Pelantar.id – Kesepakatan beberapa maskapai minggu lalu untuk kembali menurunkan tarif tiket pesawat tampaknya hanya berlangsung sementara saja. Penurunan yang dijanjikan hingga 60 persen pun masih terkesan setengah hati.

Harga tiket kembali naik dan kondisi tersebut berdampak pada sepinya rute penerbangan. Sebagai contoh untuk Batam. Harga tiket dari dan ke Batam dari berbagai rute masih tergolong mahal.

Dipantau per tanggal 1 Februari 2019 harga tiket Batam-Padang sekitar Rp 750 ribuan, bahkan ada maskapai yang mematok hingga Rp 1 juta. Padahal sejak keputusan penurunan tiket, harga tiket tersebut cukup bersahabat di bawah harga Rp 700 ribu.

Naiknya harga tiket pesawat akan menimbulkan banyak dampak. Di Bandara Batam sendiri dilaporkan jumlah penerbangan tampak sepi hingga maskapai membatalkan rute Batam lantaran sepinya penumpang. Apa dampak lainnya yang akan terjadi?

Dilansir dari merdeka.com berikut dampak yang telah ditimbulkan akibat kenaikan tiket pesawat tersebut

Sebanyak 1433 Penerbangan Dibatalkan

Sebanyak 433 penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, terpaksa dibatalkan sejak awal Januari 2019. Pembatalan dilakukan karena jumlah penumpang menurun drastis terkena imbas mahalnya harga tiket pesawat.

Baca Juga :   Mengenal Zoom, Aplikasi Video Conference yang Lagi Booming Digunakan

Berdasarkan data PT Angkasa Pura II selaku otoritas Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II di Pekanbaru, selama periode tanggal 1 sampai 21 Januari, ada 212 penerbangan domestik menuju Pekanbaru yang batal, sedangkan penerbangan dari Pekanbaru yang batal ada 217 penerbangan.Jumlah

Penumpang Turun 3.000 Orang per Hari

Kenaikan harga tiket pesawat membuat jumlah penumpang pengguna jasa angkutan udara di Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman berkurang hingga 3.000 orang per hari. Angka ini berdasarkan data yang dihimpun dari PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara.

“Pergerakan penumpang saat ini untuk kepergian dan kepulangan hanya sekitar 7.000 penumpang, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 11 ribu penumpang,” kata Humas PT Angkasa Pura II BIM, Fendrick Sondra di Padang, Minggu (20/1).

Ganggu Kunjungan Wisata

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Barat, Dewantoro Umbu Joka menilai mahalnya harga tiket pesawat tujuan Lombok dapat mengganggu kunjungan wisatawan ke daerah itu.

“Mahalnya tiket pesawat ini sangat mengganggu kunjungan wisatawan ke NTB. Akibatnya juga berdampak pada penurunan pendapatan UMKM, seperti pusat oleh-oleh dan kuliner. Karena calon wisatawan akan berfikir dua kali mau datang belanja oleh-oleh. Belum di tambah bagasi yang berbayar,” ujarnya seperti ditulis Antara Mataram, Selasa (22/1).

Baca Juga :   Lebih Amis Memancing di Pulau Dempu, Galang Baru

Berdampak pada inflasi

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui bahwa kenaikan harga tiket pesawat dalam beberapa waktu belakangan akan menyumbang kenaikan inflasi Januari 2019. Meski demikian, kenaikan belum akan berdampak besar kepada inflasi tahunan.

“Tentu akan ada pengaruhnya. Tetapi, inflasi itu bukan suatu yang statis. Pada saat kita sudah melihat ada kenaikan, buru-buru dikoreksi itu enggak akan kelihatan dampaknya secara ini,” ujar Menko Darmin di Kantornya, Jakarta, Selasa (22/1).

Mengganggu pertumbuhan ekonomi

Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Riau mengkhawatirkan kenaikan tarif pesawat akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di industri yang berkaitan dengan transportasi udara.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, Siti Astiyah mengatakan, tarif pesawat akan berdampak pada industri seperti logistik dan juga perdagangan berbasis elektronik (e-commerce).

“Kita perlu diskusi untuk tidak menghambat industri, terutama industri e-commerce yang sedang kita coba bantu kembangkan di Riau,” katanya seperti ditulis Antara, Minggu (22/1).

sumber: merdeka.com