pelantar.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat hingga menjadi mata uang yang paling kuat di Asia. Rupiah mengalami penguatan 70 poin atau 0,48 persen.

Mengutip data perdagangan RTI, Jumat (16/11/18), nilai tukar rupiah hari ini bergerak di level Rp14.595 dan Rp14.665
Rupee India menjadi mata uang Asia terkuat kedua setelah rupiah.

Rupee menguat 0,19 poin atau 0,26 persen. Rupee hari ini bergerak di level 71,792 dan 71,977. Kemudian diikuti oleh yen milik Jepang di posisi ketiga.

Yen menguat 0,23 atau 0,20% dan bergerak di level 113,36 dan 113,60. Mata uang Thailand Baht juga menguat 0,10 atau 0,03%. Baht bergerak di level 32,930 dan 32,970

Baca Juga :   Menjadi Lebih Bahagia dengan Memenuhi Hak-hak Anak

Kebijakan Bank Indonesia

Menurut Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara, penguatan rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan akhir pekan ini merupakan respons pasar atas kebijakan Bank Indonesia (BI) yang kemarin menaikkan bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6 persen.

“Kebijakan BI menaikkan bunga acuan 25 bps jadi 6 persen diapresiasi pasar, menunjukkan bahwa BI sangat pre emptive terhadap rencana naiknya Fed rate bulan Desember,” kata Bhima saat dihubungi, Jumat (16/11/18).

Baca Juga : 

Demi Rupiah, Boy Thohir Tukar Dolar Setara Rp25 Triliun

Bima mengatakan, pada penutupan bursa hari ini investor asing tercatat melakukan pembelian bersih atau net buy Rp1,65 triliun. Kemudian selain faktor domestik, dari faktor global ada tren menurunnya harga minyak ke angka di bawah US$ 70 per barel untuk acuan Brent.

Baca Juga :   Warga Sijantung Kini Nikmati Listrik 24 Jam

“Bagi Indonesia yang mengandalkan impor minyak, ini kabar gembira karena inflasi bisa ditekan,” ujar dia.

Kemudian proses Brexit dengan mundurnya beberapa menteri kabinet Theresa May juga positif untuk rupiah. Dana asing dari Eropa kembali masuk ke Indonesia.

 

 

Sumber : Detik.com