Gus Mus

pelantar.id – Pemilihan presiden, 17 April 2019 sudah  tinggal hitungan minggu. Di tengah panasnya suhu politik, masyarakat diimbau untuk tidak melupakan kemanusiaannya.

Imbauan itu disampaikan ulama asal Rembang, Jawa Tengah, Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri, yang karib disapa Gus Mus  ketika memberikan sambutan dalam pameran seni rupa di OHD Museum, Magelang, Jawa Tengah, baru-baru ini.

“Kita berdoa saja Indonesia menjadi lebih baik. Kita tidak terpengaruh dengan pilpres. Pilihan Anda siapa pun saja, jangan tinggalkan diri Anda sebagai manusia. Anda pilih siapa saja, jangan tinggalkan kemanusiaan Anda. Tetaplah menjadi manusia jangan menjadi cebong atau kampret,” kata Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri, yang karib disapa Gus Mus.

Baca Juga :   Mortal Engines, Film Epik Pertempuran Melawan Kota Predator

Pameran yang bertajuk “Manusia dan Kemanusiaan” itu melibatkan 18 perupa dan berlangsung selama 26 Januari-15 April 2019.

“Pameran ini bukan gagasan saya. Ini gagasan kita semua. Mungkin yang merasakan keresahan manusia bukan saya sendiri, semua yang merasa resah terhadap kemanusiaan adalah yang memiliki gagasan ini,” kata Gus Mus.

Menurut dia, di dunia ini sudah banyak manusia tercerabut kemanusiaannya dan akan menjadi lebih sedih karena bangsa ini mempunyai sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

“Mungkin dunia sudah terlalu tua, konon katanya sudah kiamat tahun 2012, manusia menjadi memprihatinkan. Lebih memprihatinkan lagi justru kita melihat agama yang mestinya mendekatkan manusia kepada Tuhan-nya, justru akhir-akhir ini menjauhkan manusia dari Tuhan-nya, bahkan dari dirinya sendiri,” katanya.

Baca Juga :   Telkomsel Luncurkan Program Innovation Center, Kembangkan Ekosistem IoT

Gus Mus mengatakan, keprihatinan inilah yang membuat para seniman menyelenggarakan pameran seni rupa itu.

“Saya dulu memang mengatakan kita ini tidak kreatif. Ketika zaman Orde Lama politik yang dijadikan panglima, ketika Orde Baru ekonomi dijadikan panglima. Sekarang ini kembali politik yang dijadikan panglima, ini kan tidak kreatif,” ujar dia.

Menurut Gus Mus, sekali-sekali budaya dijadikan panglima. Minimal dicoba daripada jadi manusia yang gagah tetapi tidak berbudaya.

*****

Sumber : Antara