Sejumlah pengawak KRI Diponegoro 365 memanfaatkan sinyal Telkomsel yang terpancar dari Pulau Buru. PELANTAR/Joko Sulistyo

Revolusi industri membawa angin kuat yang mengubah wajah peradaban. Fenomena klasik tumbuh kembang peradaban yang semula menumpang pada jalur transportasi, perlahan bergeser, sejak piranti komunikasi jarak jauh ditemukan.

Migrasi manusia sejak masa prasejarah, jalur perdagangan sutera, temuan mesin uap dan pembangunan jalur keretaapi transkontinental tahun 1826-1896 di Amerika Serikat mengubah tatanan sosial masyarakat barat kala itu.

Sebangun, di Indonesia, jalur perdagangan lama disempurnakan oleh Herman Willem Daendels dengan proyek jalan pos Anyer-Panarukan. Harga mahal harus dinayar para pionir untuk membuat nusantara tersambung dan saling berhubungan.

Peran sarana transportasi itu perlahan tergantikan oleh komunikasi. Sejak penemuan teknologi selular, gambar paling nyata dari pergeseran fenomena itu terlukis di daerah pesisir.

Mengulas layanan telekomunikasi, sulit untuk mengesampingkan bahasan tentang Telkomsel. Saat ini, pulau tak sekedar titik kecil dalam peta yang kerap dijadikan pelaut untuk berteduh menghindari ganasnya ombak. Pulau-pulau kecil juga menjadi asa bagi mereka. Bahkan, perkembangan suatu wilayah saat ini sangat dipengaruhi jaringan layanan telekomunikasi.

Kini, sebuah pulau terpencil yang dahulu menjadi momok karena menjadi tempat pembuangan, saat ini adalah titik yang cukup dinanti, dan memiliki alasan cukup bagi kapal-kapal memperlambat putaran mesinnya.

Malam belum terlalu larut, namun kegelapan menutup sempurna dinding-dinding bagian luar KRI DIponegoro-365 yang memang berwarna kelabu. Lonceng dari anjungan kapal telah dipukul delapan kali, berdentang memancar ke seluruh ruangan kapal melalui sistem pengeras suara. Lonceng penanda waktu berakhirnya jam kerja sekaligus dimulainya jam istirahat pada hari Sabtu dan Minggu dibunyikan pada pukul 20.00. Dentang terakhir lonceng itu diikuti dengan imbauan untuk tenang dan mengurangi penggunaan lampu-lampu ruangan.

Deru mesin bergelut dengan deburan ombak terdengar memenuhi quarterdeck, atau bagian paling belakang dari KRI Diponegoro. Awan hitam bergelayut, menghalangi kerlip bintang-bintang pada galaksi Bimasakti yang biasanya terlihat pada saat cuaca cerah. Satu persatu prajurit pengawak KRI keluar dari pintu kedap atau citadel, kemudian duduk dan berdiri menyebar di buritan kapal.

Kopi tubruk berwarna pekat dinikmati bersama dari cangkir berlogo jangkar oleh mereka yang duduk bergerombol melingkari meja buatan tangan dari kayu bekas kotak amunisi. Tangan-tangan para prajurit itu tampak memainkan layar ponsel pintar.

“Telkolmsel on, Telkomsel on mas,” seseorang berseru dari kegelapan memberi informasi.

Saat KRI Diponegoro melintasi Perairan tepat di sebelah Timur Pulau Buru, gelapnya pemukiman di tepian pantai pulau bekas pembuangan tahanan politik pada masa penjajahan itu mengirimkan pancaran sinyal seluler.

Informasi kapal mendapatkan sinyal seperti biasanya cepat menyebar saat kapal dalam pelayaran. Dalam sekejap, area-area terbuka seperti wing bridge di kanan dan kiri anjungan kapal, geladak helikopter dan sektor buritan akan segera ramai, meskipun kapal dalam keadaan gelap gulita.

Kendati tidak stabil dan hanya melayani jaringan EDGE, namun bar penanda sinyal yang naik turun di sudut layar gawai digital itu betul-betul merupakan oase bagi para personil yang berada di KRI. Bermacam nada penanda masuknya pesan melalui jejaring sosial, mengembalikan manusia-manusia modern ke habitatnya, jaman peradaban, saling terkoneksi.

Di salah satu sudur quarterdeck, Sersan Kepala SAA (Senjata Atas Air) Giatna tercenung menatap layar ponsel pintarnya. Hari ketiga pelayaran ke arah Timur Indonesia membuat prajurit Komando Pasukan Katak ini mengalami putus kontak dengan keluarganya yang berada di Surabaya. Ayah tiga anak itu terus berupaya menekan nomor pada buku kontak di layar ponselnya, dan mencoba lagi, setelah beberapa kali gagal.

“Saya punya anak remaja, suka was-was, ini mau telepon ke istri tidak terangkat,” ujar Giatna.

Mengabdikan diri sejak jenjang tamtama 24 tahun silam, membuat pria empatpuluh tiga tahun itu kenyang pengalaman berjauhan dengan keluarga. Saat ini, pelatih tim Visit Board Search and Seizure (VBSS) KRI Diponegoro ini harus meninggalkan keluarga selama 3 bulan untuk menjalani misi latihan di Pearl Harbor, Hawaii, Amerika Serikat.

“Tugas jauh (dari keluarga) tidak masalah, yang penting bisa komunikasi,” ujarnya ketika ditanya perasaannya berjauhan dengan keluarga.

Sebagai bagian dari pasukan Kopaska, penugasan Giatna lebih banyak di daerah daratan, terutama daerah konflik. Dalam kondisi apapun, komunikasi dengan keluarga dan Ibunya yang tinggal di Gunung Kidul, Yogyakarta kerap menjadi prioritas utama saat kesempatan memungkinkan. Kondisi nyaris serupa dialami di lautan.

Baca Juga :   Boomerang Ala Instagram Akan Disematkan di WhatsApp

“Ya begini, tadi begitu dibilang Telkomsel ada sinyal langsung menghubungi istri, tapi sayangnya tidak nyambung, mungkin sudah tidur,” kelakarnya.

Harapan pertamanya ketika dapat sinyal adalah mengetahui kabar keluarga di rumah. Kendala utama kita memberikan kabar tidak sampai, atau tertunda, akhirnya komunikasi tidak lancar, sering menjadi kesalahpahaman, karena istrinya sering menduga sinyal lancar seperti di darat.

“Mereka tidak tahu kalau sinyal di laut datang sesekali,” gurau Giatna.

Sedikit mujur, istrinya sudah terbiasa menghadapi situasi putus kontak saat Giatna pergi bertugas.

“Nanti kalau komunikasi sudah normal, salah paham pasti teratasi. Istri prajurit, sudah biasa begitu,” tukasnya.

Sinyal seluler merupakan hal vital bagi prajurit yang bertugas dan meninggalkan keluarga. Sebelum banyak pengguna ponsel, warung telekomunikasi di daerah konflik sering diserbu para prajurit saat akhir pekan.

Sangking panjangnya antrian, Giatna kerap gigit jari karena mendapat giliran tengah malam untuk menelepon.

“Kemaleman mas, yang nungguin sudah terlanjur tidur,” celetuknya.

Awal tahun 2000an, saat ponsel sudah mulai banyak digunakan masyarakat, antrian wartel di daerah penugasan TNI mulai berangsur surut, meskipun tidak seluruhnya. Kendati harus berhutang untuk membeli ponsel yang masih terbilang mahal dan belum terjangkau dengan gaji prajurit TNI kala itu.

“Kadang satu ponsel dipakai bersama rekan satu kompi,” kata Giatna berkelakar.

Seorang pengawak KRI Sultan Hasanuddin 366 mengirimkan pesan dengan ponselnya saat kapal mendapatkan sinyal Telkomsel di Selat Karimata. PELANTAR/Joko Sulistyo

Sekalipun banyak personil yang membawa ponsel saat penugasan, minimnya pemancar sinyal pada saat itu membuat tidak setiap waktu gawai itu dapat digunakan. Lokasi yang memiliki penerimaan sinyal terbaik biasanya akan dipadati oleh prajurit pada waktu luang.

“Di Aceh Utara, awal tahun duaribuan, di markas operasi area sinyal terbaik ada pohonnya, nah itu pasti penuh orang memanjat,” kenang Giatna.

Saking penuhnya, entah siapa yang memulai saat itu muncul inovasi SMS kerek di kalangan prajurit yang bermarkas di lokasi itu. “Jadi HP diikat, terus dikerek ke pohon, nanti kalau bunyi SMS masuk, diturunkan, dibalas, dikerek naik lagi biar terkirim,” ujarnya geli.

“Sayangnya belum model HP kamera, kalau sudah seperti saat ini, pasti banyak yang usil motret pohon manusia sama SMS kerek itu,” imbuhnya.

Apabila dibandingkan dengan era SMS kerek, masih menurut Giatna, komunikasi jauh lebih mudah. Fasilitas pengiriman pesan berbasis data seperti Line, WhatsApp, Telegram dan lainnya memberikan banyak pilihan kemudahan bagi prajurit untuk berkomunikasi. Dia menyebut, layanan Telkomsel yang dia gunakan cukup reliable mendukung urusan pribadi dengan keluarganya. Sejauh ini, hanya provider tersebut yang mampu menjadi solusi komunikasi di daerah penugasan.

“Untung Telkomsel ada sampai pelosok mas, lihat kiriman foto atau video polah anak-anak membuat tugas sehari-hari di medan tugas menjadi lebih ringan, karena hati gembira,” katanya.

Kapal bergerak ke arah Timur dengan kecepatan 17 knots membelah lautan. Jajaran perbukitan di Pulau Buru bergerak pelan berlawanan dengan arah kapal. Quarterdeck kemudian menjadi lebih ramai, hampir semua tempat yang dapat dipakai duduk telah terisi. Tangan-tangan beradu cepat mengetuk layar gawai, sebelum sinyal kembali hilang.

Sepanjang pelayaran dari Surabaya menuju Jayapura, kapal hanya mendapatkan sinyal ketika melintas di dekat daratan. Durasi sinyal bervariasi, mulai hitungan menit hingga satu atau dua jam.

“Lumayan, satu atau dua pesan sempat terkirim lewat WhatsApp,” ujar Giatna.

Sebagai anggota pasukan tempur berkualifikasi khusus, Giatna yang kenyang dengan pengalaman lapangan merasa komunikasi dengan keluarga sangat berarti. Menurut pengakuannya, sinyal adalah satu-satunya hiburan saat berada dalam tugas berat.

“Tidak banyak yang dibutuhkan, dengan mengetahui keluarga baik-baik saja, konsentrasi dan moral tempur jadi meningkat,” tuturnya serius.

Seorang pengawak KRI Sultan Hasanuddin 366 menelepon keluarganya saat kapal mendapatkan sinyal Telkomsel di perairan Selat Karimata. PELANTAR/Joko Sulistyo

Berbeda dengan Giatna, seorang pengawak KRI berpangkat perwira menyebut generasinya lebih tergantung dengan gawai daripada pendahulunya. Perwira yang minta namanya tidak dituliskan ini menyebut, personil TNI yang berusia muda tidak dapat lepas dari sinyal.

“Itu terjadi di mana-mana, bahkan saat misi internasional,” tuturnya.

Saat mengemban misi Pasukan Perdamaian di Lebanon misalnya, anggota Batalyon Indonesia yang lepas dinas lebih banyak menghabiskan waktu di markas atau di tempat yang tersedia fasilitas wi-fi.

“Kalau tidak ya pada beli kartu, kebetulan kalau di Lebanon cukup terjangkau harganya,” ujar perwira itu.

Baca Juga :   Tembus 100 Juta Penonton, Apa Istimewanya Klip 'How You Like That' dari Blackpink?

Aplikasi chatting dengan webcam maupun panggilan video sangat populer di kalangan personil TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian di Lebanon. Untuk menikmati internet tanpa batas, seluruh anggota dikenakan iuran sebesar 30 Dollar Amerika tiap bulannya.

Jumlah yang cukup besar, namun bukan masalah bagi para prajurit demi terus menjaga hubungan dengan keluarganya. Prajurit non perwira seperti Giatna misalnya, menganggap kendala terbesar justru terjadi karena perbedaan zona waktu yang mencapai 5 jam.

“Jadi kalau libur, keluarga kumpul, kita pakai webcam ngobrol. Itu sudah luar biasa banget rasanya,” ujarnya.

Wajar jika kemudian para prajurit seperti Giatna berharap TNI memiliki fasilitas komunikasi yang dapat digunakan untuk komunikasi dengan keluarga namun tetap aman bagi pergerakan pasukan.


“Sebagai prajurit, tugas kemanapun saya siap, tapi sebagai seorang ayah, saya tetap tidak dapat melupakan keluarga begitu saja saat bertugas. Apalagi dalam Rimpac ini, ramadan dan Idul Fitri tidak bersama keluarga, kalau tidak bisa komunikasi, berat sekali rasanya,” imbuhnya.

Selama tiga bulan, Giatna dan 140 lebih prajurit TNI AL akan mengikuti Rimpac di Amerika Serikat. Sebagian besar dari mereka ada yang menggunakan fasilitas roaming, ada pula yang berencana membeli kartu SIM sesampai di Amerika.

“Minimal kalau di daratan ya Wi-Fi lah,” timpal seorang prajurit lain yang berada di quarterdeck.

KRI Diponegoro terus bergerak ke Timur, melalui Raja Ampat, kemudian mengarah ke Pelabuhan Jayapura. Para prajurit pengawal samudera itu tidak sabar untuk segera bersandar dan menelepon keluarganya, setelah hampir sepekan berlayar.

“Memperbaiki salah paham sama istri mas,” gurau Giatna.

Patroli Mengapung, Menjaring Sinyal

KRI mengemban berbagai misi, baik perang maupun non perang. Dalam berbagai penugasan itu, satu istilah yang paling ditunggu oleh para personil pengawak adalah patroli mengapung. Istilah itu mungkin bukanlah prosedur operasi tetap, namun kebanyakan pengawak akan sedikit bergembira jika kapal melambat, atau mengapung labuh jangkar di perairan.

Sejak wilayah barat di Pulau Rondo, sekira 5 mil laut dari Pulau Sabang, hingga perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini di sebelah timur Papua, lego jangkar mendekati pulau biasa dilakukan dengan mempertimbangkan faktor sinyal.

Awak KRI Sultan Hasanuddin 366 menggunakan ponselnya untuk menghubungi keluarga saat kapal melintasi Selat Galasa di sekitar Pulau Bangka. PELANTAR/Joko Sulistyo

Pemandangan berbeda terlihat di seluruh dek terbuka saat kapal mendapatkan sinyal. Tak jarang, komandan kapal memerintahkan perwira navigasi secara khusus untuk mencari titik yang terjangkau pancaran BTS memadai. Bahkan sangking kerapnya mereka menjaring sinyal, para pengawak hafal tiap-tiap pulau yang memiliki jaringan.

Sersan Mayor Sudjito misalnya. Dari penugasannya selama lebih dua dekade di KRI, dia nyaris tidak pernah salah menyebut, jenis provider yang memancarkan sinyal di sebuah pulau.

“Yang penting pakai Telkomsel mas, meskipun kedip-kedip, sering ada sinyal daripada blank,” ujarnya.

Sudjito yang sudah memasuki persiapan masa pensiun itu dapat menggambarkan dengan rinci, perkembangan tiap pulau yang biasa digunakan untuk mengapung menjaring sinyal. Menurut pemahamannya, sebuah pulau yang memiliki sinyal biasanya lebih berkembang secara ekonomi.

“Kuncinya, kalau pas ngapung dapat 3G atau 4G, nah, itu daratannya biasanya sudah berkembang. Istilahnya kita mau merapat itu bisa belanja kebutuhan pribadi lah,” katanya.

Kendati begitu, Sudjito kerap dibuat kaget oleh perkembangan satu pulau, meskipun rentang penugasan satu dengan berikutnya hanya hitungan bulan. Menurut dia, sinyal yang didapat bisa jadi jauh berbeda hanya dalam hitungan bulan.

Seperti saat penugasan patroli di wilayah timur pada tahun 2015 misalnya. Sudjito merasa heran saat mendapati sinyal jaringan Long Term Evolution (LTE) saat kapal berada 6 mil laut dari daratan Jayapura. Pasalnya, beberapa bulan sebelumnya, pada titik itu ponsel yang sama yang digunakannya hanya memperoleh sinyal EDGE.

“Cepat mas, ini orang bikin towernya kapan, kok bisa beda cuma hitungan bulan gitu sinyalnya beda jauh,” akunya.

Sudjito dan Giatna adalah penyaksi cepatnya peradaban berkembang berkat teknologi. Keduanya mungkin adalah sedikit dari jutaan penyaksi lain, saat sinyal Telkomsel menjadi benang yang memintal nusantara menjadi tenun NKRI.

Telkomsel dalam rilis di laman resminya menyebut, hingga tahun 2018 sebanyak 167 ribu Base Transmision System (BTS) telah terpasang hingga ke pelosok nusantara. Tak kurang dari 70 persen BTS yang terpasang mendukung jaringan 3G dan 4G.

Penulis : Joko Sulistyo