Penulis: H.M Chaniago

Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita PunyaDea Anugrah

Pelantar.id – Kita tiba di tepi pantai Nongsa petang itu, langit sore tak menyemburkan kemurungan seperti hari-hari yang kuhadapi saat ini. Saat itu langit terlihat indah, bahkan perjalan jauh kita di antara panas dan debunya aspal kota Batam tak terlalu menjadi polemik untuk dipikirkan.

Di Nongsa, seperti menuju arah Pantai Nuvasa Bay udaranya cukup sejuk. Kiri-kanan pohon rindang tinggi menjulang, meski kau tampak kecewa ketika kita ingin masuk ke area Pantai Nuvasa mengamati matahari terbenam tidak diizinkan sekuriti kawasan.

Aku sebenarnya lupa kalau kawasan itu hanya buka hingga larut malam saat akhir pekan, sementara hari biasa hanya sampai pukul 05:00 Wib sore hari. Melihat wajahmu yang kecewa, aku kembali datangi sekuriti, memohon izin dan pura-pura bertanya akan seseorang pengelola kawasan yang aku kenal. Trik itu tidak berhasil, aku minta maaf.

Aku pun mencari solusi lain, agar kau yang jauh datang dari seberang menuju kota industri yang panas ini tidak kecewa. Saat itu kita memang seperti remaja kasmaran yang sedang ingin menikmati indahnya lembayung senja hari. Walau sebenarnya takdir hari itu kembawa kita pada senjakala cerita kita masing-masing.

Sepeda motor tuaku beberapa hari itu merasa hangat karena ada sosok perempuan duduk di jok belakangnya yang keras seperti sifatku, aku paham jok itu cukup membuat pantat keram jika berlama-lama diduduki, namun kini motor telah melaju ke area lainnya. Menuju pinggir pantai nelayan setempat, namanya Kampung Tua Nongsa.

Kampung Tua Nongsa, sekian dari beberapa Kampung Tua di Batam yang belakangan ini mendadak hangat dalam pemberitaan media massa lokal. Beberapa Kampung Tua ada yang disebutkan bukanlah Kampung Tua sehingga menimbulkan sangketa, seperti di sebuah kawasan di Kecamatan Bengkong.

Di tepi Pantai Nongsa, langit masih tampak cerah. Di seberangnya Pulau Putri berada, saat itu belum ada muncul pemikiran untuk membawamu menyeberang ke sana. Kita masih duduk di pinggir pantai, sembari aku pergi membeli sebotol air mineral di warung warga setempat.

Tiba-tiba ibu pemilik warung itu menawarkan kita untuk menyeberang, kita yang masih terdiam karena suasana yang cukup kaku, perlahan menoleh. Aku bertanya, berapa harga yang harus dibayar untuk menyeberang ke Pulau Putri menggunakan perahu nelayan.

“50 ribu untuk dua orang, diantar, ditinggal, lalu nanti dijemput kembali,” ujar Ibu tersebut menawarkan perahu layaknya marketing handal.

Seketika, aku tanyakan kepadamu. Kau tersenyum dan mengangguk setuju, ada pancaran raut kebahagiaan di wajahmu seketika. Sementara aku hanya masih menyamarkan perasaan, akan suatu hal yang kelak aku sendiri pahami, dan mungkin kau juga pahami.

Baca Juga :   Konsolidasi Kepemimpinan Polri dan Makna Reformasi Polri Terhadap Nawacita (1)

Ibu warung yang lupa aku tanyakan namanya itu menelfon seorang nelayan untuk menjemput kita dan menghantarkan ke seberang. Kau tahu, itu lah pertama kalinya aku menyeberang ke Pulau Putri, dan itu bersamamu. Selama ini aku hanya mengenal Pulau Putri dari pemberitaan media lokal.

Pulau Putri, orang-orang kadang menyebutnya si cantik yang penuh misteri. Aku belum paham kenapa orang menamakannya dengan itu, tapi perihal misteri kita sama-sama memahami bahwa hidup ini juga merupakan rangkaian demi rangkaian misteri.

Perahu nelayan telah datang menepi, sementara metahari tampak semakin indah menyemburkan lembayung senjanya. Cahayanya yang menerpa wajahmu membuat aku dirundung muram yang dalam. Misteri esok hari membuat aku begitu sangat melankoli, kau pun pasti memahami.

Kini kita telah berada di atas perahu nelayan, seorang pria muda berkulit legam namun cukup bersahabat menjadi juru kemudi perahu. Sembari kau menatap jauh lautan, aku coba ajak sang juru kemudi berbincang sederhana. Perihal kehidupan sehari-harinya, berapa orang yang kadang dia antarkan menyeberang setiap harinya.

Aku salut dengan orang-orang ini, terlihat rayuan gemerlap Batam tak terlalu berpengaruh akan hidupnya. Di usia muda dia menikmati hidup sederhananya, dan ya perihal bahagia atau tidak aku pikir itulah kehidupan. Bahagia dan kesedihan silih berganti berdatangan.

Jarak sekitar 1 kilometer perjalanan laut telah kita lalui, perlahan perahu nelayan yang biasa disebut pompong oleh warga sekitar telah merapat menuju bibir dermaga. Dua orang pria terlihat berdiri di pinggirnya, menyambut kedatangan kita. Bibir dermaga saat itu memang terlihat licin dan berlumut, pria itu membantumu agar tak terjatuh.

Sepasang kaki kita kini telah menginjak Pulau Putri. Pulau terluar yang berada persis di sekitar Selat Singapura dan cukup dekat ke negeri tetangga. Pulau ini merupakan bagian dari wilayah Kepulauan Riau dan sebelumnya dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Jarak pulau ini hanya sekitaran 13 kilometer menuju Singapura. Saat ini pemerintah melalui Kementerian PUPR tengah melanjutkan proyek reklamasi pulau. Walikota Batam, M Rudi pernah mengatakan bahwa ada pembangunan batu penahan dan pemecah ombak agar kawasan pantai terjaga dari air pasang dan juga dari sampah-sampah yang berserakan.

Pada dasarnya itu memang penting agar pelancong tetap merasakan kenyamanan saat berwisata, pun juga proses perbaikan dermaga juga sedang dilaksanakan. Pulau ini memang didesain untuk menjadi kawasan wisata.

Di dermaga kita berjalan pelan, kekakuan masih menghinggapi. Namun tidak dengan Pulau Putri, orang-orang terlihat bahagia di hadapan kita. Saat itu pukul 17:30 Wib, orang-orang ada yang bermain sepeda, ada yang duduk di sekitar monumen bertuliskan angka-angka yang menyusun ejaan Pulau Putri.

Baca Juga :   Bertumbuh di Sela Bebatuan di Tengah Minimnya Atensi akan Literasi

Angin lautnya cukup sejuk menerpa wajah kita, sembari berjalan kau terlihat menatap arah sinar matahari yang mulai tenggelam. Kita pun duduk di tepian pembatasan pantai yang terbuat dari batu dan semen, sembari kau berseru “Ini indah” katamu. Aku coba untuk tersenyum dan turun menuju pantai yang lautnya saat itu sedang surut.

Kau pun memotretku secara diam-diam, lalu ikut turun menuju pantai. Aku pikir tak ada salahnya juga untuk ikut mengabadikan potretmu di pulau terluar ini. Bukankah selembar foto akan menyimpan ribuan kisah dan makna di dalamnya.

Tak ada salahnya juga pikirku, dan mulai mengambil potretmu sebanyai mungkin. Sementara orang lain di sekitar kita juga melakukan hal yang sama mengambil momen yang kelak akan abadi jika kita ingin mengenangnya.

Kini perlahan hari semakin gelap, orang-orang telah mulai kembali menyeberang. Keinginan kita untuk lebih jauh berjalan menuju kawasan bercetakan tulisan atau tugu Wonderful Indonesia akhirnya urung. Kita pun kembali berjalan menuju dermaganya, sementara malam semakin temaram di atas menara suarnya yang berdiri kokoh.

Oh iya, aku lupa saat itu mengatakan kalau Pulau Putri ini katanya akan didesain menyerupai naga. Aku sendiri tidak paham benar kenapa mereka menyandingkan Putri dan Naga, hanya saja bagiku ini semakin mempertebal misterinya.

Kini kita telah di dermaga dengan keheningan yang semakin pekat serupa gelapnya malam. Walau begitu di seberang sana sejauh mata kita memandang kerlip lampu kota negeri tetangga cukup sangat menggoda. Kita pun larut dalam pertanyaan, di area jarum jam 2, apakah kerlip lampu kota Malayasia atau Singapura atau masih bagian dari Batam.

Belakangan ini aku mengetahuinya, itu adalah rona malam dari Malaysia, karena untuk Singapura telah bisa kita tebak dengan mudah, persis berada di arah jarum jam pukul 11 kalau kita berdiri dari dermaga kedatangan.

Itulah malam terakhir aku tersenyum ketika kita berdebat tentang kerlip lampu kota di sebarang. Apakah Singapura, Malaysia atau masih Batam. Sementara saat itu aku hanya menjawab “antah berantah”, lalu esok paginya, aku melepas kepergian, sementara kau melangkah menuju pertualangan barumu. Dan kini sesekali aku merasakan rindu, walau memahami ada perpisahan yang tak mungkin bisa kita hindari.

“Kau tahu, Bo, kau bukan tokoh dalam tragedi. Begitu juga aku. Kita hanyalah penulis dan urusan kita hanyalah menulis,” ujar Hemingway dalam suratnya kepada Scott Fitzgerald, seperti yang dituliskan Dea Anugrah dalam bunga rampai non-fiksi pertamanya berjudul “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya”.

Aku pun membantin dan mengamininya, “Hidup ini memang begitu indah, meski kenangan buruk menghantuinya,” ujarku saat menutup tulisan memorabilia ini.