Pelantar.id – Minuman bubble tea alias boba diserbu warga Singapura. Berbagai gerai boba pun mengalami tekanan besar karena permintaan yang melonjak drastis.

Hal ini terjadi setelah adanya pengumuman pemerintah setempat bahwa pada 21 April semua gerai makanan dan minuman yang berdiri sendiri, seperti toko teh bubble, akan ditutup hingga 4 Mei, banyak warga Singapura mengeluarkan ponsel mereka untuk memesan “satu teh bubble terakhir.”

Bahkan pada pemesanan terakhir, ada seorang pengantar kiriman yang adu argumen dengan staf di sebuah gerai di Waterway Point di Playmade. Ketegangan pun memuncak antara pengendara pengiriman dan staf gerai.

Dalam video yang tersebar di media sosial, driver pegantaran terlihat meneriaki karyawan. Namun akhirnya pria itu harus ditahan karena dianggap menganggu ketenangan publik.

Baca Juga :   Dishub Batam Kaji Rambu Larangan Parkir di Nagoya

Dalam unggahan media sosial lainnya, mengutip Asia One, gerai boba tersebut menerima 150 pesanan berbeda, dengan jumlah rata-rata 600 gelas dalam satu jam terakhir tutup gerai.

Sementara itu, pegawai gerai boba lain di Liho Century Square sempat menangis karena kelelehan. Salah seorang kurir pengantar Adam Shah, hanya ada dua orang di belakang meja kasir sedangkan di luarnya ada sekitar 30 pengantar yang menunggu untuk mengambil pesanan pelanggan mereka.

Selain Singapura, hal yang sama juga terjadi di Jepang. Namun bukan soal boba melainkan soal kopi. Starbucks adalah gerai kopi besar di Jepang dan memiliki 1200 cabang lebih.

Seiring dengan keadaan darurat yang dinyatakan oleh pemerintah pusat Jepang, Starbucks Jepang menutup 850 toko mereka.

Baca Juga :   Karimun Kini Punya Kampung Tertib Lalu Lintas, Dilengkapi Fasilitas Praktik Bikin SIM

cnnindonesia