Kinerja Harley-Davidson di pasar Indonesia memasuki fase yang lebih hati-hati. Di saat penjualan unit mengalami koreksi, PT JLM Auto Indonesia justru melihat lini purnajual bergerak sangat kuat dengan lonjakan servis dan suku cadang mencapai 120 persen.
Pola itu menunjukkan bahwa minat terhadap motor baru belum pulih sepenuhnya, tetapi aktivitas pemilik kendaraan tetap tinggi. Di sisi lain, penjualan apparel dan merchandise umum juga ikut naik 115 persen, sehingga bisnis pendukung menjadi penopang penting di tengah tekanan pasar kendaraan premium.
Aftersales jadi penahan laju bisnis
Bagi PT JLM Auto Indonesia, pertumbuhan paling terasa justru datang dari layanan setelah pembelian. Permintaan servis dan suku cadang yang naik tajam menandakan para pemilik Harley-Davidson masih aktif menjaga kondisi motor mereka, meski keputusan membeli unit baru tidak sekuat sebelumnya.
Perubahan perilaku ini juga terlihat dari kecenderungan konsumen yang memilih merawat motor yang sudah dimiliki. Sebagian pemilik bahkan lebih tertarik melakukan modifikasi ketimbang langsung mengganti motor dengan unit baru, sehingga aktivitas purnajual mendapat ruang yang makin besar.
Tekanan pasar belum mereda
Di balik koreksi penjualan unit, pasar motor premium masih menghadapi banyak hambatan. Direktur Operasional PT JLM Auto Indonesia, Irvino Edwardly, menyebut kondisi global yang belum stabil ikut memengaruhi permintaan, mulai dari geopolitik hingga fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Harga minyak dunia dan regulasi yang menantang juga ikut menekan laju pasar. Situasi seperti ini membuat segmen motor premium bergerak lebih berat karena konsumen cenderung menunda pembelian ketika biaya dan ketidakpastian meningkat.
Ketergantungan pada transaksi berbasis dolar AS turut memberi dampak pada strategi harga dan pengadaan unit. Dalam kondisi tersebut, minat konsumen untuk membeli motor baru tidak bergerak sekuat periode sebelumnya.
Produk pendukung tetap mencari ruang tumbuh
Selain servis dan suku cadang, kategori apparel serta merchandise umum juga mencatat hasil positif. Penjualannya naik 115 persen dan menjadi sinyal bahwa daya tarik merek Harley-Davidson masih kuat di kalangan pemilik maupun penggemar.
Bagi komunitas Harley-Davidson, apparel dan merchandise bukan sekadar pelengkap. Produk ini juga lekat dengan identitas dan gaya hidup yang menyertai merek tersebut, sehingga permintaannya tetap terjaga meski pasar unit sedang melambat.
Kenaikan di lini ini membantu perusahaan menjaga aktivitas bisnis tetap hidup. Saat penjualan motor baru menghadapi tekanan, produk pendukung memberi aliran pendapatan yang lebih stabil dan sekaligus menjaga kedekatan dengan pelanggan.
Sikap hati-hati menyambut 2026
Menatap 2026, JLM Auto Indonesia memilih bergerak dengan perhitungan yang ketat. Perusahaan membidik hasil minimal setara dengan capaian tahun lalu, meski tantangan ekonomi global masih membayangi industri otomotif mewah.
Untuk mendukung target itu, distributor mulai memperkenalkan dua model flagship terbaru, Harley-Davidson Road Glide Limited dan Street Glide Limited. Kehadiran keduanya diarahkan untuk menjaga minat pasar sekaligus mempertahankan posisi merek di segmen premium.
Di saat penjualan unit masih tertekan, penguatan layanan purnajual dan penjualan aksesori resmi tetap menjadi fokus utama. Strategi ini penting untuk menjaga loyalitas pelanggan dan menjaga bisnis tetap seimbang ketika pasar motor baru belum benar-benar pulih.





