Bagi banyak pemain, konflik Konami dan Hideo Kojima terasa lebih menyakitkan daripada drama industri game lainnya karena yang runtuh bukan hanya satu proyek, tetapi juga kepercayaan terhadap arah sebuah waralaba besar. Nama Kojima sempat dihapus dari box art Metal Gear Solid V: The Phantom Pain, lalu perpisahan mereka meledak ke publik dan memunculkan banyak tanda tanya soal masa depan Metal Gear.
Situasi itu makin berat karena Silent Hills ikut dibatalkan. Proyek tersebut sebelumnya digadang-gadang akan menjadi salah satu game horor paling menyeramkan, sehingga pembatalannya membuat kekecewaan fans makin dalam.
Ketika ekspektasi tinggi justru berakhir jadi luka
Kasus Konami dan Kojima sering dibandingkan dengan drama peluncuran game lain yang juga membuat pemain kecewa. Pokemon GO sempat memicu euforia besar pada musim panas 2016, tetapi server sering crash, permainan sulit diakses, dan perilisan di beberapa negara tertunda berminggu-minggu.
No Man’s Sky juga mengalami nasib serupa setelah trailer di E3 2014 dan janji Sean Murray tentang semesta yang nyaris tak terbatas. Saat game itu rilis, banyak pemain justru menemukan dunia yang sepi, repetitif, dan dipenuhi fitur yang tidak muncul seperti yang dibayangkan.
Kepercayaan pemain yang mudah runtuh
Spore datang dengan nama besar Will Wright, sosok di balik The Sims dan SimCity. Namun antusiasme pemain turun tajam setelah game itu dirilis dengan DRM yang sangat ketat dan hanya bisa diinstal lima kali sebelum terkunci permanen ke akun.
Kebijakan tersebut memicu kemarahan pemain dan berujung pada review bombing di Amazon. Alih-alih menghentikan pembajakan, Spore justru tercatat sebagai salah satu game yang paling banyak dibajak sepanjang sejarah.
Diablo 3 juga meninggalkan luka tersendiri pada hari perilisannya. Banyak pemain sampai mengambil cuti kerja untuk memainkannya, tetapi yang mereka hadapi justru Error 37 karena server tidak sanggup menampung lonjakan pemain.
Selama beberapa hari, game itu praktis hanya bisa diakses sampai layar login. Blizzard Entertainment baru menyelesaikan masalah tersebut setelah berminggu-minggu, ketika kekecewaan pemain sudah terlanjur membesar.
Saat sistem monetisasi ikut memicu amarah
Mass Effect 3 menjadi contoh lain ketika harapan komunitas bertabrakan dengan hasil akhir yang dinilai mengecewakan. Banyak pemain berharap pilihan mereka sebagai Commander Shepard punya dampak yang lebih terasa, tetapi ending yang muncul dianggap terlalu mirip satu sama lain.
Reaksi komunitas begitu kuat sampai muncul penggalangan dana untuk mendorong pembuatan ending baru. BioWare kemudian merilis Extended Cut agar penutup cerita itu mendapat penjelasan tambahan.
Star Wars Battlefront 2 juga menuai kontroversi besar meski fondasi gameplay-nya dinilai solid. Masalah utamanya ada pada sistem loot box yang memaksa pemain grinding berjam-jam atau memakai uang sungguhan untuk membuka karakter ikonik seperti Darth Vader dan Luke Skywalker.
Sistem itu membuat game terasa sangat pay-to-win dan memancing kecaman keras dari pemain. Tekanan publik akhirnya membuat EA menghapus loot box sepenuhnya.
Mengapa konflik Konami dan Kojima tetap paling diingat
Di tengah banyaknya drama besar itu, konflik Konami dan Kojima tetap menonjol karena dampaknya terasa sampai level identitas sebuah waralaba. Perseteruan tersebut bukan hanya soal perbedaan internal, tetapi juga soal hubungan kreatif yang selama bertahun-tahun membentuk wajah Metal Gear.
Setelah berpisah, Kojima mendirikan Kojima Productions. Sejauh ini, studio itu telah merilis Death Stranding serta Death Stranding 2: On The Beach, sementara warisan konflik dengan Konami tetap terus dibicarakan oleh komunitas.
Itulah mengapa drama ini sering dianggap paling menyakitkan oleh para penggemar. Yang hilang bukan sekadar satu game, melainkan juga masa depan dari hubungan kreatif yang sudah telanjur melekat pada salah satu seri paling berpengaruh dalam sejarah game.
Source: www.idntimes.com




