Banyak orang makan telur karena praktis, tetapi waktu menyantapnya ikut menentukan manfaat yang paling terasa. Di satu sisi, telur bisa membantu perut lebih kenyang sejak pagi. Di sisi lain, telur juga relevan setelah olahraga saat tubuh butuh bahan untuk pemulihan otot.
Pilihan waktu ini pada akhirnya bergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Jika targetnya menahan lapar lebih lama, sarapan bisa jadi momen yang paling pas, sedangkan setelah latihan lebih cocok untuk mendukung perbaikan jaringan otot.
Saat pagi, telur membantu rasa kenyang bertahan lebih lama
Sarapan dengan telur sering dipilih karena proteinnya memberi efek kenyang yang lebih awet. Ini penting bagi orang yang ingin mengurangi kebiasaan ngemil sebelum jam makan berikutnya.
Satu butir telur utuh berukuran besar sekitar 50,3 gram mengandung sekitar 6,3 gram protein, menurut FoodData Central. Protein ini juga berperan dalam menekan hormon ghrelin yang memicu lapar, sambil membantu meningkatkan hormon GLP-1 dan PYY yang berkaitan dengan rasa kenyang.
Sebuah penelitian dalam International Journal of Environmental Research and Public Health pada 2020 menunjukkan bahwa sarapan telur dapat mengurangi rasa lapar dibandingkan sarapan sereal pada waktu yang sama. Temuan ini memperlihatkan bahwa telur bukan hanya sumber protein, tetapi juga bisa memengaruhi kontrol nafsu makan sejak awal hari.
Pagi hari juga memudahkan asupan protein harian
Bagi orang yang ingin lebih mudah memenuhi kebutuhan protein, telur di pagi hari bisa menjadi langkah yang sederhana. Tubuh juga baru saja melewati jam tidur malam, sehingga asupan nutrisi di awal hari terasa membantu untuk memulai aktivitas.
Protein dalam telur diserap secara perlahan, sehingga efek kenyangnya bisa bertahan sampai waktu makan siang. Para ahli yang dilansir Verywell Health tetap menyarankan protein dibagi sepanjang hari, tetapi telur tetap dinilai sebagai salah satu sumber yang baik untuk memulai hari.
Cara memasaknya tidak banyak mengubah kadar proteinnya. Satu butir telur utuh, baik direbus maupun digoreng, memiliki jumlah protein yang hampir sama, yaitu sekitar 6,3 gram atau setara 13 persen dari kebutuhan harian tubuh.
Setelah olahraga, telur masuk ke fase pemulihan
Kalau tujuannya adalah pemulihan otot, waktu makan telur setelah olahraga punya peran tersendiri. Pada fase ini, tubuh membutuhkan asupan yang tepat untuk mempertahankan dan memperbaiki massa otot.
Telur relevan karena mengandung protein berkualitas tinggi. Pembentukan otot sendiri tidak hanya bergantung pada latihan, tetapi juga pada keseimbangan lemak sehat, karbohidrat, dan protein.
Di dalam telur ada sembilan asam amino esensial yang tidak bisa diproduksi tubuh, termasuk leusin. Dalam satu butir telur berukuran 50 gram, leusin tercatat sekitar 0,53 gram dan berperan penting dalam sintesis protein untuk membangun jaringan otot baru.
Nutrisi lain dalam telur juga ikut mendukung pemulihan. Vitamin D, asam lemak omega-3, dan fosfolipid membantu proses perbaikan jaringan, sehingga telur sering dipandang sebagai makanan pemulihan yang praktis setelah latihan.
Peneliti juga menemukan bahwa pria muda yang mengonsumsi telur utuh setelah berolahraga mengalami peningkatan sintesis otot dibandingkan mereka yang hanya makan putih telur, melansir Health. Temuan itu menunjukkan bahwa bagian utuh telur memberi dukungan lebih lengkap untuk kebutuhan otot setelah latihan.
Waktu terbaik mengikuti target tubuh
Tidak ada satu waktu yang selalu paling unggul untuk semua orang. Sarapan lebih cocok bila fokusnya menahan lapar lebih lama, sementara setelah olahraga lebih pas bila yang dicari adalah pemulihan dan pembentukan otot.
Dengan kandungan protein, asam amino esensial, dan nutrisi pendukung lain, telur tetap fleksibel untuk dua kebutuhan berbeda. Karena itu, memilih waktu makan telur lebih tepat jika disesuaikan dengan tujuan tubuh pada hari itu.
Source: www.beautynesia.id