pelantar.id – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati tak kuasa menahan tangis saat menemui keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang, Senin (29/10). Air matanya tumpah saat memeluk seorang ibu, suaranya berat dan terbata-bata ketika menyampaikan rasa duka mendalam kepada pers.

Momen mengharukan itu ternyata tak berhenti. Sejak kemarin, banyak beredar di media sosial Facebook, Instagram dan Twitter, juga grup-grup WhatsApp satu sajak yang mengatasnamakan Sri Mulyani. Isi sajak tersebut terasa menyayat hati, menggambarkan rasa duka yang teramat dalam atas jatuhnya korban Lion Air JT-610.

Banyak yang mengira, sajak itu benar-benar ditulis oleh Sri Mulyani. Apalagi, dalam peristiwa jatuhnya Lion Air itu, ada puluhan pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan yang turut menjadi korban. Hal itu ditambah dengan adanya tulisan di awal berupa; “Sajak Bu Menkeu, Ibu Sri Mulyani, yang patut utk Kita renungkan…”

Namun, sajak yang sudah viral tersebut ternyata bukan karya Sri Mulyani. Juru Bicara Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti memastikannya. Ia mengaku banyak mendapat pertanyaan tentang sajak yang beredar di platform media sosial tersebut.

Baca Juga :   Suzzana Bernapas Dalam Kubur Akan "Hantui" Bioskop Thailand

“Saya sudah konfirmasi ke Ibu Menteri (Sri Mulyani), beliau menyatakan bukan,” katanya, Rabu (31/10/2018).

Nufransa menegaskan, sajak itu adalah karya seorang perempuan bernama Jayaning Haartami. Sajak itu ditulis dan diposting di akun Facebook Jayaning, Selasa (30/10/2018) pukul 07.06. Penelusuran pelantar.id di akun itu, Jayaning sudah memberi klarifikasi, dan mengakui bahwa sajak itu adalah tulisannya, bukan Sri Mulyani.

Jayaning mengatakan, tulisan tersebut terlupa memberi watermark namanya, karena ia larut dalam kesedihan. Tulisannya itu sudah dibagikan lebih dari 7.000 kali. Belum lagi yang di media sosial lainnya.

Berikut sajak untuk korban Lion Air JT-610 yang beredar di media sosial mengatasnamakan Menteri Keuangan Sri Mulyani:

Pada kamu yang malam tadi berdebat dengan istri. Merasa lelah mendengar keluhannya yang tak henti. Membawa kesal itu dalam tidurmu, sehingga emosi belum reda pagi ini..

Berpelukanlah sebelum pamit berangkat kerja nanti.

Karena bisa jadi,
Inilah waktumu melihatnya terakhir kali..

Pada kamu yang akhir akhir ini merasa hidup berat sekali. Kelelahan mengurus rumah sendiri, tumpuk setrikaan tanpa henti, kepusingan mengatur tagihan yang datang bertubi. Lalu diam diam, kau kutuki karir suamimu yang tidak juga naik posisi…

Sambutlah ia ketika pulang nanti.

Katakan betapa bersyukurnya memiliki suami yang senantiasa bekerja keras dan menjaga kehalalan gaji. Ucapkan terimakasih dengan tulus hati.

Kau tidak pernah tahu,
Bisa jadi untuk melakukannya esok, kau tak lagi punya waktu..

Pada kamu yang hari ini merasa pusing mendengar berisiknya anak di rumah. Padahal sepulang dari kantor mata rasanya hanya ingin terpejam dan badan butuh rebah. Lalu diam diam, kau simpan itu menjadi emosi marah..

Tersenyumlah lebar buat mereka hari ini.
Saat hendak pergi, dan saat nanti pulang kembali.

Luangkan waktu untuk menatap wajah mungil itu yang bercerita riang tentang hari harinya padamu. Dengarkan intonasi suaranya. Rekam baik baik binar mata dan ekspresi mereka.

Karena sungguh bukan sebuah ketidakmungkinan,
Besok lusa tak ada lagi kesempatan..

**

Kebersamaan menahun seringkali membuat kita lebih mudah mendeteksi kekurangan, daripada menemukan kebaikan.

Lebih lancar memberi kritik, daripada memberi apresiasi.

Lebih cenderung mengeluh. Dan lupa mensyukuri satu sama lain.

Padahal kita tidak pernah tahu kapan kebersamaan ini akan berhenti. Bisa jadi hari ini. Bisa jadi besok. Bisa jadi sebentar lagi.

Hargai setiap momen yang kita punya saat ini.

Minta maaf selagi bisa.

Berterimakasih selagi masih ada waktu.

Bercanda, berbincang, tertawa…, selagi kesempatan masih ada.

Berpelukanlah.

Selagi hangat tubuhnya masih bisa dirasa.

**

Deep condolence untuk seluruh awak dan penumpang Lion Air JT610..

Yang diantaranya ada seorang Ayah, yang pagi kemarin baru saja pamit bekerja setelah menghabiskan weekendnya untuk mengunjungi anak istri yang tinggal di Jakarta. Melepas rindu setelah sepekan tak bertemu.

Ada juga seorang Ibu yang semalam masih bercanda dengan putri kesayangannya. Menemaninya tidur. Lalu paginya berangkat untuk dinas luar kota. Bekerja. Menjemput pahala.

Dan ada pula seorang lelaki yang baru menikah dua hari. Kemarin pagi mengecup istrinya di bandara. Mesra. Sembari meminta doa. Sebelum terbang mencari nafkah pertamanya.

*

Kita betul betul gak pernah tau.

Bisa jadi salam yang kita berikan hari ini, adalah salam terakhir buat orang orang tercinta.

Lakukanlah selagi bisa….

 

Baca Juga :   Batam Masih Dipercaya Investor

 

Editor : Yuri B Trisna