Pasar minyak dunia sedang menyesuaikan diri dengan langkah besar Uni Emirat Arab yang memutuskan keluar dari OPEC. Keputusan ini langsung mengubah cara pelaku pasar membaca arah pasokan, karena salah satu anggota penting kini tidak lagi terikat pada koordinasi kolektif yang selama ini menjaga keseimbangan produksi.
Bagi Abu Dhabi, keputusan tersebut bukan sekadar soal organisasi. UEA ingin memberi ruang gerak yang lebih luas untuk kebijakan energinya sendiri, terutama saat negara itu melihat ada kebutuhan menyesuaikan produksi dengan kepentingan nasional dan prospek permintaan di masa depan.
UEA ingin lepas dari batas kuota
Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, menyebut langkah ini lahir dari evaluasi mendalam atas strategi energi nasional. Dalam laporan Al Jazeera, keputusan itu disebut menunjukkan keinginan UEA untuk mengejar kapasitas produksi yang lebih besar tanpa dibatasi kuota kolektif OPEC+.
Itu penting karena sistem kuota selama ini dianggap makin tidak cocok bagi negara produsen berbiaya rendah. Saat permintaan minyak mendekati puncak, dorongan untuk menambah output menjadi semakin kuat, sementara aturan pembagian produksi justru membatasi langkah sebagian anggota.
Dampaknya terasa ke kekuatan kolektif produsen
Rystad Energy menilai keluarnya UEA akan mengubah kekuatan para produsen minyak secara mendasar. Jorge Leon dari lembaga tersebut mengatakan hilangnya anggota dengan kapasitas 4,8 juta barel per hari membuat kelompok produsen kehilangan salah satu alat penting untuk menjaga pengaruh di pasar.
Leon juga menyoroti dilema yang dihadapi produsen berbiaya rendah ketika mereka harus menunggu giliran dalam sistem kuota. Dalam situasi permintaan yang tinggi, pembatasan seperti itu membuat keinginan untuk memproduksi lebih banyak sulit dibendung.
Arab Saudi dipaksa memikul beban lebih besar
Kepergian UEA membuat perhatian pasar ikut mengarah ke Arab Saudi. Menurut Leon, pasar kini kehilangan salah satu peredam guncangan yang tersisa, sehingga beban menyeimbangkan harga semakin banyak jatuh ke Riyadh.
Selama bertahun-tahun, OPEC berusaha tampil sebagai blok yang padu untuk mengatur pasokan minyak dunia. Namun keluarnya salah satu anggota kunci justru memperlihatkan bahwa koordinasi internal tidak lagi sekuat dulu, dan itu bisa membuat volatilitas pasar makin mudah naik saat ketidakpastian sedang tinggi.
Timur Tengah tetap jadi sumber risiko utama
Risiko pasokan juga tidak berdiri sendiri karena ketegangan di Timur Tengah belum mereda. Pertikaian yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah mengganggu arus keluar masuk sepertiga pasokan gas alam cair dan seperlima minyak mentah dunia melalui Selat Hormuz.
Jalur ini sangat strategis bagi distribusi energi global. Karena itu, setiap gangguan di sana langsung memicu kekhawatiran soal keamanan pasokan, terutama bagi produsen di Teluk yang harus memastikan pengiriman komoditas tetap berjalan di tengah kondisi yang rapuh.
Tekanan terhadap OPEC sudah lama berlangsung
Di saat yang sama, OPEC sendiri sudah lama menghadapi tekanan dari luar. Meningkatnya produksi minyak mentah Amerika Serikat membuat pengaruh organisasi ini menyusut, meski selama bertahun-tahun OPEC dikenal sebagai simbol kerja sama produsen minyak dalam mengatur harga dan pasokan.
Kritik dari Amerika Serikat juga ikut membayangi. Donald Trump pernah menuduh OPEC merampok dunia lewat inflasi harga dan mengaitkan dukungan keamanan Amerika di Teluk dengan kewajiban menjaga harga minyak tetap rendah.
Hubungan regional ikut memengaruhi langkah Abu Dhabi
Di balik keputusan UEA, ada pula dinamika politik kawasan yang ikut berperan. Persaingan ekonomi antara UEA dan Arab Saudi di Laut Merah disebut turut memperburuk hubungan kedua negara.
Keduanya memang pernah berada dalam satu barisan saat melawan pemberontak Houthi di Yaman pada 2015. Namun kerja sama itu kemudian retak setelah ketegangan meningkat, termasuk ketika Saudi melakukan serangan udara terhadap pengiriman senjata yang dituding menuju kelompok separatis yang didukung UEA.
UEA juga disebut tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan Arab Saudi sebelum mengambil keputusan keluar dari OPEC. Hal itu menegaskan bahwa Abu Dhabi kini bergerak dengan perhitungan sendiri, di tengah pasar minyak yang makin sulit diprediksi dan semakin rentan terhadap guncangan.
Source: www.suara.com




