Spesies Tikus Lebih Penting Dari Status Liar Atau Peliharaan Dalam Risiko Hantavirus

Di tengah kekhawatiran soal hantavirus, perhatian utama justru perlu diarahkan ke jenis tikus pembawa virus, bukan sekadar apakah hewan itu liar atau peliharaan. IDAI menegaskan bahwa penilaian risiko penularan lebih tepat dilihat dari spesies tikus yang menjadi reservoir virus.

Cara pandang ini penting karena masyarakat kerap mengaitkan bahaya dengan status hewan, padahal dalam pembahasan medis yang lebih menentukan adalah identifikasi spesiesnya. Dengan kata lain, label liar atau peliharaan tidak otomatis menjelaskan seberapa besar potensi penularan ke manusia.

Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, dr. Dominicus Husada, mengatakan literatur ilmiah memang lebih menyoroti nama spesies tikus pembawa virus. Ia menegaskan pembahasan medis tidak membedakan tikus peliharaan atau tikus liar.

Dominicus juga menjelaskan bahwa bentuk tikus pembawa hantavirus bisa beragam. Ada yang berukuran kecil, ada pula yang berekor lebih panjang, tetapi ciri yang dipakai tetap identifikasi spesies.

“Literatur tidak membedakan peliharaan atau tidak. Yang disebutkan itu nama spesiesnya,” ujarnya dalam pemaparan di Jakarta.

Spesies tikus jadi penentu utama

Penjelasan itu sekaligus menegaskan bahwa pembacaan risiko hantavirus tidak cukup hanya berhenti pada tampilan hewan. Dalam konteks medis, nama spesies jauh lebih relevan karena itulah yang menunjukkan tikus mana yang berperan sebagai reservoir virus.

Dominicus menyebut hantavirus yang bukan berasal dari Amerika Latin memiliki tikus pembawa yang juga ditemukan di Indonesia. Kondisi itulah yang ikut menjelaskan mengapa kasus hantavirus pernah teridentifikasi di dalam negeri.

Ia menambahkan bahwa varian virus Andes yang berasal dari Amerika Latin belum pernah ditemukan di Indonesia. Karena itu, kasus yang muncul sejauh ini dikaitkan dengan paparan tikus yang hidup di lingkungan masyarakat.

“Untuk varian yang bukan Amerika Latin, tikus itu ada di Indonesia. Itu mengapa kasus Indonesia juga ada. Cuma Andes ini tidak ada di Indonesia,” kata Dominicus.

Lingkungan padat tetap perlu diwaspadai

Walau penentu utamanya ada pada spesies tikus, keberadaan tikus tetap tidak bisa diabaikan. Risiko paparan akan lebih terasa di wilayah padat penduduk dan dengan sanitasi yang kurang baik.

Di kondisi seperti itu, manusia dan tikus lebih sering berbagi ruang yang sama tanpa pengendalian yang memadai. Situasi tersebut membuat paparan terhadap virus dari tikus tetap mungkin terjadi, meski tidak selalu berujung pada kasus dalam jumlah besar.

Karena itu, perhatian terhadap kebersihan lingkungan dan pengendalian tikus tetap menjadi bagian penting dalam pencegahan. Risiko menjadi lebih besar ketika area tempat hidup tikus tidak ditangani dengan baik.

Jangan tertukar dengan leptospirosis

Dominicus juga mengingatkan agar hantavirus tidak disamakan dengan leptospirosis. Keduanya memang sama-sama melibatkan tikus dalam proses penularan, tetapi penyebab penyakitnya berbeda.

Hantavirus disebabkan oleh virus, sedangkan leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira. Jalur penularannya bisa serupa karena sama-sama melibatkan urine tikus, tetapi dampak klinis dan perjalanan penyakitnya tidak sama.

Ia mencontohkan leptospirosis yang kerap ditemukan di wilayah seperti Jakarta saat banjir. Dalam kondisi berat, penyakit itu dapat menimbulkan gangguan hati dan memunculkan gejala kuning pada kulit serta mata.

“Leptospira itu bakteri, kalau hantavirus ini virus. Penularannya hampir sama karena melibatkan tikus, tetapi perjalanan penyakitnya berbeda,” ujar Dominicus.

Dengan begitu, yang perlu diingat bukan hanya keberadaan tikus di sekitar manusia, melainkan juga jenis tikus yang menjadi pembawa virus. Pemahaman ini penting agar risiko hantavirus dibaca secara tepat, terutama di lingkungan padat penduduk yang sanitasi lingkungannya masih lemah.

Source: lifestyle.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button