pelantar.id – Pemerintah pusat sedang mempersiapkan Pulau Bakung di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau menjadi Pulau Karantina untuk penyortiran sapi impor. Di pulau itu nantinya akan dilakukan pemilahan terhadap sapi-sapi impor yang mengandung virus atau penyakit sebelum didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Tanjungbalai Karimun, Priyadi mengatakan, realisasi pemanfaatan Pulau Bakung di Lingga sebagai Pulau Karantina rencananya akan dimulai tahun 2019.

“Diperkirakan nanti Pulau Ke ini mampu menampung 5000 ekor sapi per satu segmen. Bisa dimasukkan dari negara-negara yang belum bebas penyakit tertentu. Sekarang ini kan impor sapi Indonesia masih bergantung dengan Asutralia, karena mereka bebas penyakit mulut kuku (PMK) dan di Indonesia pun belum ada. Kalau di negara tetangga Malaysia saat ini sudah terdeteksi PMK, sehingga perlu diwanti-wanti. Jika menyebar di Indonesia bisa habis ternak kita, nanti” kata Priyadi di kantornya, Jalan R Oesman, Karimun, Rabu (24/10).

Menurut Priyadi, jika Pulau Karantina sudah terealisasi, nantinya pemerintah akan dapat mengimpor hewan ternak khusus sapi asal Canada, Meksico, India atau negara yang nota bene telah tertular penyakit hewan. Nantinya akan dilakukan sistem kompartemen, sehingga tidak semua hewan dikategorikan tertular dan akan disortir.

Baca Juga :   Para Ahli: Minum Kopi Sebelum Sarapan Berbahaya, Berikut Alasannya

Priyadi mengatakan, ada derah-daerah tertentu di beberapa negara dinyatakan bebas penyakit, dan nanti akan dipasok hewan ternak dari daerah yang tak tertular. Lalu didrop ke Pulau Karantina yang sebelumnya akan dilakukan observasi dalam beberapa waktu lamanya.

Jika sudah dipastikan tidak ada penyakit melalui iji lab, maka akan diteruskan pengembangan ternak yang didatangkan nantinya.

“Rencananya Pulau Karantina ini memang khusus sapi dan ruang lingkupnya nasional. Karena nanti akan mencukupi untuk kebutuhan nasional, yang kebetulan lokasinya di Provinsi Kepri,” katanya.

“Pulau ini akan dikonsep terisolir, agar kalau timbul penyakit gampang ditangani dan tidak menyebar kemana-mana, manusia juga aman. Kalau ada hewan terkena antraks, ya langsung dimusnahkan saja tidak sampai menyebar kemana-mana,” sambung Priyadi.

Baca Juga :   Proyek Pasar Modern Tanjungbatu Mulai Dikerjakan

Baca Juga : 

Karantina Karimun Bakar 600 Kilogram Barang Tegahan, Pemiliknya Tak Diketahui

Sebelumnya, lanjut Priyadi, pemerintah pusat telah menetapkan Pulau Karantina di Pulau Ngaduk, Provinsi Bangka Belitung. Hanya saja tidak memenuhi klasifikasi saat dilakukan kajian.

Kondisi pulaunya ternyata terkena dampak banjir rob atau air laut naik saat pasang tinggi. Belum lagi banyak hewan buas seperti buaya. Lalu saat surut air lautnya dangkal dan berdampak kepada kandasnya kapal-kapal besar. Sehingga batal ditetapkan sebagai pulau karantina.

“Sudah sempat dilakukan kajian oleh tim ahli dari Universitas Gajahmada (UGM). Tapi hasilnya seperti itu. Kalau yang di Pulau Bakung, Kabupaten Lingga, kami sudah diundang rapat pada Juli lalu di Tanjungpinang. Dihadiri seluruh instansi terkait. Dan dipastikan Kepri menjadi satu-satunya Pulau Karantina di Indonesia,” pungkasnya.

 

Reporter : Abdul Gani
Editor : Yuri B Trisna

Foto: Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Tanjungbalai Karimun, Priyadi. (PELANTAR/Abdul Gani)