Bali Tak Lagi Bergantung Pada Rental, Mobil Listrik Cina Justru Diburu Pembeli Pribadi

Pasar mobil listrik di Bali mulai dilihat dengan cara yang berbeda oleh produsen asal Cina. Bukan rental yang paling dulu menarik perhatian, melainkan pembeli pribadi yang justru dianggap punya minat lebih kuat.

Pandangan itu membuat Bali muncul sebagai wilayah yang menjanjikan di luar pusat pasar otomotif yang selama ini bertumpu di Jakarta dan Jawa. Sejumlah pabrikan kini mulai membaca pulau ini sebagai ruang tumbuh baru untuk kendaraan listrik.

Changan Indonesia menjadi salah satu yang menangkap sinyal tersebut. Setiawan Surya, CEO Changan Indonesia, menyebut Bali berada di luar perkiraan perusahaan karena minat mobil listrik di wilayah itu dinilai cukup positif.

Minat pribadi yang mengubah peta pasar

Selama ini, banyak ekspansi produsen mobil listrik Cina lebih fokus ke Jakarta dan pulau Jawa. Namun, Bali menunjukkan pola yang berbeda karena kebutuhan pasar di sana tidak hanya terkait penyewaan kendaraan.

Changan menilai kondisi itu membuka peluang penjualan untuk penggunaan harian. Karena itu, perusahaan melihat ada ruang untuk memperluas jaringan diler di Bali pada masa mendatang.

Sikap serupa juga datang dari submerek Chery Group, Lepas. Temmy Wiradjaja, Vice Country Director Lepas Indonesia, mengatakan Bali juga sedang dilihat potensinya karena dinilai cukup baik.

Dukungan daerah ikut mendorong ekosistem

Peluang di Bali tidak lepas dari dorongan pemerintah daerah untuk mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan. Di Denpasar, Pemerintah Provinsi Bali tengah menggencarkan pengembangan ekosistem kendaraan listrik bersama sejumlah pihak, termasuk PLN.

Gubernur Bali Wayan Koster juga menindaklanjuti pembahasan awal pengembangan EV Ecosystem tersebut pada 26 Desember 2025. Langkah ini ikut dibaca sebagai sinyal positif oleh pelaku industri yang ingin masuk lebih dalam ke pasar Bali.

Koster menegaskan bahwa penguatan ekosistem kendaraan listrik bukan gagasan baru. Program itu sempat tertunda karena pandemi Covid-19 pada 2020, tetapi kini dinilai lebih realistis untuk dijalankan.

Ia juga menyebut kondisi ekonomi masyarakat sudah membaik sehingga program kendaraan listrik bisa dilaksanakan. Arah kebijakan itu sejalan dengan visi Nanggun Sat Kerthi Loka Bali yang menekankan penjagaan kesucian dan keharmonisan alam sekaligus kesejahteraan masyarakat.

Rencana diler dan perluasan jaringan

Melihat respons pasar dan dorongan kebijakan, Changan menyiapkan langkah lanjutan. Setiawan mengatakan perusahaan mengejar target 20 diler pada 2026.

Jaringan itu mencakup tiga diler di Jakarta, dua lainnya yang masih dalam proses, satu di Bandung, dan satu di Yogyakarta. Bali kemudian masuk dalam daftar wilayah yang dinilai layak untuk ekspansi berikutnya karena respons pasarnya disebut lebih baik dari dugaan awal.

Rencana perluasan ini menunjukkan bahwa Changan tidak hanya menargetkan pasar utama. Perusahaan juga ingin memperkuat akses konsumen di wilayah yang mulai menunjukkan karakter pasar berbeda, termasuk Bali.

Arah baru untuk kendaraan listrik di pulau wisata

Pemerintah Provinsi Bali sendiri menyiapkan sejumlah regulasi untuk mendukung ekosistem mobil listrik. Salah satu wacana yang disebutkan adalah zonasi kendaraan listrik awal di Ubud, Sanur, Kuta, Nusa Dua, dan Nusa Penida.

Nusa Penida bahkan diproyeksikan menjadi Green Island, dan gagasan itu disebut telah mendapat dukungan dari Bupati Klungkung. Jika ekosistem ini berjalan, Bali tidak hanya berpeluang menjadi pasar penting bagi mobil listrik, tetapi juga pusat pengembangan mobilitas ramah lingkungan yang lebih luas.

Bagi Changan dan Lepas, Bali kini bukan sekadar destinasi wisata. Pulau ini mulai dipandang sebagai pasar yang bisa menopang pertumbuhan kendaraan listrik, terutama karena minat pembeli pribadi dan arah kebijakan daerah bergerak seirama.

Source: otomotif.katadata.co.id

Baca Juga

Back to top button