WHO Telusuri Dugaan Hantavirus di MV Hondius, Ruang Tertutup Picu Kekhawatiran

Saat kapal pesiar MV Hondius masih berlayar di perairan Atlantik Selatan, penanganan darurat kesehatan harus dijalankan untuk sejumlah penumpang dan kru yang menunjukkan gejala. Kini, WHO ikut memantau kasus tersebut setelah muncul dugaan hantavirus, penyakit langka yang bisa berdampak berat dan menjadi lebih rumit dikendalikan di ruang tertutup seperti kapal.

Fokus utama saat ini adalah pelacakan penularan, perawatan pasien, dan pemindahan orang yang membutuhkan bantuan medis. WHO menyebut investigasi epidemiologis masih berlangsung sambil menunggu hasil pengujian lanjutan untuk memastikan sejauh mana penyebaran terjadi di kapal itu.

MV Hondius sendiri bukan kapal biasa. Kapal pesiar kutub sepanjang 107,6 meter itu dapat menampung 170 penumpang di 80 kabin, dengan dukungan 57 awak, 13 pemandu wisata, dan seorang dokter.

Perjalanan kapal dimulai dari Ushuaia di Argentina selatan, lalu melintasi Antartika dan Kepulauan Falkland sebelum menuju Kepulauan Canary, Spanyol. Masalah kesehatan mulai terdeteksi ketika kapal berada di Atlantik Selatan dan masih membawa sekitar 150 wisatawan dari berbagai negara.

Data Departemen Kesehatan Afrika Selatan menyebut korban pertama adalah pria berusia 70 tahun yang meninggal di atas kapal. Sebelum meninggal saat kapal singgah di Pulau St Helena, ia mengalami demam, sakit kepala, sakit perut, dan diare.

Korban kedua adalah pasangan pria tersebut, seorang wanita berusia 69 tahun. Ia sempat dievakuasi ke Afrika Selatan, tetapi kemudian meninggal di rumah sakit di Johannesburg.

Korban ketiga merupakan warga negara Belanda, dan proses pemulangan jenazahnya masih berlangsung. Seorang tamu lain yang memiliki hubungan dekat dengan korban juga ikut ditangani dalam proses pemulangan tersebut.

WHO menyatakan satu kasus sudah terkonfirmasi lewat uji laboratorium, sementara lima kasus lain masih berstatus suspek. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan melalui platform X bahwa WHO memfasilitasi evakuasi medis bagi penumpang yang bergejala.

Ia juga menyebut WHO melakukan penilaian risiko kesehatan masyarakat secara menyeluruh dan membantu penanganan kapal yang kini bersandar di Praia, Tanjung Verde. Selain itu, perawatan medis dan dukungan diberikan kepada penumpang serta kru yang terdampak.

Kenapa kasus ini jadi perhatian

Hantavirus berasal dari hewan pengerat dan dapat menular ke manusia melalui urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi, terutama lewat partikel udara yang terhirup. Siouxsie Wiles menjelaskan gejalanya bisa muncul satu hingga delapan minggu setelah paparan, sehingga pelacakan kasus tidak mudah dilakukan.

Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain kelelahan ekstrem, demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, pusing, menggigil, mual, muntah, dan sakit perut. Jika tidak ditangani, infeksi bisa berkembang menjadi hantavirus pulmonary syndrome atau HPS, kondisi serius ketika paru-paru terisi cairan dan memicu sesak napas akut.

WHO juga menyebut penularan antarmanusia dapat terjadi pada strain tertentu, terutama di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Situasi seperti ini membuat kewaspadaan meningkat karena banyak orang berada dalam ruang yang sama untuk waktu lama.

Langkah penanganan di darat dan di kapal

MV Hondius saat ini berlabuh di Praia, ibu kota Tanjung Verde, sementara perhatian utama diarahkan pada kru dan penumpang yang menunjukkan gejala. Oceanwide Expeditions menyatakan pihaknya memprioritaskan perawatan medis bagi orang-orang yang terdampak.

Laporan The Guardian menyebut otoritas setempat sempat menunda izin turun kapal bagi individu yang membutuhkan perawatan. Di sisi lain, pemerintah Belanda memimpin upaya repatriasi bagi warga negaranya, termasuk korban meninggal.

Institut Nasional untuk Penyakit Menular atau NICD Afrika Selatan juga melakukan pelacakan kontak di Johannesburg. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran lebih lanjut dan memastikan setiap orang yang berisiko bisa segera dipantau.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button