Rupiah Tetap Mengalir dari Tol, Jasa Marga Kantongi Rp5,1 Triliun di Kuartal I 2026

Kinerja PT Jasa Marga (Persero) Tbk kembali terdorong oleh ramainya lalu lintas di jalan tol. Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan pendapatan usaha Rp5,1 triliun, atau naik 10,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendorong utamanya datang dari kenaikan transaksi di sejumlah ruas tol kelolaan Jasa Marga. Selama tiga bulan pertama, total transaksi jalan tol mencapai 318,8 juta kendaraan, tumbuh 1,64% secara tahunan dan menunjukkan utilisasi jaringan tol masih kuat.

Bisnis tol masih jadi penopang terbesar

Dari total pendapatan usaha itu, kontribusi terbesar tetap berasal dari bisnis tol dengan nilai Rp4,7 triliun. Sementara itu, pendapatan usaha lain ikut memberi tambahan sebesar Rp397,6 miliar.

Komposisi tersebut menegaskan bahwa bisnis inti Jasa Marga masih sangat bergantung pada arus kendaraan di ruas tol. Di sisi lain, pendapatan non-tol membantu menjaga kinerja tetap stabil ketika trafik menjadi faktor paling menentukan bagi emiten jalan berbayar.

EBITDA tetap kuat meski biaya ikut naik

Di tengah tekanan biaya, Jasa Marga masih mampu menjaga EBITDA di level Rp3,4 triliun dengan margin 66,1%. Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono menyebut capaian itu lahir dari pengendalian beban usaha dan disiplin operasional.

Perseroan juga masih membukukan laba bersih Rp774,7 miliar. Meski biaya keuangan meningkat akibat pengoperasian Jalan Tol Jogja-Solo, kinerja operasional yang efisien membuat profit tetap terjaga.

Rivan menegaskan, “Capaian ini mencerminkan konsistensi Perseroan dalam pengendalian beban usaha serta optimalisasi kinerja operasional.”

Ekspansi jalan tol tetap berjalan

Meski kinerja operasional sedang membaik, Jasa Marga tidak mengendurkan rencana pengembangan jaringan. Perseroan tetap menempatkan ekspansi sebagai strategi jangka panjang karena pembangunan jalan tol membutuhkan modal besar dan waktu yang panjang.

Saat ini Jasa Marga menguasai 42% pangsa pasar industri jalan tol di Indonesia dengan total jalan beroperasi sepanjang 1.294 KM. Di sejumlah titik strategis, pengerjaan konstruksi juga terus dipercepat, termasuk Tol Probolinggo-Banyuwangi dan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan.

Pendanaan proyek besar ikut disiapkan

Untuk menopang proyek berikutnya, pendanaan juga sudah mulai disusun. Melalui PT Jasamarga Jogja Bawen, perseroan menyepakati kredit sindikasi Rp17,92 triliun untuk mendanai Tol Yogyakarta-Bawen.

Nilai total investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp25,61 triliun. Skema pendanaan ini memperlihatkan bahwa pengembangan jaringan tol masih menjadi fokus besar perusahaan dalam beberapa tahap ke depan.

Pengalaman pengguna jalan ikut diprioritaskan

Di luar pembangunan fisik, Jasa Marga juga mendorong perubahan cara pandang dari infrastruktur sebagai bangunan menjadi infrastruktur sebagai budaya. Fokusnya adalah menempatkan pengalaman pengguna jalan tol sebagai pusat layanan, sambil tetap menjaga aspek aman, nyaman, dan berkeselamatan.

Pendekatan itu menjadi pelengkap dari strategi bisnis yang bertumpu pada volume kendaraan, efisiensi biaya, dan perluasan jaringan. Dengan kombinasi tersebut, kinerja Jasa Marga masih sangat ditentukan oleh kuatnya trafik tol dan kesiapan perusahaan memperluas kapasitasnya di masa mendatang.

Mobilitas Lebaran ikut menunjukkan tingginya utilisasi

Gambaran lain datang dari periode Lebaran 2026, saat Jasa Marga mencatat 6,9 juta kendaraan menggunakan layanan perseroan. Angka itu memperlihatkan bahwa jalan tol tetap menjadi pilihan utama ketika mobilitas masyarakat meningkat.

Perseroan juga ikut mendukung program Mudik Gratis BUMN dengan memberangkatkan 1.500 peserta menggunakan 30 bus ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Aktivitas tersebut menambah gambaran bahwa trafik tol, efisiensi operasional, dan pengembangan jaringan masih menjadi tiga penopang utama Jasa Marga.

Exit mobile version