Bagi sebagian orang, pelemahan rupiah identik dengan kabar buruk. Namun Wakil Menteri Pertanian Sudaryono justru melihat ada kelompok petani yang ikut diuntungkan, terutama mereka yang bergerak di komoditas ekspor dan menerima pembayaran dalam mata uang asing.
Di acara KNPED di Jakarta, Sudaryono menyebut petani kopi, cengkeh, karet, hingga serabut kelapa sebagai pihak yang bisa merasakan dampak berbeda saat dolar AS menguat. Ia menegaskan, pelemahan rupiah tidak selalu membawa kabar negatif karena jutaan petani lokal yang berorientasi ekspor justru bisa ikut happy.
Pernyataan itu langsung menarik perhatian publik karena datang dari sosok yang besar dari keluarga petani. Sudaryono berasal dari Dusun Mangunrejo, Desa Tambirejo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dan tumbuh sebagai anak semata wayang dari pasangan Yahyo dan Suwarni.
Latar keluarga sederhana itu membuatnya ditempa dengan disiplin sejak kecil. Ia dikenal sebagai siswa berprestasi dan langganan masuk peringkat delapan besar di sekolah, sebuah jejak awal yang kemudian mengantarkannya ke jalur pendidikan yang lebih tinggi.
Jejak akademiknya cukup panjang. Sudaryono menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara lewat jalur beasiswa, lalu melanjutkan studi ke Jepang di National Defense Academy of Japan pada bidang Mechanical System Engineering.
Pendidikan formalnya tidak berhenti di situ. Ia meraih gelar Master of Business Administration di Swiss German University pada 2017, lalu memperoleh gelar doktor di Institut Pertanian Bogor.
Dari korporasi ke pemerintahan
Sebelum aktif di pemerintahan bersama Partai Gerindra, Sudaryono lebih dulu dikenal punya pengalaman di dunia korporasi. Ia pernah menjabat Chairman PT Boga Halal Nusantara pada periode 2015-2024, Direktur PT Nusantara Telematics System pada 2019, serta CEO Garuda TV pada periode 2022-2024.
Pengalaman itu membuat rekam jejak manajerialnya cukup beragam, tidak hanya bertumpu pada jalur politik. Setelah masuk pemerintahan sebagai Wakil Menteri Pertanian, posisinya makin strategis karena bersentuhan langsung dengan urusan pangan dan pupuk nasional.
Ia juga dipercaya menjadi Komisaris PT Pupuk Indonesia (Persero) oleh Menteri BUMN. Sejak 16 Juni 2025, Sudaryono bahkan menjabat Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), sehingga perannya makin dekat dengan kebijakan sektor pertanian.
Harta Sudaryono tercatat puluhan miliar
Sorotan terhadap pernyataannya soal rupiah ikut menyeret perhatian ke laporan harta kekayaannya. Dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara, total hartanya tercatat Rp69.331.192.525, sementara utangnya mencapai Rp60.470.000.000.
Setelah dikurangi kewajiban tersebut, kekayaan bersih Sudaryono berada di angka Rp8.861.192.525. Porsi terbesar hartanya berasal dari tanah dan bangunan dengan nilai Rp50,2 miliar, yang tersebar di sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Jabodetabek.
Aset properti itu mencakup tanah dan bangunan seluas 2.000 meter persegi dan 200 meter persegi di Kota Semarang senilai Rp16 miliar. Ada juga tanah dan bangunan seluas 2.050 meter persegi dan 1.800 meter persegi di Klaten senilai Rp14 miliar, serta tanah dan bangunan seluas 237 meter persegi dan 200 meter persegi di Kota Semarang senilai Rp9 miliar.
Selain itu, ia tercatat memiliki tanah seluas 19.440 meter persegi di Jepara senilai Rp1,944 miliar. Komposisi asetnya menunjukkan bahwa kekayaan Sudaryono tidak hanya bertumpu pada satu jenis kepemilikan.
Isi garasi dan aset lain
Di bagian kendaraan, nilai alat transportasi Sudaryono tercatat Rp750 juta. Isi garasinya terdiri dari tiga mobil, yaitu Toyota Fortuner tahun 2014 senilai Rp250 juta, Toyota Innova tahun 2018 senilai Rp150 juta, dan Toyota Fortuner tahun 2022 senilai Rp350 juta.
Di luar properti dan kendaraan, ia juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp2.325.000.000. Nilai surat berharganya tercatat Rp7.558.000.000, sedangkan kas dan setara kas yang dilaporkan mencapai Rp8.404.192.525.
Dengan latar sebagai anak petani, pengalaman di sektor korporasi, dan jabatan strategis di pemerintahan, Sudaryono menjadi figur yang menarik disorot. Di sisi lain, pernyataannya tentang rupiah yang melemah menunjukkan pandangannya bahwa dampak nilai tukar tidak dirasakan sama oleh semua pelaku ekonomi, termasuk para petani komoditas ekspor di Indonesia.
Source: www.suara.com