Xiaomi meluncurkan kampanye “Kami Buatan Indonesia” tahun lalu. Raksasa ponsel pintar asal China itu mengincar pasar Indonesia dengan menyesuaikan fitur produk dengan selera lokal.

Xiaomi pertama kali menggebrak pasar Indonesia pada Agustus 2014, dengan produk Redmi 1S yang boleh dikatakan meruntuhkan dominasi produk ponsel pintar dari raksasa teknologi yang ada di pasaran sebelumnya. Pasalnya, dengan harga yang sangat miring kala itu, Redmi 1S menawarkan fitur yang setara dengan produk dari merek lain.

Mendapat sambutan karena disparitas harga, Xiaomi yang sempat terganjal beberapa persoalan terkait Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) itu kemudian berbenah dengan memperbaiki layanan purna jual, jaminan servis dan membangun kedekatan dengan pengguna.

Pada 10 Februari 2017, dalam acara yang bertajuk “Kami Buatan Indonesia” Xiaomi mengumumkan sudah memulai produksi ponsel pintar di Indonesia. Dengan produksi yang berpusat di Batam, Xiaomi berharap akan memperkuat komitmen untuk pasar Indonesia, sekaligus mempertegas bahwa Indonesia selalu menjadi pasar yang penting. Ponsel terbaru yang dibuat di Indonesia adalah Redmi 4A yang dijual melalui jaringan toko Erafone dan didistribusikan oleh PT Teletama Artha Mandiri (TAM) ke seluruh toko ponsel di Indonesia.

Mohammad Hatta dalam perangko. foto wikipedia

Meminjam istilah Mohammad Hatta – Nasionalisme adalah tulang punggung kemandirian ekonomi suatu bangsa, diterjemahkan oleh Xiaomi dengan mendekatkan diri kepada pasar Indonesia. Selain alasan efisiensi biaya, membangun kedekatan dengan pasar akan membuat produknya tepat sasaran, karena hasil produk yang di riset dan dibuat secara lokal akan lebih pas dengan kebiasaan penggunaan ponsel orang Indonesia.

Tak hanya Xiaomi, sejumlah raksasa elektronik juga mengaplikasikan hal serupa. Sebut saja Asus asal Taiwan, Infinix yang berafiliasi dengan Sagem dari Perancis, Andromax, Hisense dan beberapa merek lain yang mempercayakan pembuatan produknya ke tangan putra-putri Indonesia di PT Sat Nusapersada, Batam.

Jauh sebelum itu, ada nama Nokia, merek asal Finlandia yang telah diakuisisi Microsoft, Blackberry milik Research in Motion dengan produk BB Merah Putih, dan berbagai merek baru lain yang juga meracik barang jadi dan menyuntik efek ekomoni bagi Indonesia.

Tidak berlebihan ketika Presiden Republik Indonesia Joko Widodo berbicara di Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Da Nang, Vietnam tahun lalu. Jokowi mempromosikan peluang investasi digital di Indonesia pada kesempatan berpidato dengan menyebut, negeri ini memiliki 132 juta pengguna internet, atau lebih seperlima dari penduduk gabungan Uni Eropa.

Ajak Pemasok Tanam Modal di Batam

Anggota Deputi Bidang Perencanaan dan Pengembangan BP Batam, Yusmar Anggadinata menyatakan, ke depan Hang Nadim akan mengubah arah pengembangan untuk mengakomodir kembali menggeliatnya industri manufaktur. BP Batam memproyeksikan Hang Nadim sebagai bandara untuk logistik industri, karena memiliki konektivitas yang cukup bagus dengan sejumlah pelabuhan.

Baca Juga :   Pusat Data Batam Pikat GDS Holdings China

“Tahun ini (2018) diharapkan ada pemenang tender yang akan merevitalisasi bandara Hang Nadim, pengembangan bandara yang sebelumnya berbasis penumpang berkembang menjadi logistik,” kata Yusmar Anggadinata, ketika ditemui di Batam Centre, Batam, Selasa (8/5).

Menurut dia, pengembangan Hang Nadim sejalan dengan pengembangan layanan pada sektor logistik di pelabuhan – pelabuhan yang ada di Batam. Setelah melalui sejumlah kajian, letak dan saling terhubungnya infrastruktur pelabuhan dan bandara diyakini akan menjadi nilai tambah. Investor diharapkan dapat merasakan kemudahan arus barang dan logistiknya sehingga tidak ragu dan semakin banyak menanamkan modal di Batam.

Baca juga : Xiaomi Dorong Pemasok Buka Pabrik di Batam

Perjalanan logistik seperti bahan baku industri dan barang jadi menjadi prioritas para pengusaha, terutama investor yang memproduksi barang untuk pasar global. Hambatan yang menyebabkan arus barang tersendat menurut Yusmar akan membuat investor berpikir ulang untuk membenamkan modal di suatu wilayah. JIka hambatan logistik dapat dieliminasi, dia yakin Batam akan semakin menarik.

Langkah BP Batam itu adalah respons dari langkah raksasa elektronik asal China, Xiaomi yang menggandeng industri manufaktur lokal, PT Sat Nusapersada. Grafik kinerja Sat Nusapersada yang terus naik ditanggapi positif oleh BP Batam dengan menjajaki kemungkinan peningkatan investasi bahan baku produk ponsel pintar di Batam.

Sebuah pesawat kargo jenis Antonov AN-32B milik Valan Air Company, Moldova melintas di landasan pacu Bandara Internasional Hang Nadim, Batam beberapa waktu lalu. PELANTAR/Joko Sulistyo

“Tahapan pertama hadirnya xiaomi di Indonesia, Ini tahapan kedua yaitu kita bangun platform perdagangan bandara dan pelabuhan, dengan begitu akan menghasilkan industri hulu di Batam dan Kepri. Xiaomi ingin rantai pasokannnya kuat, dan kita bisa menyediakan lapangan untuk usaha mereka,” kata Yusmar.

Sebelumnya, BPBatam bersama Xiaomi menyelenggarakan Supplier Investment Summit (SIS) di Radisson Hotel, Batam yang mempertemukan penyuplai komponen ponsel pintar. Pertemuan yang pertama kali diselenggarakan itu diikuti oleh 20 pemasok komponen ponsel pintar asal China, dan bertujuan untuk memperkenalkan peluang investasi strategis di Batam mereka.

“Juga untuk memberikan pemahaman tentang ekosistem manufaktur di Indonesia. Diharapkan kegiatan ini dapat membantu mereka untuk mendirikan pabrik di Indonesia,” kata Yusmar.

Pada pertemuan pemasok itu, Head of Xiaomi South Pacific Region and Xiaomi Indonesia Country Manager, Steven Shi mengajak para pemasok komponen untuk bersama-sama memahami ekosistem industri manufaktur Indonesia, khususnya di Batam. Dia bahkan meyakinkan para pemasok tentang potensi pasar yang dimiliki Indonesia cukup besar, dan sudah semestinya digarap.

Baca Juga :   Kapan Fast Furious 9 Tayang di Bioskop?

Dalam kesempatan berbicara, Shi bahkan memastikan Xiaomi bertekad untuk terus memperbesar investasi dan bekerjasama dengan pemerintah Indonesia ke depannya.

Tahun 2017 lalu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) mencatat nilai investasi lebih dari 1,15 miIiar Dollar Amerika yang berasal dari 73 proyek di Batam. Dikalkulasikan, apabila seluruh pemasok komponen ponsel pintar global yang hadir pada kegiatan itu membangun pabrik di Indonesia, nilai investasi yang dihasilkan dapat mencapai 315 juta Dollar Amerika, dan pada saat bersamaan dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi 10.000 orang.

Sementara, Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo menyebut, SIS yang diprakarsai oleh Xiaomi itu sebagai langkah penting untuk menyambut gelombang masuknya investasi ke Batam. Dia berharap, posisi industri manufaktur di Batam terus menguat dengan hadirnya pabrik-pabrik baru. Pada gilirannya, produk jadi akan lebih terjangkau ketika sampai ke tangan konsumen karena indutri hulu ke hilir sudah dapat dilakukan di satu wilayah, sehingga menekan biaya pada rantai pasokan.

Lukita sangat serius berupaya menggenjot industri manufaktur baru di Batam. Dia mengajak para pemasok untuk mengunjungi Pelabuhan Batuampar dan Bandara Kargo Hang Nadim untuk meyakinkan kesiapan fasilitas Iogistik di Batam kepada para calon investor itu selepas SIS. Selain itu, Lukita juga membawa rombongan berkeliling untuk melihat langsung sejumlah kawasan industri yang telah ada di Batam.

Kunjungan tersebut akan memberikan akses langsung bagi para supplier untuk mengeksplorasl dan mempelajari peluang investasi, berbagai insentif yang ditawarkan oleh BP Batam dan pemerintah lokal, kebijakan investasi asing Iangsung, kebijakan Industri, dan berbagai kebijakan pemerintah lainnya yang diterapkan untuk investor asing di Indonesia.

Head of Xiaomi South Pacific Region and Xiaomi Indonesia Country Manager, Steven Shi bertukar cinderamata dengan Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo saat Supplier Investment Summit di Batam, Senin (7/5). ISTIMEWA

Selain jumlah investasi dan lapangan pekerjaan, perlu mempertimbangkan bagaimana kegiatan ini dapat mempercepat laju transformasi Indonesia untuk menjadi salah satu negara dengan perekonomian digital terbesar di dunia. Ia menilai ketersediaan infrastruktur, Ietak geograns yang strategis dan dukungan pemerintah dalam kemudahan perizinan investasi menjadikan Batam sangat siap sebagai tujuan investasi yang kompetitif baik di Asia maupun dunia.

“Salah satu dukungan BP Batam untuk memudahkan proses investasi asing telah terselenggara melalui program izin investasi 3 jam (i23j),” kata Lukita.

Selain Lukita Dinarsyah Tuwo dari BP Batam, SIS juga dihadiri oleh beberapa tamu kehormatan seperti Direktur Standardisasi Perangkat Pos dan Telekomunikasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Mochammad Hadiyana. Kepala Sub Direktorat Industri Kreatif Telematika dan Elektronika, Kementerian Perindustrian RI, Welldian Saragih.

Joko Sulistyo