Serangan Meluas Di Teluk, Hormuz Dan UEA Masih Jadi Titik Paling Rawan

Di tengah gencatan senjata yang masih berlaku, Teluk justru tetap terlihat seperti kawasan yang mudah tersulut lagi. Serangkaian bentrokan terbaru di sekitar Selat Hormuz membuat perang Iran dan Amerika Serikat belum benar-benar keluar dari fase berbahaya, apalagi ketika serangan juga merembet ke Uni Emirat Arab.

Ancaman terbesarnya masih berpusat di jalur sempit yang menjadi urat nadi energi dunia itu. Selat Hormuz kembali menjadi titik paling rawan karena bentrokan sporadis masih terjadi antara pasukan Iran dan kapal-kapal Amerika Serikat, sementara Teheran terus menjaga tekanan di wilayah laut yang sejak awal perang sudah dibatasi untuk pelayaran non-Iran.

Militer AS mengatakan pihaknya menyerang dua kapal yang terkait Iran saat keduanya mencoba memasuki pelabuhan Iran. Seorang jet tempur AS disebut menghantam cerobong asap kapal itu dan memaksa keduanya berbalik arah.

Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bentrokan sporadis masih berlangsung pada Jumat di Selat Hormuz. Tasnim kemudian mengutip sumber militer Iran yang mengatakan situasi sudah mereda, meski peluang bentrokan lanjutan tetap terbuka.

Pembatasan pelayaran di selat itu membuat tekanan makin besar. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut, sehingga setiap gangguan di sana langsung membawa risiko ekonomi yang lebih luas.

Di luar laut, perang juga menjalar ke wilayah Teluk yang lebih luas. Uni Emirat Arab mengatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi dua rudal balistik dan tiga drone dari Iran pada Jumat, dan tiga orang mengalami luka sedang.

UEA menyebut gelombang serangan pekan ini sebagai eskalasi besar. Iran sendiri berulang kali menargetkan UEA dan negara-negara Teluk lain yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, sehingga konflik tidak lagi terbatas pada perairan strategis saja.

Eskalasi itu muncul setelah Iran meningkatkan serangan sebagai respons atas pengumuman Trump tentang “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal di selat itu. Langkah tersebut kemudian dihentikan setelah 48 jam, tetapi tensi di lapangan tetap tidak benar-benar turun.

Di sisi diplomasi, Washington masih menunggu jawaban Iran atas usulan AS yang akan secara resmi mengakhiri perang sebelum pembicaraan masuk ke isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran. Di Roma pada Jumat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan AS memperkirakan jawaban datang hari itu, sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut Teheran masih mempertimbangkan usulan tersebut.

Namun tekanan militer dan diplomasi yang berjalan bersamaan belum mengubah kalkulasi utama Teheran. Sebuah analisis intelijen AS menyebut Iran dapat bertahan menghadapi blokade laut selama berbulan-bulan, dan menurut seorang pejabat AS yang mengetahui hal itu, penilaian CIA menunjukkan Iran tidak akan menanggung tekanan ekonomi berat dari blokade pelabuhan Iran oleh AS selama sekitar empat bulan lagi.

Klaim soal analisis CIA itu dibantah oleh seorang pejabat intelijen senior yang menyebutnya palsu. Informasi tersebut pertama kali dilaporkan Washington Post.

Sementara itu, komunikasi politik antara kedua pihak juga makin tajam. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Jumat menuduh AS memilih “petualangan militer yang sembrono” setiap kali solusi diplomatik tersedia.

Ketegangan di laut ikut dibarengi dengan insiden lain yang melibatkan kapal dagang Iran. Iran menyebut satu anggota awak tewas, 10 luka-luka, dan enam hilang setelah serangan Angkatan Laut AS terhadap sebuah kapal dagang Iran pada Kamis malam.

Di Washington, dukungan internasional untuk langkah AS masih terlihat terbatas. Setelah bertemu Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Rubio mempertanyakan mengapa Italia dan sekutu lain tidak mendukung upaya Washington untuk membuka kembali selat tersebut.

Di saat yang sama, tekanan ekonomi juga tetap dipakai sebagai alat utama. Departemen Keuangan AS pada Jumat menjatuhkan sanksi terhadap 10 individu dan perusahaan, termasuk sejumlah entitas di China dan Hong Kong, karena membantu upaya militer Iran memperoleh senjata dan bahan baku untuk drone Shahed.

Departemen Keuangan AS juga menyatakan siap bertindak terhadap perusahaan asing mana pun yang mendukung perdagangan ilegal Iran. Lembaga itu membuka peluang sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing, termasuk yang terkait dengan kilang minyak independen di China.

Baca Juga

Back to top button