Menaikkan efisiensi dengan cara menurunkan kualitas BBM justru bisa berbalik menjadi beban baru bagi pemilik kendaraan. Pilihan yang tampak lebih hemat di awal dapat membuat mesin bekerja lebih panas, performa turun, dan risiko kerusakan meningkat.
Peringatan ini disampaikan pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, di tengah penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku sejak 18 April 2026. Saat itu, Pertamax Turbo dipatok Rp19.400 per liter, Dexlite Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter, sehingga sebagian pengguna kendaraan mungkin tergoda memilih BBM yang lebih murah.
Setiap mesin punya kebutuhan sendiri
Yannes menegaskan bahwa oktan BBM tidak bisa dipukul rata untuk semua kendaraan. Setiap mesin dirancang dengan kebutuhan berbeda sesuai rasio kompresinya, jadi pilihan bahan bakar harus mengikuti spesifikasi pabrikan.
Pada mesin yang memang membutuhkan oktan lebih tinggi, BBM dengan kualitas di bawah anjuran dapat menurunkan performa sekitar 5 hingga 10 persen. Dalam kondisi yang sama, konsumsi bahan bakar juga bisa naik 3 hingga 7 persen karena proses pembakaran tidak berlangsung seefisien semestinya.
Pertamax Turbo dengan RON 98, misalnya, disebut cocok untuk mesin berkompresi tinggi sekitar 12,1:1 hingga 14,0:1, termasuk mesin turbo. Artinya, BBM dengan RON lebih rendah tetap punya tempatnya sendiri, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan kompresi tiap mesin.
Efek yang paling cepat terasa di jalan
Saat mesin berkompresi tinggi dipaksa memakai BBM di bawah rekomendasi, pembakaran bisa menjadi tidak sempurna. Kondisi ini memunculkan knocking atau suara menggelitik yang terasa mengganggu saat berkendara.
Akselerasi pun bisa terasa lebih berat dari biasanya. Pada mobil sport dan kendaraan berturbo, dampaknya sering lebih jelas karena karakter mesinnya lebih sensitif terhadap pemakaian oktan rendah.
Yannes juga mengingatkan bahwa masalahnya bukan sekadar tenaga yang berkurang. Mesin dapat bekerja lebih panas dan efisiensinya menurun, sehingga penghematan yang dikejar di awal justru hilang dalam bentuk performa yang melemah.
Risiko yang tidak langsung muncul
Kendaraan modern memang sudah dibekali sensor untuk membantu menyesuaikan pengapian. Namun, pemakaian BBM di bawah spesifikasi dalam waktu lama tetap menyimpan risiko karena keausan mekanis pada komponen internal mesin bisa terjadi lebih cepat.
Dampaknya biasanya tidak langsung terasa pada awal pemakaian. Menurut Yannes, gejala umumnya mulai muncul setelah kendaraan menempuh sekitar 10.000 hingga 20.000 kilometer, saat deposit karbon mulai menumpuk di dalam sistem.
Pada fase itu, tanda yang sering terlihat antara lain idle kasar, getaran ketika mesin diam, atau akselerasi yang tersendat. Banyak pemilik kendaraan baru sadar bahwa penghematan di SPBU berubah menjadi tambahan biaya di bengkel.
Mencampur BBM juga bukan solusi aman
Selain memilih oktan yang terlalu rendah, kebiasaan mencampur dua jenis BBM juga dinilai berisiko. Perbedaan aditif, densitas, dan karakter pembakaran membuat hasil campuran menjadi tidak stabil.
Campuran semacam itu dapat memunculkan endapan yang menyumbat filter dan mengganggu sistem injeksi bertekanan tinggi. Ketidakstabilan pembakaran juga bisa memicu knocking secara sporadis dan membuat mesin bekerja tidak optimal.
Yannes memberi contoh bahwa Pertamax Turbo dan Pertamax biasa tidak disarankan untuk dicampur karena karakter keduanya berbeda. Jika kebiasaan itu dilakukan terus-menerus, kebersihan ruang bakar bisa terganggu dan performa mesin ikut turun.
Biaya perbaikan bisa membesar cepat
Dari sisi biaya, konsekuensi salah pilih BBM bisa jauh lebih mahal daripada selisih harga per liter. Pada kondisi yang lebih serius, terutama di sistem injeksi seperti Gasoline Direct Injection (GDI) atau Common Rail, biaya perbaikan disebut bisa mencapai belasan juta rupiah.
Karena itu, buku manual kendaraan tetap menjadi acuan utama sebelum memilih bahan bakar. Panduan pabrikan biasanya sudah menjelaskan kebutuhan BBM sesuai rasio kompresi dan karakter mesin, sehingga risiko salah isi dapat ditekan sejak awal.
Jika tanda gangguan mulai terasa, penggunaan BBM oktan tinggi disarankan segera kembali dilakukan. Langkah itu dinilai bisa membantu mencegah kerusakan yang lebih berat sebelum masalah berkembang lebih jauh dan menambah beban biaya perawatan.





