Pasar smartphone Asia Tenggara sedang tidak bergerak ke arah yang ramah bagi ponsel murah. Di tengah penurunan pengiriman dan naiknya harga jual rata-rata, merek-merek China justru makin kesulitan menjaga laju, sementara Samsung berhasil mencuri posisi puncak.
Laporan Omdia menunjukkan Samsung menjadi satu-satunya pemain besar yang masih tumbuh positif di kawasan ini. Perusahaan asal Korea Selatan itu mengirim 4,6 juta unit dan meraih pangsa pasar 21%, cukup untuk menyalip para pesaing yang selama ini agresif di Asia Tenggara.
Samsung unggul lewat dua lini sekaligus
Kinerja Samsung tidak ditopang satu produk saja. Omdia menilai kombinasi peluncuran Galaxy S26 yang kuat pada awal tahun dan penjualan Galaxy A yang tetap tinggi menjadi penopang utama pertumbuhan perusahaan.
Strategi itu membuat Samsung lebih tahan menghadapi pasar yang melemah. Saat banyak merek lain kehilangan tenaga, portofolio premium dan kelas menengah Samsung sama-sama membantu menjaga volume pengiriman.
Merek China justru banyak tertekan
Di belakang Samsung, Oppo menempati posisi kedua dengan 4,2 juta unit dan pangsa pasar 20%. Namun, penjualannya turun 17%, yang oleh Omdia dikaitkan dengan penggabungan bersama Realme.
Xiaomi ada di peringkat ketiga dengan 3,7 juta unit dan pangsa pasar 17%. Kinerjanya turun 12% setelah kenaikan harga di seluruh portofolio disebut mengurangi minat kanal distribusi dan membatasi alokasi anggaran.
Transsion, induk Infinix, Tecno, dan Itel, menyusul di posisi keempat. Pengirimannya mencapai 3,4 juta unit dengan pangsa 16%, tetapi tetap turun 10% meski model Infinix dan Tecno masih punya harga kompetitif yang membantu posisinya di Indonesia dan Filipina.
Vivo memilih jalur yang berbeda
Vivo melengkapi lima besar dengan 2,1 juta unit dan pangsa pasar 17%. Di antara pemain besar, penurunannya paling dalam, yaitu 27%.
Omdia menjelaskan bahwa pelemahan itu terjadi karena vivo mengalihkan fokus ke profitabilitas. Langkah tersebut membuat perusahaan menarik diri dari segmen entry-level yang selama ini jadi andalan utama pasar murah.
Harga naik, pasar malah mengecil
Secara keseluruhan, pasar smartphone Asia Tenggara turun 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Total pengiriman hanya 21,6 juta unit, jadi tanda bahwa pemulihan permintaan di kawasan ini belum kuat.
Pada saat yang sama, harga jual rata-rata justru naik ke level tertinggi baru. Omdia mencatat ASP kuartal I-2026 mencapai US$349 atau sekitar Rp 6,1 juta, naik 19% secara tahunan.
Kenaikan itu dipicu lonjakan biaya memori yang ikut mendorong harga perangkat di pasar. Akibatnya, segmen HP murah menghadapi tekanan ganda, karena permintaan melemah sementara biaya produksi ikut lebih mahal.
Kenapa posisi Samsung jadi lebih nyaman
Kondisi ini membuat model bisnis yang bertumpu pada volume murah makin sulit dijalankan. Kanal distribusi juga makin selektif, sehingga strategi harga rendah tidak lagi memberi hasil seperti sebelumnya.
Di tengah situasi seperti itu, Samsung justru diuntungkan karena portofolionya lebih seimbang. Seri premium dan seri menengah sama-sama ikut menyumbang pengiriman, sehingga perusahaan bisa bertahan saat pasar melambat dan harga naik.
Sebaliknya, merek-merek China harus menyesuaikan strategi agar tetap relevan di pasar yang makin ketat. Mereka tidak hanya berhadapan dengan penurunan volume, tetapi juga dengan biaya perangkat yang terus merangkak naik.
Source: www.cnbcindonesia.com