens yang tidak cocok dengan arah produk.
Saat kualitas tidak otomatis jadi penjualan
Bayonetta 3 adalah contoh paling jelas dari situasi itu. Game hack-and-slash ini diumumkan untuk Nintendo Switch pada 2017, lalu sempat lama hilang dari perbincangan sebelum muncul lagi pada 2021 dan rilis setahun setelahnya.
Game ini dipuji luas setelah hadir di pasaran. Namun, penjualannya hanya sedikit di atas 1 juta kopi, dan status eksklusif di Switch membuat jangkauan pasarnya tidak sebesar judul multipatform.
Nasib serupa juga dialami Metroid: Samus Returns. Remake Metroid II: Return of Samus ini meluncur di Nintendo 3DS pada 2017 dengan visual yang memukau, gameplay yang cepat, dan tambahan cerita yang terhubung ke seri Metroid lain.
Sambutan untuk game ini terbilang positif. Meski begitu, penjualannya tetap rendah, sampai Nintendo pun tidak pernah mengonfirmasi apakah angka itu menembus 1 juta kopi.
Pasar yang berubah sebelum game sempat tumbuh
Masalah waktu rilis juga terasa pada Mario & Luigi: Bowser’s Inside Story + Bowser Jr.’s Journey. Game ini hadir eksklusif di Nintendo 3DS sebagai remake dari versi original 2009, lengkap dengan visual yang lebih apik dan tambahan cerita yang memberi pemain kesempatan mengendalikan Bowser Jr.
Sayangnya, penjualannya hanya 34 ribu kopi. Salah satu penyebab yang kuat adalah 3DS masih bisa memainkan versi original, sementara Switch sudah lebih dulu tersedia di pasaran ketika remake itu dirilis.
Fire Emblem: Radiant Dawn juga tidak kebal dari persoalan momentum. Game Wii ini melanjutkan cerita dari Path of Radiance dan mendapat banyak ulasan positif, apalagi kehadiran Marth dan Roy di Super Smash Bros. Melee ikut membuat seri Fire Emblem makin dikenal.
Tetap saja, penjualannya kurang dari 500 ribu kopi. Pasarnya tertahan oleh kebiasaan pemain yang lebih suka handheld dibanding konsol rumahan, ditambah promosi Nintendo di pasar Barat yang minim.
Ketika target audiens meleset
MadWorld memperlihatkan masalah yang berbeda. Sega merilis game PlatinumGames ini secara eksklusif di Wii pada 2009, padahal isi dan gayanya justru sangat jauh dari citra Wii yang identik ramah anak.
Game ini menonjol lewat visual hitam-putih, pertarungan cepat, finishing berdarah, dan kontrol berbasis motion. Meski unik dan mencuri perhatian, penjualannya hanya sekitar 123 ribu kopi pada tahun pertama, dan Sega bahkan menyebutnya tidak cocok dengan audiens Wii.
Conker’s Bad Fur Day juga mengalami benturan serupa, meski di platform dan masa yang berbeda. Menjelang akhir masa hidup Nintendo 64, Rare merilis game ini sebagai parodi dari game platformer “normal” buatannya sendiri, tetapi isi gamenya justru dipenuhi kekerasan, humor jorok, bahasa kasar, dan unsur seksual.
Sekarang game ini kerap dianggap brilian dan punya penggemar setia. Saat awal rilis, penjualannya gagal total secara komersial dan hanya mencapai 55 ribu kopi pada tahun pertama.
Eksklusif, terbatas, lalu tenggelam
Satu judul lain yang sering dibahas adalah F-Zero Climax. Game ini menjadi game terakhir di era keemasan seri F-Zero pada 2000-an, dan pujiannya datang dari gameplay cepat, mode Survival yang seru, serta editor lintasan yang lengkap.
Namun, Nintendo hanya merilisnya di Jepang. Banyak orang juga menilai game ini lebih mirip ekspansi daripada sekuel penuh, sehingga kegagalan komersialnya ikut membuat seri F-Zero vakum selama 19 tahun.
Baru pada 2024, F-Zero Climax akhirnya dirilis secara global lewat Nintendo Switch Online. Kehadiran itu sekaligus menegaskan betapa panjang jarak antara pujian kritikus dan keberhasilan pasar untuk beberapa game eksklusif Nintendo.
Source: www.idntimes.com



