Di balik tawa dan kekacauan yang dibawakan The WONDERfools, ada lapisan cerita yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Drama Korea ini memanfaatkan komedi absurd dan elemen misteri untuk membahas rasa takut, kesepian, serta kebutuhan manusia agar tetap dianggap punya tempat.
Yang membuat pendekatannya menarik, kekuatan super di dalam cerita tidak hadir sebagai jawaban instan. Justru, kemampuan itu membuat kegelisahan para tokohnya semakin terlihat dan konflik batin mereka makin terasa nyata.
Sebagian besar tokoh utama di drama ini memang datang dari posisi yang tidak menguntungkan. Mereka dipandang sebagai sosok aneh, lemah, miskin, atau tidak punya masa depan yang jelas oleh lingkungan sekitar.
Situasi itu membuat kehadiran kekuatan super terasa seperti simbol lain, bukan sekadar kemampuan fantastis. Para tokoh seolah mendapatkan alasan baru untuk percaya bahwa hidup mereka masih bisa berarti.
Rasa takut yang dekat dengan zaman sekarang
Latar akhir tahun 1999 dan suasana kota kecil Haeseong memberi ruang bagi cerita untuk mengangkat kepanikan kolektif. The WONDERfools memakai ketakutan Y2K bukan hanya sebagai pemanis nostalgia, tetapi sebagai cara menunjukkan betapa mudahnya masyarakat panik saat berhadapan dengan sesuatu yang belum dipahami.
Ketakutan semacam itu bahkan muncul sebelum bencana benar-benar terjadi. Gambaran tersebut terasa relevan dengan kondisi modern yang juga dipenuhi kecemasan baru, mulai dari pandemi, krisis ekonomi, perkembangan AI, sampai kebiasaan doomscrolling.
Dengan latar seperti itu, drama ini bergerak lebih jauh dari sekadar kisah superhero. Konflik batin para karakter ikut mendorong cerita, sehingga rasa cemas yang mereka alami menjadi bagian penting dari jalannya peristiwa.
Luka yang disembunyikan di balik kekacauan
The WONDERfools juga menyoroti kesepian emosional yang dialami para tokohnya. Eun Chae Ni hidup hanya bersama neneknya dan berusaha menutup luka hidup dengan sikap ceria.
Kang Ro Bin dan Lee Un Jeong juga digambarkan kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Mereka tidak tampil sebagai sosok yang utuh dan tenang, melainkan sebagai orang-orang yang masih bergulat dengan masalah pribadi masing-masing.
Di titik ini, drama tidak menjadikan kekuatan super sebagai obat untuk semua masalah. Kemampuan itu justru membuat luka dan rasa takut para karakter semakin terbuka, sehingga sisi rapuh mereka tidak bisa disembunyikan lagi.
Sindiran terhadap citra pahlawan yang terlalu sempurna
Pendekatan itu sekaligus mematahkan gambaran superhero yang biasa tampil serba kuat dan penuh percaya diri. Para tokoh dalam The WONDERfools sering terlihat ceroboh, panik, takut, dan belum siap menghadapi kekuatan mereka sendiri.
Mereka bahkan beberapa kali bertindak egois karena masih sibuk menghadapi masalah batin masing-masing. Karena itu, drama ini terasa lebih realistis saat menampilkan pahlawan yang justru sangat manusiawi.
Humor, misteri, dan kekacauan emosional akhirnya berjalan beriringan dalam cerita ini. The WONDERfools menunjukkan bahwa kisah superhero juga bisa dipakai untuk membicarakan kebutuhan paling dasar manusia, yaitu ingin dipahami dan diterima.
Source: www.idntimes.com




