Arema FC sedang bergerak di beberapa arah sekaligus. Di saat satu pemain lama resmi berpisah, dua nama lain justru masuk dalam pantauan untuk memperkuat skuad yang diproyeksikan tampil dengan wajah baru.
Perubahan paling jelas terlihat dari keputusan klub melepas Rifat Marasabessy. Pemain asal Tulehu itu resmi diakhiri kebersamaannya setelah tiga musim membela Singo Edan, sebuah langkah yang menandai mulai seriusnya perombakan komposisi tim.
Perpisahan dengan Rifat punya nilai emosional tersendiri. Ia datang ketika Arema berada dalam situasi sulit usai tragedi Kanjuruhan dan ikut membantu tim keluar dari ancaman degradasi.
Selama berseragam Arema, Rifat tampil dalam 35 pertandingan. Kontribusinya terasa terutama di lini belakang, saat tim membutuhkan pemain yang bisa memberi stabilitas.
Namun, menit bermainnya menurun pada musim terakhir. Di kompetisi 2025-2026, pemain bernomor punggung 12 itu hanya mencatat delapan penampilan dengan total 433 menit bermain.
Di saat yang sama, perhatian publik juga tertuju pada kabar soal Dalberto. Striker asal Brasil itu disebut masuk bidikan Brunei DPMM FC, sehingga masa depannya bersama Arema ikut jadi sorotan.
Rumor tersebut menguat karena nama Dalberto disebut dalam informasi yang dirilis klub Malaysia itu. Ketertarikan terhadapnya tidak lepas dari performa tajam yang ia tunjukkan sepanjang musim lalu.
Musim 2025-2026 menjadi salah satu periode terbaik Dalberto bersama Arema. Ia menutup musim dengan 19 gol dan delapan assist, lalu menembus jajaran lima besar top skor Super League.
Catatan produktif itu sebenarnya sudah terlihat sejak ia pertama kali bermain di Indonesia bersama Madura United pada 2023. Secara keseluruhan, Dalberto mengoleksi 42 gol dan 16 assist dari 83 pertandingan.
Jika benar pindah ke Brunei DPMM FC, Dalberto berpotensi bereuni dengan Muhammad Toha yang lebih dulu bergabung ke klub tersebut. Situasi ini membuat kemungkinan kepergian sang striker terasa makin penting bagi rencana Arema menyusun ulang lini depan.
Di tengah kabar perpisahan itu, Arema juga mulai mengincar nama baru untuk sektor tengah. Gakuto Notsuda, gelandang milik BG Pathum United, masuk dalam daftar pantauan dan langsung mencuri perhatian karena pernah memperkuat tim nasional Jepang.
Notsuda tercatat memiliki dua penampilan bersama Samurai Biru. Pengalaman internasional itu memberi nilai tambah untuk kebutuhan Arema yang sedang membenahi lini tengah menjelang musim baru.
Peluang mendatangkan gelandang berusia 31 tahun tersebut juga dinilai terbuka. Kontraknya bersama BG Pathum United dikabarkan berakhir pada 30 Juni 2026, sehingga opsi bebas transfer menjadi skenario yang menarik.
Nama lain yang ikut muncul adalah Mateusinho. Winger asal Brasil itu masuk radar untuk menambah kekuatan serangan dan dikenal sebagai pemain yang lincah serta bisa mengisi beberapa posisi di depan.
Mateusinho, atau Mateus Gustavo Sales de Jesus, sebelumnya bermain untuk Sukhothai FC di kasta tertinggi Liga Thailand. Pada musim 2025-2026, ia tampil dalam 27 pertandingan dan mencatat satu gol serta empat assist.
Nilai pasar pemain berusia 27 tahun itu disebut berada di kisaran Rp5,21 miliar. Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Arema FC maupun pihak pemain terkait kabar ketertarikan tersebut.
Rangkaian kabar ini membuat aktivitas transfer Arema terasa lebih ramai dari biasanya. Klub harus menyiapkan ruang untuk kemungkinan kehilangan pemain penting, sambil terus mengincar sosok baru yang dianggap pas untuk kebutuhan tim.