Pelantar.id – Batam menjadi pintu gerbang ke tiga wisatawan setelah Jakarta dan Bali. Sejak dua tahun terakhir pemerintah gencar menghidupkan masa depan pariwisata Indonesia. Berbagai program pun digesakan.

Batam sebagai daerah strategis dan crossborder relatif mudah mendatangkan wisman dengan keuntungan berdekatan dengan Malaysia dan Singapura. Tapi nyatanya posisi tersebut tak selalu memberi dampak untuk Batam dalam mendatangkan wisman bahkan untuk investasi sendiri.

Seperti kita ketahui, dua tahun terakhir kondisi ekonomi Batam memang melemah. Sektor wisata salah satu sektor yang dilirik untuk digairahkan kembali di tengah turunnya minat investasi di Batam.

Untuk menggiatkan pariwisata di Batam, semua stakeholder, pelaku usaha, pelaku wisata dan pemerintah harus punya keterhubungan atau istilah lainnya saling berkolaborasi dan berkoordinasi. Dan sekarang pihak lain yang perlu dilirik juga untuk bekerjasama adalah komunitas dan generasi muda.

Atas alasan menaruh perhatian pada pariwisata Batam, sebuah yayasan yang mulanya bergerak di bidang edukasi yang dikenal dengan Mata Hati menjaring berbagai pihak untuk berdiskusi dalam Focus Group Discussion (FGD), Sabtu, 19 Januari 2019.

Kumpulan pengusaha, akademisi, pemerintah, generasi muda, komunitas, stakeholder dari dalam dan luar negeri dalam waktu singkat berdiskusi dan melemparkan ide-ide baru dalam pengembangan wisata di Batam. Mata Hati mengambil tema Batam For Creative and Educational Tourism.

Baca Juga :   Reels, Fitur Video Pendek dari Instagram yang Saingi Tiktok

“Diskusi ini adalah bentuk tanggungjawab sosial bidang pariwisata, karena kita tahu pemerintah pun sedang menaruh perhatian besar pada sektor ini. Kami tak hanya berdiskusi saja, tapi nantinya dari diskusi harus ada hasilnya dan kami juga akan menjadi eksekutornya,” kata penyenggara acara, Elmy.

Diskusi ini membagi diskusi ke dalam 10 panel dengan mengelompokkan panelis sesuai bidangnya, di antaranya seperti Komunitas Kreatif, Komunitas Bisnis, Komunitas Sosial, Media, Akademisi, Asosiasi Bisnis dan Profesional, Bisnis, Para ekperts, International Networks, dan Pemerintah.

Berbagai gagasan disampaikan, dari pemerintah menilai bahwa banyak fokus pariwisata yang harus dipersiapkan dari potensi wisata yang dimiliki Batam di antaranya Wisata Belanja, Wisata Bahari, Wisata Sport dan sebagainya.

“Kami sedang mempersiapkan 9 fokus pengembangan wisata Batam, hal itu akan menjadi pijakan untuk kita kembangkan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Batam, Ardiwinata.

Sementara Kepala Kantor Perwakilan BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra memberikan banyak masukan untuk situasi wisata Batam yang belum fokus branding. Menurutnya Batam perlu punya Toursim Center. Selain itu menurutnya Batam tidak memiliki story telling yang berkaitan dengan history tentang Batam.

“Kita ini tidak punya story telling, kalau orang tanya Batam itu apa? apa yang bisa dilihat di Batam? Batam tidak punya museum dan tidak punya tourism center sehingga tak punya alur berpikir untuk mengembangakan kebudayaan di Batam,” kata Gusti dalam sesi panelisnya.

Baca Juga :   Melihat Batam dari Menara Masjid Agung

Andrew Chow dari panelis International Network memberikan masukan Batam harus punya Personal Network dan magnet tersendiri untuk menarik wisatawan datang ke Batam. Batam harus membuat program wisata yang memberikan pengalaman untuk wisatawan.

Dari kalangan experts memberi masukan bahwa Batam harus punya keunikan tersendiri. Cara mempromosikan wisatanya harus terintegrasi dan harus punya tagline yang sama.

“Masa saya ketik Batam di Google yang keluar foto orang meeting, itu artinya promosinya belum terintegrasi, kita bisa mencontoh Yogyakarta semuanya dipersiapkan, jadi content core-nya Batam itu harus dipersiapkan dengan baik,” kata Alex Denni, dari panelis Expert.

Selain itu ia juga menambahkan, Batam perlu meningkatkan budaya melayani disamping meningkatkan sadar wisata masyarakatnya. Budaya melayani ini bisa mencontoh bagaimana orang Bali melayani wisatawan.

M. Arief Budiman, Expert lainnya yang lebih fokus pada pengembangan wisata kreatif dan edukasi melirik masalah lembaganya. Menurutnya perlu ada satu departeman yang mewadahi wisata kreatif, yang nantinya dibentuk untuk menyusun semua program city branding.

Dalam diskusi ini masing-masing panelis menyampaikan banyak gagasan yang akan ditampung sebagai output bagi pengembangan wisata Batam bidang wisata kreatif dan wisata edukasi.

eliza gusmeri