Banyak keluarga sebenarnya tidak menolak kerja sama di rumah, tetapi masih terjebak pada anggapan lama bahwa urusan dapur, cuci, dan bersih-bersih adalah tugas istri saja. Saat pandangan itu bertemu dengan kebiasaan pasangan muda yang ingin berbagi peran, suami sering berada di posisi sulit ketika keluarga besar ikut campur.
Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan adu argumen, melainkan cara bicara yang tenang dan masuk akal. Tujuannya sederhana, yaitu membuat orangtua memahami bahwa bantuan suami bukan bentuk melawan adat, tetapi langkah wajar untuk menjaga rumah tangga tetap seimbang.
Salah satu cara yang paling mudah dipahami adalah menunjukkan bahwa beban istri sering kali jauh lebih besar dari yang terlihat. Jika istri juga bekerja di luar rumah, ia pulang dengan tanggung jawab ganda karena masih harus mengurus pekerjaan rumah setelah seharian bekerja.
Penjelasan seperti itu membantu orangtua melihat bahwa bantuan suami bukan soal mengambil alih peran istri. Justru, pembagian tugas yang lebih adil membuat beban rumah tangga tidak menumpuk di satu pihak saja.
Ada juga orangtua yang hanya melihat pekerjaan rumah sebagai sesuatu yang ringan karena dilakukan setiap hari. Padahal, urusan domestik terus berjalan tanpa jeda, mulai dari menyapu, mengepel, memasak, mencuci, sampai mengurus anak.
Karena tidak pernah benar-benar selesai, pekerjaan rumah memang butuh tangan tambahan. Saat suami ikut turun tangan, ritme keluarga lebih terjaga dan istri tidak harus menanggung semuanya sendirian.
Dari sisi pengasuhan, keterlibatan ayah juga punya dampak yang tidak kecil. Mengasuh anak bukan sekadar memberi makan, tetapi juga membuat susu, memandikan, dan memenuhi banyak kebutuhan harian lain.
Kalau suami terus dijauhkan dari tugas domestik dan pengasuhan, jarak dengan anak bisa makin besar. Sebaliknya, keterlibatan sejak kecil membantu hubungan ayah dan anak tetap dekat hingga anak tumbuh dewasa.
Ada manfaat lain yang sering terasa langsung, yaitu waktu bersama pasangan bisa lebih terjaga. Suami yang sibuk bekerja di luar rumah biasanya hanya punya sedikit ruang untuk berinteraksi, sehingga ikut membantu di rumah bisa menjadi cara sederhana untuk tetap dekat dengan istri.
Momen seperti ini juga membuat pasangan punya kesempatan berbincang ringan sambil menyelesaikan pekerjaan harian. Dari situ, waktu bersama tidak hanya tersisa di sela kesibukan, tetapi ikut hadir dalam aktivitas yang dijalani setiap hari.
Orangtua juga perlu memahami bahwa bantuan suami dapat mencegah istri terlalu lelah, baik secara fisik maupun psikis. Saat beban terlalu berat, kondisi tubuh dan emosi istri bisa ikut terganggu, bahkan memengaruhi suasana rumah.
Di titik ini, kerja sama di rumah bukan sekadar soal kerapian, melainkan soal menjaga kesehatan hubungan keluarga. Semakin seimbang beban yang dipikul, semakin kecil risiko rumah tangga menjadi tegang karena kelelahan berkepanjangan.
Kalau dilihat dari sisi pengeluaran, ikut mengerjakan urusan rumah juga punya nilai praktis. Pekerja rumah tangga dan layanan laundry membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga bantuan suami bisa ikut menghemat kebutuhan bulanan.
Itulah sebabnya, sebagian keluarga memilih berbagi tugas daripada terus mengandalkan bantuan luar. Selain meringankan pasangan, cara ini juga membantu menjaga kondisi keuangan tetap lebih ringan.
Masalah lain yang sering muncul adalah anggapan bahwa pria akan kehilangan jati diri kalau ikut mencuci, menyapu, atau membayar tagihan rumah. Padahal, pekerjaan itu tidak membuat seorang pria berubah menjadi perempuan.
Bagi banyak suami, justru kesediaan memikul tanggung jawab rumah tangga menunjukkan kedewasaan. Peran laki-laki tidak berhenti pada mencari uang, karena rumah juga berjalan berkat kerja sama di dalamnya.
Penolakan orangtua sebenarnya bisa diredam dengan contoh yang dekat dan mudah dilihat. Anak perempuan akan belajar bahwa pasangan yang baik adalah yang mau bekerja sama, sementara anak laki-laki juga memahami bahwa membantu rumah bukan sesuatu yang merusak harga diri.
Contoh dari ayah dan ibu jauh lebih kuat daripada nasihat semata. Dari situ, anak tumbuh dengan gambaran bahwa rumah tangga dibangun oleh tanggung jawab bersama, bukan oleh satu pihak saja.
Pada akhirnya, hasil dari kerja rumah dinikmati seluruh anggota keluarga. Rumah yang bersih membuat waktu istirahat lebih nyaman, sementara masakan yang tersaji memberi manfaat bagi semua orang di rumah.
Karena hasilnya dirasakan bersama, alasan untuk melarang suami membantu sebenarnya makin lemah. Saat orangtua belum berubah pandangan, suami tetap perlu bersikap dewasa dan menjalankan pilihan yang dianggap tepat demi rumah tangga yang lebih harmonis.
Source: www.idntimes.com