Cadangan Nikel Vale Ternyata Masih Panjang, Potensi Operasi Bisa Tembus 50 Tahun

Kebutuhan bijih nikel untuk proyek hilir Vale Indonesia membuat peta cadangan perusahaan ini kembali jadi sorotan. Di saat kuota produksi dalam RKAB 2026 masih jauh di bawah usulan awal, perseroan justru melihat umur tambang yang lebih panjang dari perkiraan semula.

Direktur Utama Vale Indonesia Bernadus Irmanto menegaskan kebutuhan pasokan untuk pabrik di Pomalaa sangat besar. Proyek itu ditargetkan rampung pada Agustus 2026, sehingga bahan baku harus sudah tersedia lebih dulu agar operasi tidak terhambat.

Karena itu, selisih antara kebutuhan dan kuota produksi menjadi perhatian utama manajemen. Untuk Pomalaa, Vale mengusulkan 18,06 juta ton bijih nikel, tetapi yang disetujui hanya 5,8 juta ton.

Kondisi serupa juga terlihat di Bahodopi. Dalam RKAB 2026, kuota produksi bijih nikel tambang itu disetujui 2,31 juta ton, jauh di bawah usulan awal 8,8 juta ton, meski masih lebih tinggi dibanding realisasi 2025.

Di tengah pembatasan produksi itu, Vale membuka gambaran bahwa cadangannya belum habis dalam waktu dekat. Per 31 Desember 2025, cadangan nikel yang sudah tercatat mencapai 1,18 miliar ton basah atau sekitar 664 juta ton kering.

Dari basis cadangan tersebut, Vale menyebut tambang yang bisa langsung ditambang saat ini masih cukup untuk sekitar 20 tahun ke depan. Namun jika seluruh sumber daya yang belum dimanfaatkan ikut dihitung, umur tambang berpotensi mencapai sekitar 50 tahun.

Head of Studies and Exploration INCO Tyas Agustinus Rabudianto menjelaskan bahwa total sumber daya nikel Vale mencapai 1,67 miliar ton basah. Jumlah itu sekitar satu setengah kali lebih besar dibanding cadangan yang sudah tercatat.

Tyas juga merinci bahwa cadangan yang belum ditambang terdiri atas 695,57 juta ton basah limonit dan 489,40 juta ton basah saprolit. Dari sisi sumber daya, bijih limonit diperkirakan mencapai 657,1 juta ton basah, sedangkan saprolit mencapai 1,02 miliar ton basah.

Menurut Tyas, hitungan itu membuat umur tambang masih punya ruang panjang di atas proyeksi 20 tahun. Ia menyebut, jika cadangan dan sumber daya dijumlahkan, totalnya bisa menyentuh kisaran 50 tahun.

Eksplorasi jadi penentu

Untuk menjaga peluang itu tetap terbuka, Vale mengalokasikan dana eksplorasi sekitar US$15 juta hingga US$16 juta per tahun. Nilai itu setara sekitar 2% dari pendapatan dan diarahkan untuk menaikkan status sumber daya menjadi cadangan bijih nikel.

Perusahaan kini memusatkan eksplorasi pada area yang belum dibor agar cakupan wilayah kerja makin luas. Targetnya mencakup landform, area dengan jarak pemboran 400 meter, serta sumber daya tereka atau inferred.

Tyas menyebut Vale ingin memperluas cakupan area hingga setidaknya 70%–80% dari total wilayah. Setiap tambahan data eksplorasi dinilai penting karena bisa mengubah sumber daya menjadi cadangan yang siap ditambang.

Gambaran cadangan nasional

Di tingkat nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat total cadangan bijih nikel Indonesia mencapai 5,32 miliar ton pada 2024. Maluku Utara menjadi wilayah dengan cadangan terbesar, dengan komposisi 60% saprolit dan sisanya limonit.

Bagi Vale, angka cadangan yang besar itu belum otomatis membuat pasokan di lapangan longgar. Kebutuhan smelter tetap menuntut kepastian produksi, terutama saat proyek baru mulai masuk fase operasi.

Di Sorowako, produksi nikel matte ditargetkan 67.645 ton dan sedikit turun karena pemeliharaan rutin tungku peleburan. Sementara itu, manajemen Vale menyiapkan revisi RKAB ke Kementerian ESDM agar volume produksi bisa lebih selaras dengan kebutuhan smelter, terutama untuk Pomalaa dan Bahodopi.

Bernadus menegaskan pembahasan dengan kementerian akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Fokus perusahaan adalah memastikan pabrik baru tidak kekurangan bijih saat mulai beroperasi.

Exit mobile version