Tanah ternyata masih menjadi salah satu titik paling rawan dalam membaca kolonialisme. Dari Afrika hingga Indonesia, sejumlah buku menunjukkan bahwa penguasaan lahan bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga cara lama untuk memperlebar ketimpangan dan menyingkirkan warga lokal dari ruang hidup mereka.
Kisah-kisah itu hadir dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi, tetapi benang merahnya sama. Penjarahan tidak selalu tampil sebagai pendudukan terang-terangan, karena sering bergerak lewat investasi, kebijakan, ekstraksi sumber daya, dan alih fungsi lahan yang merugikan banyak orang.
Kolonialisme yang berganti wajah
Salah satu bacaan yang menyorot bentuk baru kolonialisme adalah Land Grabbing: Journeys in the New Colonialism karya Stefano Liberti. Buku ini menampilkan bagaimana investasi global bisa berubah menjadi alat penguasaan lahan, termasuk lewat latar perkebunan milik perusahaan Belanda di Ethiopia.
Liberti juga membawa pembaca ke sebuah konferensi internasional yang berubah fungsi menjadi ajang lelang lahan. Di sana, negara-negara dunia ketiga berhadapan dengan negara-negara yang agresif menanam modal, termasuk Arab Saudi.
Gambaran itu menunjukkan bahwa kolonialisme tidak harus hadir dalam bentuk tentara atau pendudukan resmi. Penguasaan ruang hidup kini bisa berjalan lewat mekanisme ekonomi yang tampak legal, tetapi tetap meninggalkan dampak yang berat bagi warga di sekitar lahan.
Ketika warga lokal berhadapan dengan korporasi
Di Indonesia, persoalan serupa muncul dalam Bukan Timah Hitam: Petani Dairi Melawan Tambang. Buku ini mengangkat perjuangan masyarakat Kabupaten Dairi, Sumatra Utara, yang ruang hidupnya rusak akibat keserakahan perusahaan tambang timah dan seng PT DPM.
Cerita ini menegaskan bahwa benturan antara korporasi dan warga lokal bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam konteks Indonesia, konflik semacam itu sudah berulang, sementara kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat masih jauh dari harapan.
Dari situ terlihat bahwa lahan bukan hanya aset produksi. Bagi banyak warga, lahan adalah tempat tinggal, sumber penghidupan, dan penyangga relasi sosial yang mudah runtuh saat penguasaan berpindah tangan.
Kolonialisme sebagai desain ketimpangan
Walter Rodney lewat How Europe Underdeveloped Africa menawarkan pembacaan yang lebih politis tentang penjajahan Eropa di Afrika. Ia menyusun bukti untuk menunjukkan bahwa persoalan sosial, politik, dan ekonomi di Afrika bukanlah hasil proses alamiah.
Dalam pandangannya, penjajah Eropa ikut membentuk ketertinggalan itu melalui desain besar yang sistematis. Cara baca ini membuat kolonialisme tampak sebagai mesin yang aktif menghasilkan ketimpangan, bukan sekadar latar sejarah yang sudah berlalu.
Pendekatan semacam itu penting karena menggeser fokus dari sekadar peristiwa masa lalu ke struktur yang masih meninggalkan jejak panjang. Dengan begitu, kolonialisme bisa dibaca sebagai sistem yang membentuk kondisi hidup banyak masyarakat hingga sekarang.
Jejak kekerasan lahan dalam fiksi
Kekerasan atas tanah juga muncul dalam fiksi. A Grain of Wheat karya Ngũgĩ wa Thiong’o mengikuti beberapa tokoh fiktif menjelang kemerdekaan Kenya dari koloni Inggris, sambil memperlihatkan trauma kolektif yang mengganggu hubungan personal para tokohnya.
Di dalam novel itu, ada pula penyaplokan dan alih fungsi lahan secara sepihak. Dampaknya besar karena tanah bukan cuma ruang ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan sosial warga lokal yang ikut menentukan identitas dan cara mereka bertahan.
Lewat fiksi, pembaca diajak melihat bahwa kehilangan lahan tidak berhenti pada soal kepemilikan. Ada luka sosial yang merembes ke relasi antarmanusia dan terus hidup lama setelah perubahan politik diumumkan.
Warisan kolonial yang terus bertahan
Crooked Plow karya Itamar Vieira Junior membawa pembaca ke Brasil dan menyingkap legasi kolonialisme yang menyedihkan. Ceritanya mengikuti dua saudara kembar yang lahir dalam kemiskinan struktural.
Melalui keduanya, novel ini membuka sejarah kelam perdagangan budak trans-Atlantik dan privatisasi lahan yang tidak pernah adil. Cerita itu juga dipakai untuk menyoroti opresi ganda yang dialami perempuan miskin.
Di sisi lain, 32 Tahun Menjarah Alam karya A.S. Rimbawana, Dihan Amiluhur, dan Putro Wasista menyorot kebijakan politik Orde Baru. Buku itu melihat praktik ekstraksi dan eksploitasi alam besar-besaran yang disebut masih memakai gaya kolonialisme tanpa asas keberlanjutan.
Menurut buku tersebut, manfaat dari eksploitasi itu hanya dinikmati segelintir elite. Warga lokal justru digusur, disingkirkan, dan dipaksa mencari cara bertahan hidup sendiri di tengah rusaknya ruang hidup mereka.
Enam bacaan ini memperlihatkan pola yang terus berulang di Ethiopia, Dairi, Kenya, Brasil, dan Indonesia. Yang berubah hanya bentuknya, sementara penguasaan lahan, ketimpangan, dan beban terbesar yang jatuh ke warga lokal tetap sama.
Source: www.idntimes.com




