Tubuhnya Menyatu Dengan Tanah Gurun, Pelejang Ternyata Burung Pantai Yang Berburu Saat Malam

Di antara hamparan gurun yang panas dan terbuka, pelejang justru mengandalkan strategi yang lebih mirip pelari daripada penghuni tepi air. Burung ini bergerak cepat di tanah, lalu menghilang lagi berkat bulunya yang menyatu dengan warna sekitarnya.

Keunikan itu membuat pelejang atau courser menonjol di antara kelompok burung pantai. Meski masih satu famili dengan burung terik, cara hidupnya jauh berbeda karena memilih wilayah kering dan gersang sebagai tempat utama.

Bukan burung pantai yang biasa ditemui di pesisir

Pelejang merupakan anggota famili Glareolidae, kelompok yang juga menaungi burung terik. Bedanya, pelejang tidak bergantung pada tepi air dan lebih sering hidup di lahan terbuka yang kering.

Pilihan habitat ini membuat pelejang punya pola hidup yang sangat berbeda dari burung pantai pada umumnya. Saat burung lain mencari makan di lumpur atau pesisir, pelejang justru melintasi tanah panas yang minim tempat berlindung.

Tubuhnya dirancang untuk bergerak cepat

Bentuk tubuh pelejang tampak ramping, tinggi, dan tegak. Kakinya panjang, lalu paruhnya runcing dengan ujung melengkung ke bawah.

Ciri fisik itu mendukung kebiasaannya mengejar mangsa di darat. Nama Inggris courser sendiri berasal dari kata Latin yang berarti pelari, dan sebutan itu memang pas dengan cara bergeraknya.

Warna tubuhnya membantu menyamar

Sebagian besar pelejang berwarna kecokelatan, sehingga mudah menyatu dengan tanah gurun. Kamuflase ini penting karena habitatnya terbuka dan tidak banyak memiliki naungan.

Pada jenis tertentu dari marga Rhinoptilus, ada juga garis hitam-putih dari belakang mata hingga tengkuk. Pola itu membantu bentuk tubuh burung sulit dikenali, baik oleh predator maupun mangsa.

Menariknya, efek penyamaran itu berubah saat pelejang terbang. Kontras antara bulu sayap yang hitam dan bulu tubuh yang kecokelatan membuatnya lebih jelas terlihat di udara.

Aktif saat suhu tidak lagi menyengat

Pelejang jarang terlihat bergerak di bawah terik matahari karena sifatnya nokturnal. Saat siang, burung ini biasanya berteduh di bawah semak.

Sepasang pelejang atau keluarga kecilnya kerap diam di tempat teduh ketika panas sedang tinggi. Aktivitas mulai ramai setelah senja, saat mereka berburu makanan di tanah terbuka.

Pemburu serangga yang mengandalkan lari

Kaki panjang pelejang dipakai untuk berlari mengejar mangsa yang kabur di permukaan tanah. Burung ini bisa berlari jarak jauh untuk menangkap serangga.

Paruhnya membantu memungut serangga dan makhluk kecil lain dengan cepat dan akurat. Pola bergeraknya juga khas, yaitu lari lalu berhenti, mirip perilaku yang umum pada burung cerek atau plover.

Ukuran bervariasi, tetapi tetap mudah dikenali

Pelejang tergolong burung berukuran sedang. Salah satu jenis terbesar adalah pelejang sayap-perunggu, dengan panjang 25—29 sentimeter dan berat 91—220 gram.

Di sisi lain, pelejang Temminck menjadi jenis terkecil sekaligus paling luas tersebar. Panjang tubuhnya 19—21 sentimeter dengan berat sekitar 70 gram.

Berkembang biak dengan sarang sangat sederhana

Karena hidup di habitat terbuka, pelejang tidak punya banyak pilihan saat bertelur. Sarangnya hanya berupa cekungan di tanah, lalu telur diletakkan begitu saja di sana.

Telur dan anak burungnya tetap terlindungi oleh corak tubuh yang menyerupai tanah bebatuan di sekitarnya. Beberapa jenis bahkan menaruh telur di dekat kotoran hewan yang warnanya mirip dengan telur mereka, sehingga penyamaran di gurun berbatu makin kuat.

Di keluarga burung pantai ini, pelejang menunjukkan bahwa hidup jauh dari air bukan hal mustahil. Justru di lingkungan yang keras dan terbuka, kemampuan berlari, kamuflase, dan kebiasaan aktif malam hari menjadi kunci bertahan hidupnya.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version