Skema bantuan pangan yang sedang dibahas Bulog dan Komisi IV DPR RI berubah arah. Paket tambahan yang sebelumnya sempat dikaitkan dengan bantuan lengkap kini mengerucut menjadi beras saja untuk dua bulan.
Dalam usulan terbaru itu, setiap keluarga penerima manfaat dijadwalkan menerima 10 kilogram beras per bulan. Artinya, bantuan tambahan ini disiapkan sebagai penopang langsung bagi rumah tangga yang paling terdampak tekanan harga dan pasokan pangan.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, usulan penambahan bantuan pangan itu datang dari inisiatif Komisi IV DPR RI. Dari pembahasan yang sudah dilakukan, fokus program memang diarahkan khusus ke beras, tanpa minyak goreng.
Perubahan skema ini membuat penyaluran bantuan lebih sederhana. Bulog menilai fokus tunggal pada beras juga memudahkan pelaksanaan di lapangan dan membuat pengawasan program lebih mudah dilakukan.
Masih menunggu keputusan pusat
Meski pembahasannya sudah mengerucut, bantuan tambahan ini belum bisa langsung dijalankan. Bulog masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat sebelum distribusi ke masyarakat dimulai.
Kepastian waktu peluncuran juga menjadi syarat penting sebelum bantuan bisa disalurkan. Tanpa penetapan resmi itu, Bulog belum dapat bergerak ke tahap distribusi.
Langkah ini muncul di tengah perhatian besar terhadap ketahanan pangan masyarakat. Skema bantuan beras dua bulan diposisikan sebagai respons terhadap risiko El Nino ekstrem yang dinilai bisa menekan ketersediaan pangan.
Bulog memandang usulan tersebut sebagai penyesuaian program agar lebih tepat sasaran. Dengan hanya berfokus pada beras, bantuan diharapkan lebih langsung menjawab kebutuhan pokok masyarakat yang rentan terhadap tekanan pasokan.
Berbeda dari paket bantuan sebelumnya
Arah bantuan terbaru ini juga berbeda dari program yang sudah disiapkan pemerintah untuk periode Februari-Maret 2026. Pada program tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 11,92 triliun untuk bantuan pangan nasional bagi 33 juta orang.
Dalam skema yang dikaitkan dengan Presiden Prabowo Subianto itu, penerima mendapatkan paket berisi 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng. Sementara pada usulan tambahan yang dibahas bersama Komisi IV DPR RI, minyak goreng justru tidak lagi masuk dalam paket.
Perbedaan itu menunjukkan bahwa pemerintah dan Bulog sedang menyesuaikan bentuk bantuan sesuai kebutuhan yang dinilai paling mendesak. Pada tahap ini, beras ditempatkan sebagai komoditas utama yang diprioritaskan.
Dengan begitu, keputusan akhir dari pemerintah pusat akan sangat menentukan apakah bantuan tambahan dua bulan ini segera masuk jalur distribusi. Hingga saat itu tiba, Bulog masih menunggu kepastian resmi sebelum program berjalan ke masyarakat.





