Ponsel curian tidak selalu berakhir di tangan penadah jalanan. Sebagian justru masuk ke jaringan perdagangan yang jauh lebih rapi, lalu berputar sampai ke sebuah gedung pencakar langit di Shenzhen yang dari luar terlihat seperti pusat elektronik biasa.
Yang membuat kasus ini menarik adalah lokasi peredarannya. Feiyang Times di kawasan Huaqiangbei tampak modern dan normal, tetapi di dalamnya disebut menjadi simpul besar untuk HP curian lintas negara, sampai lantai 4 bangunan itu dikenal warga lokal sebagai “Gedung iPhone Curian”.
Gedung modern yang menyimpan pasar gelap
Di balik kesan sebagai pusat jual-beli perangkat bekas, gedung itu disebut menjadi tempat bertemunya penadah, pembeli komponen, dan jaringan yang memanfaatkan ponsel hasil kejahatan. Barang yang masuk ke sana tidak selalu dijual utuh, karena banyak ponsel terbaru sudah dikunci dengan sistem keamanan yang ketat.
Karena itu, perangkat curian sering dibongkar lebih dulu. Nilai jualnya kemudian berpindah ke motherboard, komponen, dan sparepart yang masih bisa diserap pasar lain meski ponselnya sendiri sudah tidak bisa dipakai normal.
Rantai barang curian bergerak cepat lintas negara
Kasus yang dialami Sam Amrani memperlihatkan betapa cepatnya perangkat curian berpindah tempat. Ponselnya dijambret saat ia membalas pesan WhatsApp di jalanan London, lalu ia melacak sendiri pergerakan iPhone miliknya setelah kejadian itu.
Awalnya, sinyal perangkat terdeteksi di sebuah toko reparasi ponsel beberapa kilometer dari lokasi kejadian. Setelah itu, posisi iPhone terus berpindah di beberapa alamat lain di London sebelum akhirnya keluar dari Inggris dan menuju Kowloon, Hong Kong, lalu menetap di Shenzhen dalam waktu sekitar seminggu.
Ancaman tidak berhenti setelah ponsel hilang
Bagi korban, persoalan tidak selesai begitu perangkat lenyap. Sejumlah korban justru menerima pesan misterius dari pihak yang mengaku bukan pencuri, melainkan pihak ketiga yang akan mendaur ulang perangkat.
Lewat pesan seperti itu, korban ditekan untuk mencabut kunci pengaman seperti iCloud atau Google Lock. Jika menolak, mereka diancam karena motherboard ponsel masih bisa dijual ke pelanggan lain.
Risiko data pribadi ikut ikut terbuka
Pola ini membuat pencurian ponsel berkembang jadi ancaman yang lebih luas dari sekadar kehilangan perangkat. Data pribadi seperti informasi kartu kredit dan data perbankan ikut berada dalam bahaya karena bisa bocor atau disalahgunakan jika perangkat dipreteli tanpa kontrol.
Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana barang curian bisa mengalir dari jalanan kota besar di Eropa sampai ke pusat elektronik di China dengan jalur yang cepat dan terorganisasi. Di tengah semua itu, lokasi Feiyang Times justru menjadi sorotan karena berada di gedung modern, bukan di tempat yang sejak awal tampak seperti pasar gelap.
Bagi pengguna ponsel, kasus ini jadi pengingat bahwa perlindungan perangkat perlu diperketat sejak awal. Pengguna iPhone, misalnya, disarankan mengaktifkan kode sandi yang rumit dan menyalakan fitur Stolen Device Protection untuk menambah lapisan keamanan pada data pribadi.
Source: www.cnbcindonesia.com




