Pelantar.id – Matahari belum menunjukkan pancaraannya pagi itu. Suara lantunan ayat suci Al-Quran bahkan belum terdengar dari pengeras suara masjid sekitar.

Tapi Sumiyati (48) terganggu tidurnya akibat suara decitan kayu yang terus terdengar.

“Saya pikir ada perkelahian, pas liat dari jendela, kok ya rumah di sebelah bergerak. Malah ada yang amblas ke air,” katanya saat dijumpai di tenda pengungsian sementara di belakang Pasar Induk, Jodoh, Lubukbaja, Senin (30/12).

Sumiyati merupakan salah satu korban amblasnya tanah yang diduga diakibatkan proyek timbunan lahan di samping Pasar Induk, Jodoh.

Kejadian yang terjadi pada Minggu (29/12) sekitar pukul 04:00 WIB itu pun mengakibatkan 84 rumah mengalami rusak parah. 224 warga pun terpaksa mengungsi akibat kejadian tersebut.

Sumiyati berkisah, pada saat kejadian pintu rumahnya tak lagi dapat dibuka karena kayu pondasi rumah sudah saling berhimpitan.

Letak rumahnya yang berada di tengah pemukiman juga menyulitkannya mengevakuasi diri. Suaminya pun akhirnya terpaksa mendobrak dinding rumah sebagai jalur evakuasi.

Baca Juga :   Barack Obama hingga Hillary Clinton Sambut Kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS

“Setelah dinding dijebol, suami saya langsung terjun ke laut. Anak saya yang masih berumur 2 tahun pun langsung saya lempar dari atas rumah ke suami yang sudah di bawah,” ungkapnya.

Dalam kondisi minim cahaya, Sumiyati beserta suami dan anaknya pun berusaha berenang ke arah tepian pantai Tanjunguma yang berjarak sekitar 10 meter dari rumahnya.

Tingginya permukaan air laut yang mencapai dada orang dewasa membuat Sumiyati dan suaminya harus berjalan untuk sampai ke tepian pantai Tanjunguma. Akibatnya, ia dan suami pun mendapati kakinya penuh luka akibat menabrak benda-benda di bawah air.

Tak hanya itu, ia pun tak dapat menyelamati barang-barangnya. Yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badan karena ia dan seluruh warga yang terdampak kejadian belum diperkenankan kembali ke rumah karena alasan keselamatan.

Sementara Saudi (43), warga lainnya sedikit beruntung. Sebab rumahnya berada di bagian depan pemukiman tersebut. Sama seperti Sumiyati, Saudi juga terbangun dari tidur karena mendengar decitan kayu yang saling bergesek.

Baca Juga :   Wali Kota: Batam Milik Kita Semua

“Suaranya itu kayak suara tikus tapi kok makin lama makin keras. Setelah itu baru disusul suara orang-orang pada panik,” kata dia.

Saudi menerangkan, pemukiman di belakang Pasar Pagi, Jodoh itu telah ada sejak tahun 90-an. Mayoritas warganya pun merupakan pedagang yang melapak di sekitaran Pasar Jodoh.

Ia merinci, 34 rumah rusak berat akibat kejadian tersebut. Sementara 18 orang mengalami luka-luka dan salah satu warga meninggal karena panik dan tak bisa menyelamatkan diri.

“Yang meninggal itu punya penyakit jantung, jadi pada saat kejadian dia panik,” terangnya.

Di lokasi kejadian, terlihat beberapa retakan baik di tanah maupun dinding rumah warga. Beberapa rumah warga juga tampak miring dan menjorok ke arah laut.

Pelantar kayu yang menjadi akses jalan warga pun sebagian amblas dan berbahaya untuk dilalui.

Berdasarkan penuturan Saudi, lokasi kejadian merupakan pemukiman liar dan masuk dalam wacana penggusuran Pasar Induk Jodoh November lalu. Namun, belum adanya kejelasan ganti rugi membuat seluruh warga enggan meninggalkan lokasi.

Baca Juga :   3 Negara Eropa Ini Berkontribusi Signifikan pada Investasi Asing di Batam

“Besaran ganti rugi itu Rp10 juta atau Rp3 juta ditambah kavling. Tapi letak kavlingnya di mana tak ada kejelasan. Makannya warga belum pindah walau di depan itu ada proyek penimbunan,” tuturnya.

Atas kejadian itu, Dinas Sosial (Dinsos) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri pun membangun satu posko bantuan. Yang di dalamnya terdapat satu tenda penampungan sementara, satu dapur umum, dan satu tenda penerimaan bantuan.

Kepala Dinsos Kepri, Dolli Boniara mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait dalam menangani permasalahan tersebut. Pihaknya juga akan mendatangkan mobil mandi, cuci, dan kakus (mck) dan mobil tangki air milik pemadam kebakaran masing-masing satu unit.

“Sejauh ini yang menjadi prioritas kami adalah keamanan dan keselamatan seluruh warga yang terdampak. Masyakarat yang ingin memberikan bantuan pun dapat mengirimkan bahan-bahan pokok serta pakaian dan selimut,” ujarnya.

(Ft)