Tekanan Serangan Digital Makin Ganas, RI Catat 1,52 Miliar Serangan Cuma Dalam 3,5 Bulan

Di ruang digital Indonesia, ancaman siber kini sudah bergerak jauh melampaui gangguan teknis biasa. Serangan itu menyasar lembaga pemerintahan, sektor ekonomi, layanan publik, hingga keamanan nasional.

Tekanan tersebut terlihat dari lonjakan angka serangan yang terus membesar. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara yang disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, sepanjang 2025 tercatat 5,5 miliar serangan siber.

Jumlah itu naik 714% atau sekitar 7 kali lipat dibanding rata-rata tahunan pada periode 2020-2024. Bahkan, pada awal 2026, tekanan itu belum juga turun.

Dalam rentang 1 Januari sampai 15 April 2026, sudah tercatat 1,52 miliar serangan siber. Angka ini menunjukkan bahwa ruang digital nasional masih berada di bawah ancaman yang sangat tinggi.

Dudung menilai skala serangan seperti itu memperlihatkan bahwa keamanan digital dan perlindungan data pribadi tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan teknis semata. Menurut dia, kesadaran untuk menjaga keamanan digital perlu menjadi perhatian bersama.

Ancaman digital yang terus meluas ini juga berdampak pada kehidupan sehari-hari. Saat aktivitas makin bergantung pada internet, risiko pencurian data pribadi, penipuan online, hoaks, peretasan sistem, sampai propaganda radikalisme ikut membesar.

Pemerintah memandang persoalan ini sebagai tantangan lintas sektor. Dudung menyebut serangan digital bukan hanya memukul satu bidang, tetapi juga berpotensi mengganggu fungsi negara dan layanan publik.

Di sisi lain, kemajuan teknologi digital memang membuka banyak peluang. Namun, perkembangan yang sama juga memberi ruang lebih besar bagi pelaku kejahatan untuk menyebarkan hoaks, melakukan penipuan, dan mencoba meretas sistem penting.

Karena itu, pemerintah memperkuat sistem keamanan siber nasional melalui berbagai kementerian dan lembaga. Kantor Staf Presiden juga mendorong koordinasi lintas sektor agar ancaman siber dapat ditangani secara cepat, terukur, dan terpadu.

Meski begitu, penguatan sistem negara saja tidak cukup. Dudung menekankan bahwa masyarakat juga memegang peran penting karena semakin banyak aktivitas harian kini berlangsung di ruang siber.

Ia mengajak publik lebih bijak memakai media sosial dan menjaga kerahasiaan data pribadi. Literasi digital juga perlu ditingkatkan supaya masyarakat tidak mudah terprovokasi informasi palsu dan tidak gampang terjebak penipuan digital.

Dengan volume serangan yang terus menanjak hingga awal 2026, ketahanan ruang digital Indonesia kini bergantung pada dua hal sekaligus. Penguatan keamanan negara harus berjalan seiring dengan kewaspadaan pengguna di tingkat paling dasar.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button