Pelantar.id – Di pertigaan Jalan Setiabudi dan Ngesrep atau tepatnya di depan gerbang kampus Universitas Diponegoro (UNDIP) Tembalang, Semarang, terdapat sebuah patung besar Pangeran Dipenogoro menunggangi kuda.

Patung tersebut dijadikan sebagai penanda arah masuk kampus. Masyarakat Semarang tentu familiar dengan Pangeran Diponegoro. Tak terkecuali dengan kuda yang ditungganginya, Turangga Seta.

Masyarakat lebih mengenal patung itu dengan sebutan Patung Kuda. Padahal, semangat juang Pangeran Dipenegoro tergambar jelas di sana tapi justru malah kudanya lebih dikenal.

Dikutip dari Liputan6.com, Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Sudharto P Hadi melalui sambutannya dalam acara wisuda ke-131 Universitas Diponegoro 2013 lalu, menegaskan, “Ingat bahwa di pertigaan Ngesrep ada Patung Pangeran Diponegoro naik kuda.

Jangan sampai salah sebut, bahwa itu Patung Kuda. Itu adalah Patung Pangeran Diponegoro. Sebab, patung itu menunjukkan pintu masuk utama menuju kampus Diponegoro tercinta, bukan pintu masuk menuju kampus kuda,” ujarnya lantang.

Hal serupa pun terjadi di Batam. Di Jl. Laksamana Bintan, Sungai Panas, Batam Kota, terdapat pula patung kuda. Meski tak seperti patung Turangga Seta yang ditunggangi Pangeran Dipenegoro di Semarang namun patung kuda ini cukup familiar bagi masyarakat Batam.

Sebelum dipindahkan, patung ini ternyata juga memiliki latarbelakang sejarah yang patut kita ketahui.

Ketua Batam Heritage Society Edi Sutrisno menjelaskan, pada tahun 1990-an, Kepala Subdirektorat Pertamanan dan Estetika Otorita Batam, Ir. Hary Sukoraharjo sepulang bekerja melewati Jl. Laksamana Bintan, Sei Panas.

Ia pun melihat keunikan kontur jalan tersebut yang membelah jalan antar wilayah Batam Kota dan Bengkong. Hingga akhirnya lahirlah ide untuk membangun sebuah patung kuda di simpang tiga tersebut.

Lanjut Edi, ide patung tersebut muncul begitu saja dibenak Hary Sukoharjo. Sehingga tak ada maksud serta pemaknaan khusus terkait mengapa kuda yang menjadi pilihannya.

Patung kuda bewarna putih dengan pose kaki depan terangkat itu merupakan satu-satunya patung makhluk hidup yang dibuat oleh Pemeritah.

“Sehingga patung ini memiliki keistimewaannya sendiri,” kata dia.

Meski sebenarnya simpang tiga tersebut bernama Jl. Laksamana Bintan, namun Simpang Kuda lebih dikenal ketimbang nama jalan itu sebenarnya. Hal ini tentu tak lepas dari peran patung kuda itu sendiri yang sudah menjadi ikon di Kota Batam.

“Mungkin bisa dipastikan bahwa semua orang Batam pasti mengenal atau minimal tahu Simpang Kuda,” ungkap pria yang telah meneliti sejarah Kota Batam sejak tahun 2003 ini.

Meski patung kuda tersebut rencananya akan dipindahkan Pemko Batam akibat adanya proyek pelebaran jalan, Edi berharap keberadaannya akan jelas. Ia pun secara suka rela siap menampung patung itu jika Pemko Batam tak memiliki tempat.

“Benda semacam ini tentu memiliki nilai historinya sendiri, akan lebih baik patung kuda itu disimpan agar makna dan nilainya tetap dapat diingat warga Batam sekarang dan nanti,” paparnya.

Sementara Kepala Bidang Hubungan Masyrakat (Kabid Humas) Pemko Batam Yudi Admaji menjelaskan, pemerintah tengah mempertimbangkan relokasi patung kuda tersebut.

Ia menyebutkan, terdapat dua opsi lokasi yang bakal menjadi tempat baru kuda bewarna putih itu.

“Rencananya patung itu akan dipindahkan ke Kebun Raya Batam di Nongsa, atau di sekitar lokasi tempat sekarang ia berada. Intinya, lokasi yang akan dipilih adalah tempat yang terbuka dan dapat dilihat orang banyak,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, masyarakat pun dapat mengusulkan di mana lokasi yang tepat untuk penempatang patung tersebut. Mengingat patung kuda itu telah dibangun sejak lama dan memiliki nilai historis bagi masyarakat Batam pada umumnya.

========
penulis: Faturrohim
editor: eliza gusmeri