pelantar.id – Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Isdianto mengatakan, wilayah perbatasan menjadi garda terdepan dalam upaya mengawasi dan menangkal masuknya paham radikal ke Indonesia. Untuk itu, seluruh elemen masyarakat di wilayah perbatasan harus berperan aktif.

Menurut Isdianto, masyarakat di perbatasan, harus ikut serta melakukan pengawasan terhadap lalu lintas orang yang masuk ke wilayahnya masing-masing. Selain itu, masyarakat juga ikut mengawasi peredaran dana ilegal serta barang-barang yang diduga berbahaya maupun melanggar hukum.

“Para pelaku terorisme bisa masuk dengan memanfaatkan kelemagan sistem pengawasan di wilayah perbatasan. Karena itu, saya mengajak seluruh elemen masyarakat di Kepri untuk ikut aktif meningkatkan pengawasan di lingkungan masing-masing,” katanya ditemui usai acara diskusi di Batam, baru-baru ini.

Wagub Kepri, Isdianto

Isdianto juga berharap ada peningkatkan koordinasi di semua lini instansi pemerintahan dan organnisasi masyarakat, termasuk aparat keamanan dalam pencegahan dan penanganan paham-paham radikal. Menurutnya, sebagai wilayah kepulauan, Kepri sangat rentan disusupi jaringan teroris baik dari Indonesia maupun internasional.

Baca Juga :   Sejarah Melayu di Kampung Tua Tanjung Uma

Secara geografis, Kepri yang berbatasan langsung dengan banyak negara. Sebelah utara Kepri berbatasan dengan negara Vietnam dan Kamboja. Di barat ada Singapura dan Malaysia. Sedangkan di bagian timur, Kepri berbatasan langsung dengan negara Malaysia dan Provinsi Kalimantan Barat.

“Apalagi, di Kepri ini banyak sekali pelabuhan ilegal, ada sekitar 125 pelabuhan tikus yang tersebar di semua daerah. Ini butuh pengawasan ekstra,” kata dia.

Komitmen pada NKRI

Di tempat yang sama, Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Reni Yusneli mengatakan, ada kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai paham-paham radikal dan ingin memecah belah Bangsa Indonesia. Hal itu bisa dicegah jika seluruh elemen masyarakat bersatu dan berkomitmen pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga :   Tempat Ini jadi Pusat Destinasi Wisata di Tanjung Pinang

Indonesia, lanjut Reni, adalah bangsa yang hidup dalam suasana pruralitas suku, ras, budaya dan agama sehingga terbiasa dengan perbedaan. Semua perbedaan tersebut selama ini sudah terpelihara dan terjaga dengan baik, dengan prinsip hidup berdampingan dalam damai.

“Semboyan kita sudah jelas, semangat kesatuan yang terekspresikan dalam Bhineka Tunggal Ika. Tapi selalu saja ada yang mencoba menganggu dengan menyebarkan paham-paham radikal. Ini yang harus terus kita antisipasi,” ujarnya.

 

 

Editor : Yuri B Trisna