Minyak jelantah kini tidak lagi berhenti sebagai limbah rumah tangga. Di tangan Pertamina, bahan itu masuk ke rantai energi baru melalui sustainable aviation fuel atau SAF untuk mendukung penerbangan rendah emisi.
Langkah ini menjadi bagian dari dorongan yang lebih besar untuk menyiapkan transisi energi di darat, laut, dan udara secara bersamaan. Pertamina tidak hanya mengejar perubahan pada jenis bahan bakar, tetapi juga membangun ekosistem yang lebih lengkap agar pergeseran energi bisa berjalan lebih cepat.
Dari dapur ke pesawat
Di sektor udara, SAF dari minyak jelantah menjadi salah satu andalan utama. Pelita Air termasuk maskapai yang sudah menggunakan bahan bakar tersebut sebagai bagian dari upaya menekan emisi.
Penggunaan SAF menunjukkan bahwa pengurangan emisi di penerbangan tetap bisa dikejar tanpa mengubah kebutuhan utama sektor ini, yaitu bahan bakar cair. Di saat yang sama, limbah rumah tangga mendapat peran baru dalam ekosistem energi.
Darat didorong lewat listrik dan bioetanol
Untuk transportasi darat, Pertamina menyiapkan dua jalur sekaligus. Perusahaan membangun charging station dan battery swapping bagi kendaraan listrik, sekaligus menyiapkan pabrik bioetanol terintegrasi di area perkebunan tebu Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur.
Pabrik itu diarahkan untuk menjaga pasokan bahan baku dan memperkuat ketahanan energi lokal. Dengan begitu, transisi di jalan raya tidak hanya bergantung pada kendaraan baru, tetapi juga pada ketersediaan energi dan bahan baku yang lebih stabil.
Laut dibidik lewat efisiensi dan teknologi baru
Sektor laut juga masuk dalam peta besar ini. Pertamina mendorong efisiensi energi dengan penggunaan dual fuel, lalu melengkapinya dengan pengembangan green ammonia dan pemasangan panel surya di dek kapal.
Kombinasi itu menunjukkan bahwa arah transisi di laut tidak disandarkan pada satu solusi saja. Pertamina menggabungkan efisiensi operasi dengan sumber energi baru untuk membuka lebih banyak pilihan pengurangan emisi.
Transisi butuh ekosistem, bukan langkah tunggal
Seluruh inisiatif tersebut diarahkan untuk mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada 2060. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan dijalankan dalam jangka panjang.
Agung menyampaikan hal itu saat mengisi Studium Generale Sustainability di Universitas Pertamina pada Kamis (21/5/2026). Ia juga menyebut langkah itu sejalan dengan komitmen kuat Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Peran kampus dan kolaborasi
Dari sisi akademik, Acting Rector Universitas Pertamina, Djoko Triyono, menilai transisi energi tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah atau industri. Menurut dia, solusi atas persoalan energi nasional memerlukan kerja bersama akademisi, pemerintah, masyarakat, dan sektor industri.
Universitas Pertamina menempatkan diri sebagai penghubung antara riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan aksi nyata. Djoko menegaskan komitmen kampus untuk ikut mendukung terciptanya ekosistem energi berkelanjutan di Indonesia.
Dengan pendekatan yang mencakup charging station, bioetanol, dual fuel, green ammonia, panel surya, dan SAF dari minyak jelantah, Pertamina sedang membangun transisi energi sebagai sistem yang saling terhubung. Arah itu membuat perubahan di darat, laut, dan udara bergerak dalam satu ekosistem yang lebih utuh.