Pelantar.id – Selain viral dengan istilah ‘unicorn’ putaran debat capres putaran kedua juga melirik pembahasaan industri 4.0. Dalam debat tersebut capres no urut 2 tampaknya juga kurang familiar dengan istilah tersebut.

Sama halnya dengan unicorn, penggunaan istilah Industri 4.0 marak digunakan pemerintah untuk menyebut perkembangan atau revolusi industri masa kini. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Industri 4.0 ini?

Industri 4.0 merupakan tahapan dalam perkembangan industri di dunia. Dikutip dari liputan6. com, Menteri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan tahapan revolusi industri lebih lanjut yang dimulai dari revolusi industri pertama.

Revolusi Industri 1

Erlangga menjelaskan, fase ini berlangsung pada abad ke-18 ditandai dengan penemuan mesin uap untuk upaya peningkatkan produktivitas yang bernilai tambah tinggi. Misalnya di Inggris, saat itu, perusahaan tenun menggunakan mesin uap untuk menghasilkan produk tekstil.

Revolusi Industri 2

Pada revolusi industri ke-2 di era 1900-an, ditandai dengan penemuan tenaga listrik. Pada fase ini, beberapa industri di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signfikan, seperti sektor agro dan pertambangan.

Baca Juga :   Singapura Pertimbangkan Pembukaan Wisata ke Bintan dan Batam

Revolusi Industri 3.0

Di era revolusi industri ke-3, saat otomatisasi dilakukan pada 1970 atau 1990-an hingga saat ini karena sebagian masih berjalan.

“Jadi pada saat memasuki revolusi industri ketiga, memang penyerapan tenaga kerja masing-masing di industri sudah berbeda. Sehingga, ini kita bedakan ada yang kelompok industri labour intensive,” ungkap Airlangga.

Revolusi Industri 4.0

Sedangkan pada revolusi industri ke-4, Menperin menyampaikan, efisiensi mesin dan manusia sudah mulai terkonektivitas dengan internet of things.

“Hari ini kita berbicara otomatisasi yang berbasis pada data dan internet, dan ini yang dilakukan di era Industri 4.0. Kalau dahulu, di dalam manufaktur, produsen dan konsumen terpisah. Tetapi saat ini, memungkinkan adanya co-creation antara pembeli dan produsen yang dapat menumbuhkan mikromanufaktur,” jelas dia.

Diproyeksi, beberapa pekerjaan baru yang terkait dengan pengembangan internet of things, antara lain professional triber, cloud architect, industrial network engineer, machine learning scientist, platform developer, virtual reality design, remote health care, robotics specialist, dan cyber security analyst.

Baca Juga :   Film Animasi Onward, Berisik di Awal Sentimental di Akhir

Kemudian, akan muncul permintaan jenis pekerjaan baru yang kompatibel dengan system Industri 4.0, di antaranya adalah profesi industrial data scientist dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Perbedaan mendasar industri 3.0 dan Industri 4.0

Perbedaan penerapan Industri 3.0 dengan Industri 4.0 menurut Erlangga adalah dari faktor penggeraknya. Industri 3.0 digerakkan oleh profit, sedangkan 4.0 lebih didorong oleh harga dan biaya.

“Bedanya Industri 3.0 dengan 4.0 adalah value chain-nya. Banyak produk-produk yang dari cost itu tentunya berujung pada value added dan supply chain,” tutur dia.‎

Peta jalan Making Indonesia 4.0, terdapat lima sektor industri yang akan menjadi pendorong dan percontohan dalam penerapan Industri 4.0. Lima sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, kimia, tekstil, elektronik, dan otomotif.

Hasil studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group terhadap industri yang telah menelah menerapkan industri 4.0 seperti di Jerman, menunjukkan jika permintaan tenaga kerja akan meningkat secara signifikan pada segmen R&D dan pengembangan software hingga 96 persen.

sumber: Liputan6.com