Rupiah Melemah, Pemerintah Malah Melihat Peluang Ekspor Makin Lebar

Pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS belum langsung dibaca sebagai sinyal negatif oleh pemerintah. Dari sisi perdagangan, Menteri Perdagangan Budi Santoso justru melihat ruang ekspor Indonesia semakin terbuka karena produk dalam negeri berpotensi menjadi lebih kompetitif di pasar luar negeri.

Budi menegaskan fokus Kemendag tetap diarahkan pada penguatan perdagangan luar negeri saat nilai tukar melemah. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai peluang yang perlu dimanfaatkan, bukan semata-mata tekanan yang harus diwaspadai.

Ekspor masih jadi penopang

Menurut Budi, posisi perdagangan Indonesia sejauh ini masih cukup baik. Ia merujuk pada kinerja ekspor yang tetap tumbuh, sehingga pelemahan rupiah tidak langsung mengganggu arah perdagangan nasional.

Ia juga menyoroti surplus perdagangan yang naik 5,48% pada Januari-April. Data itu, menurut dia, menunjukkan aktivitas ekspor masih berjalan positif di tengah gejolak kurs.

Bagi pelaku usaha, rupiah yang melemah memang dapat menambah beban pada biaya impor. Namun bagi eksportir, situasi yang sama sering memberi keuntungan karena harga produk Indonesia bisa terlihat lebih menarik di pasar tujuan.

Pemerintah siapkan opsi barter

Selain mengandalkan mekanisme perdagangan biasa, pemerintah juga membuka alternatif transaksi dengan negara lain. Salah satu opsi yang disiapkan adalah barter, terutama dengan mitra dagang yang menghadapi tekanan nilai tukar serupa.

Budi menyebut ada rencana pertemuan dengan pengusaha Filipina pada 12 Juni. Ia juga mengatakan pernah bertemu salah satu pengusaha Filipina di ajang ASEAN, dan pihak itu selama ini mengimpor barang dari Indonesia.

Langkah tersebut menunjukkan pemerintah tidak hanya bertumpu pada skema transaksi konvensional. Barter dipandang bisa menjadi jalan keluar saat tekanan kurs membuat transaksi dalam mata uang tertentu terasa kurang nyaman bagi pelaku usaha.

Harga pangan masih dipantau

Di sisi lain, pelemahan rupiah sempat memunculkan kekhawatiran bahwa harga bahan pokok akan ikut naik. Budi mengatakan pemantauan di SP2KP atau Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok menunjukkan harga pangan masih stabil.

“Stok bahan pokok normal. Bahkan telur saja surplus,” kata Budi. Ia menambahkan harga telur justru berada di bawah HET, sehingga penyerapan pasar perlu diperbaiki agar pasokan dan permintaan tetap seimbang.

Pernyataan itu penting karena tekanan kurs sering memicu kekhawatiran lanjutan pada inflasi pangan. Namun, menurut Budi, kondisi pasokan saat ini masih relatif aman dan belum menunjukkan gangguan berarti.

Dengan stok yang dinilai normal dan beberapa komoditas masih surplus, perhatian pemerintah kini tertuju pada bagaimana pasar menyerap pasokan secara lebih efisien. Di saat yang sama, pelemahan rupiah tetap dipandang sebagai momentum untuk mendorong ekspor dan menjaga stabilitas perdagangan luar negeri.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version