Bukan Manhattan saja yang jadi sorotan dalam The Devil Wears Prada 2. Sekuel ini juga membawa kamera ke Milan dan Lake Como, sehingga dunia Miranda Priestly terasa lebih luas dan lebih mewah daripada sebelumnya.
Pilihan lokasi itu membuat film tidak hanya kembali ke denyut New York, tetapi juga membuka lapisan visual baru yang menghubungkan hiruk-pikuk kota besar dengan kemegahan Eropa. Hasilnya, identitas mode yang sudah melekat pada waralaba ini tetap terjaga, sambil diberi skala yang lebih besar.
Di New York, Manhattan tetap memegang peran paling penting. Central Park, Madison Square Park, Midtown Manhattan, Chelsea, Hudson Yards, dan gerai Dior yang baru dibuka ikut membentuk lanskap utama yang menjaga film tetap dekat dengan akar ceritanya.
Ruang-ruang itu memberi sinyal yang jelas tentang dunia The Devil Wears Prada, yang selalu berputar di sekitar ambisi, citra, dan kekuasaan. Kehadiran area bisnis dan mode di Manhattan juga mempertahankan nuansa akrab yang dulu membuat film pertamanya begitu ikonik.
Namun sekuel ini tidak berhenti di pusat kota. Brooklyn masuk dengan suasana yang lebih hangat lewat Long Island Bar, lokasi yang dipakai untuk adegan kencan Andy dengan Peter, kekasih barunya yang diperankan Patrick Brammall.
Bar tersebut sudah dikenal dengan neon sign khas dan sejarah lebih dari 50 tahun di Brooklyn. Kehadiran tempat ini membuat adegan terasa lebih intim dan memberi jeda dari dominasi ritme Manhattan yang sibuk.
Wajah New York yang lebih pribadi juga muncul lewat Long Island. Sebuah waterfront estate digunakan sebagai rumah Hamptons milik Miranda, dengan properti berpagar yang disebut bernilai $8.3 juta.
Di sisi lain, kesan glamor tetap dijaga lewat American Museum of Natural History. Bangunan itu dipakai sebagai pengganti gala Met yang fiktif dan menjadi latar megah untuk membuka dunia Runway.
Aula-aula monumental di museum tersebut memberi kesan institusional yang kuat. Pilihan ini sejalan dengan karakter Miranda Priestly dan dunia mode yang lekat dengan prestise.
Setelah New York, Milan muncul sebagai langkah berikutnya yang terasa natural. Kota ini menghadirkan beberapa lokasi seperti Galleria Vittorio Emanuele II, Palazzo Parigi Hotel & Grand Spa, Villa Arconati, halaman gereja Santa Maria delle Grazie, dan Palazzo Clerici.
Salah satu titik yang paling menonjol ada di Accademia di Brera. Sekolah seni rupa itu diposisikan sebagai panggung besar bagi dunia fashion Runway dan menambah dimensi artistik ke dalam cerita.
Kehadiran Milan membuat sekuel ini terasa lebih dari sekadar kembali ke dunia mode. Kota itu memperluas hubungan film dengan mode Eropa yang memang sudah menjadi bagian kuat dari identitas waralaba ini.
Nuansa yang lebih lembut datang dari Lake Como. Pengambilan gambar berpusat di Villa del Balbiano di Tremezzina, sebuah palazzo abad ke-16, serta desa tepi danau Brienno dan Argegno.
Lokasi-lokasi itu memberi kontras terhadap energi Manhattan yang serba cepat. Di saat yang sama, film tetap mempertahankan kemewahan yang menjadi ciri utamanya.
Rangkaian lokasi dari Manhattan, Brooklyn, Long Island, Milan, hingga Lake Como menunjukkan cara sekuel ini membangun pengalaman visual yang lebih luas. Setiap tempat dipakai untuk memperkuat emosi, status, dan ritme naratif yang masih melekat pada dunia The Devil Wears Prada.
Source: en.tempo.co