pelantar.id – Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat, ada 114 anak di daerah itu yang kini terserang penyakit rubella atau campak Jerman. Perkiraannya, di setiap rukun warga (RW) terdapat dua atau tiga anak yang terkena.

“Kalau jumlah yang dilaporkan ada 114 anak, tapi kami yakin angkanya masih lebih besar lagi karena banyak orangtua yang enggan melapor,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjejep Yudiana di Tanjungpinang, Rabu (3/10).

Ratusan anak yang terkena rubella itu tersebar di semua daerah kabupaten dan kota se-Kepri. Masalahnya, tidak semua orangtua ingin melaporkan anak mereka yang terserang rubella, karena malu jika sampai terpublikasi.

“Saat rapat kami dengan Kabid penanggulangan penyakit di Tanjungpinang, tiap satu RW itu, rata-rata dua sampai tiga anak terkena rubella. Tapi orangtuanya enggan melapor ke dinkes karena mereka tak mau anaknya sampai terpublikasi terkena rubella,” ujarnya, dikutip kepriprov.go.id.

Baca Juga : Fatwa MUI: Vaksin MR Haram tapi Boleh Digunakan

Tjejep mengatakan jumlah anak yang terkena rubella paling banyak ditemukan di Kota Batam. Namun, ia belum mengetahui jumlah pastinya. Menurut dia, penderita diketahui terkena rubella setelah memeriksakan ke rumah sakit.

“Sementara yang sudah terlanjur kandunganya keguguran, terlanjur cacat, itu tak diperiksakan oleh orangtuanya. Contoh faktanya adalah siswa di SLB (sekolah luar biasa,” kata dia.

Pemberian imunisasi MR di Kabupaten Karimun, beberapa waktu lalu.
Foto: PELANTAR/Abdul Gani

Imunisasi MR Diperpanjang

Baca Juga :   Berikut Kepastian Tarif untuk Rapid Antigen-Swab di Indonesia

Tjejep mengatakan, pihaknya memperpanjang pemberian imunisasi measles dan rubella (MR) di Provinsi Kepri hingga 31 Oktober 2018. Perpanjangan ini dikarenakan belum tercapainya target realisasi imunisasi MR di semua daerah di Kepri. Sebelumnya, pemberian imunisasi MR di Kepri ditargetkan mencapai 60 persen pada September 2018, tapi kenyataannya baru sekitar 30 persen.

Tjejep mengatakan, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Kepri agar mau mengimunisasi MR anaknya, pihaknya terus gencar menggelar pertemuan dengan tokoh masyarakat, kepala sekolah, Majelis Ulama Indonesia, tokoh agama, dan elemen masyarakat lainnya.

“Kendala terbesar dalam pelaksanaan imunisasi MR ini adalah, masyarakat sudah terlanjur menerima opini bahwa pemberian imunisasi atau vaksin MR ke anak hukumnya haram. Menjelaskan masalah ini butuh waktu dan kerja keras,” katanya.

Karena itu, Tjejep berharap masyarakat dan lembaga lainnya ikut membantu dan mendukung sosialisasi tentang pentingnya imunisasi MR ini.

“Tanpa dukungan yang kuat dari seluruh masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, MUI dan pimpinan daerah, mustahil target imunisasi di Kepri bisa dicapai,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini di Kepri ada enam SLB, termasuk di Kota Batam dengan jumlah murid mencapai 2.000 lebih. Di setiap SLB, sebagian anak dipastikan cacat karena terkena rubella.

“Jika kurang yakin dengan ganasnya virus rubella yang menjangkiti anak-anak di Kepri, saya sarankan masyarakat datanglah ke SLB. Setiap anak yang terjangkit virus rubella, dampaknya dapat menimbulkan kebutaan, bisu, tuli, perkembangan tubuhnya tak normal atau cebol hingga ke kematian,” ujarnya.

Baca Juga :   Kemenpar Gelar Seminar Destinasi Digital Crossborder di Batam

Baca Juga : Vaksin MR yang Bikin Bingung Masyarakat

Tjejep mengatakan, jadwal pemberian imunisasi MR di tiap posyandu dilakukan sebulan sekali. Sementara untuk di puskesmas se-Kepri dilakukan tiap seminggu sekali dan semua diberikan gratis. Sedangkan di rumah sakit bisa dilakukan tiap hari, namun dikenakan biaya jasa penanganan dokter.

“Mengapa di puskesmas dilakukan seminggu sekali? Sebab yang datang ke puskesmas untuk imunisasi jumlahnya sedikit sekali. Kalau tiap hari hanya ada tiga atau empat orang saja yang mau imunisasi MR, itu sangat mubazir sekali. Karena satu ampul vaksin MR itu harus dipakai untuk delapan anak dan sekali dibuka, apabila masih tersisa, harus segera dibuang, tak boleh lagi disimpan atau digunakan lagi ke anak lainnya,” katanya.

Tentang Rubella
Rubella atau campak Jerman adalah penyakit menular atau infeksi virus yang disebabkan virus rubella. Gejala rubella yang paling utama adalah ruam merah berbentuk bintik-bintik. Umumnya, rubella sering terjadi pada anak yang belum mendapat vaksin campak, gondok, dan rubella. Meski demikian, belum banyak masyarakat mengenal apa itu rubella.

Rubella atau campak Jerman berbeda dengan cacar air walaupun dua penyakit ini sama-sama menyebabkan ruam merah. Rubella disebabkan virus yang berbeda dengan cacar air, dan rubella tidak terlalu menular dan serius seperti cacar air.

Baca Juga :   Peringkat Kemiskinan Kepri Terendah di Sumatera, Aceh Paling Tinggi

Tjejep menegaskan, semua orang berisiko terkena rubella. Rubella pada anak dan dewasa membaik dengan cepat, tidak bahaya, dan jarang menyebabkan komplikasi. Namun, rubella sangat berbahaya jika terjadi pada wanita hamil, khususnya jika terinveksi selama 4 bulan pertama kehamilan. Bayi berisiko mengalami kecacatan atau bahkan lahir mati.

Penularan utama dari penyakit ini dapat melalui butiran liur di udara yang dikeluarkan penderita melalui batuk atau bersin. Berbagai makanan dan minuman dalam piring atau gelas yang sama dengan penderita juga dapat menularkan rubella. Sama halnya jika kita menyentuh mata, hidung, atau mulut anda setelah memegang benda yang terkontaminasi virus rubella.

Gejala rubella yang sering terjadi di antaranya, ruam kulit pada kepala menyebar ke tubuh, selama 2-3 hari, sakit kepala, demam ringan, hidung tersumbat atau ingusan, kelenjar getah bening leher dan belakang telinga membengkak.

Sedangkan gejala pada orang dewasa biasnaya disertai gejala tambahan seperti, hilang napsu makan, konjungtivitis (infeksi kelopak mata dan bola mata), sendi bengkak dan nyeri, pada wanita usia muda, dan gejala ini biasanya hilang dalam beberapa hari namun dapat lebih lama.

Menurut Tjejep, rubella tidak membutuhkan penanganan medis khusus. Pengobatan ini dapat dilakukan di rumah dengan mudah. Salah satunya adalah dengan beristirahat sebanyak mungkin dan minum air putih yang banyak untuk mencegah dehidrasi. Dapat juga dilakukan dengan minum air hangat dan mencampurkan madu serta lemon untuk meredakan sakit tenggorokan dan hidung yang tersumbat.

 

Editor : Yuri B Trisna