Ebola Makin Mendekati Perbatasan, WHO Minta Negara Tetangga Siaga Penuh

Di timur Republik Demokratik Kongo, wabah Ebola terbaru bergerak dalam kondisi yang jauh dari mudah dikendalikan. Penyebarannya sudah melewati batas wilayah, sementara otoritas kesehatan internasional menilai ancamannya kini tidak lagi bersifat lokal.

WHO menetapkan situasi ini sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Keputusan itu diambil setelah virus menewaskan hampir 90 orang dan muncul tanda-tanda bahwa penularan bisa terus meluas ke wilayah sekitar.

Salah satu yang membuat situasi ini lebih rumit adalah jenis virus yang terlibat. Wabah di timur DRC disebabkan strain Bundibugyo yang langka, dan sampai sekarang belum ada vaksin maupun pengobatan yang disetujui khusus untuk varian tersebut.

Africa Centres for Disease Control and Prevention mencatat hingga Sabtu ada 88 kematian dan 336 kasus suspek. Angka itu memperlihatkan betapa cepat wabah ini menekan sistem kesehatan di wilayah terdampak.

Penyebaran sudah masuk lintas batas

Kasus yang terkait wabah tidak berhenti di DRC. Infeksi sudah terdeteksi di Uganda, dan salah satu pasien di antaranya meninggal di Kampala setelah tercatat sebagai kasus yang terhubung dengan pelancong dari DRC.

WHO juga menilai ancaman serupa bisa muncul di negara tetangga lain. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan mobilitas penduduk, koneksi perdagangan dan perjalanan, serta ketidakpastian epidemiologis masih menjadi faktor utama yang memperbesar risiko.

Meski begitu, WHO menegaskan situasi ini belum memenuhi kriteria pandemi. Badan kesehatan PBB itu justru meminta negara-negara tidak menutup perbatasan atau membatasi perdagangan secara berlebihan.

Sebaliknya, WHO mendorong negara tetangga untuk mengaktifkan sistem manajemen darurat, memperkuat pemeriksaan lintas batas, dan segera mengisolasi kasus terkonfirmasi. Organisasi itu juga merekomendasikan pemantauan harian terhadap kontak erat serta larangan perjalanan internasional selama 21 hari bagi orang yang terpapar.

Awal wabah dari wilayah tambang yang sibuk

Wabah ini pertama kali dilaporkan di provinsi Ituri, timur laut DRC, dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan. Titik awalnya berada di Mongwalu, kawasan pertambangan yang sibuk, lalu penyebaran bergerak keluar ketika orang yang terinfeksi mencari perawatan di tempat lain.

Di lapangan, kondisi itu membuat pelacakan kasus menjadi jauh lebih sulit. Africa CDC memperingatkan bahwa pergerakan penduduk, infrastruktur kesehatan yang lemah, dan kekerasan oleh kelompok bersenjata di Ituri dapat menghambat pengendalian wabah.

WHO sendiri masih melihat banyak ketidakpastian mengenai jumlah pasti orang yang terinfeksi dan luas geografis penyebarannya. Hubungan epidemiologis antara kasus yang sudah diketahui maupun yang masih dicurigai juga belum sepenuhnya dipahami.

Di wilayah itu, sumber penularan awal atau pasien nol disebut sebagai seorang perawat yang datang ke fasilitas kesehatan di Bunia pada 24 April dengan gejala mirip Ebola. Dari titik awal seperti ini, penularan kemudian menyebar ke beberapa zona kesehatan dan kini lintas batas.

Risiko semakin besar di wilayah yang sulit dijangkau

Trish Newport dari Doctors Without Borders menyebut jumlah kasus dan kematian dalam waktu singkat sangat mengkhawatirkan. Ia juga menyoroti bahwa banyak warga Ituri sulit mengakses layanan kesehatan dan hidup dalam situasi tidak aman.

WHO menambahkan, karakter wilayah yang menjadi hotspot, baik urban maupun semiurban, ikut menambah risiko. Jaringan fasilitas kesehatan informal serta krisis kemanusiaan yang masih berlangsung membuat respons lapangan semakin berlapis.

Kondisi itu memperjelas mengapa wabah ini langsung menjadi perhatian internasional. Ketika mobilitas warga tinggi dan jalur dagang tetap aktif, penularan bisa bergerak lebih cepat daripada kemampuan sistem kesehatan untuk mengejarnya.

Virus lama, ancaman yang belum selesai

Ebola sendiri adalah penyakit virus parah yang sering berujung fatal dan pertama kali diidentifikasi pada 1976 di dekat Sungai Ebola, di wilayah yang kini menjadi DRC. Virus ini diduga berasal dari hewan liar, terutama kelelawar, sebelum menyebar ke manusia.

Penularannya terjadi lewat kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah, muntah, atau air mani, serta bahan terkontaminasi seperti seprai dan pakaian. Seseorang menjadi menular setelah gejala muncul, yang bisa berupa demam, muntah, diare, kelemahan hebat, nyeri otot, dan pada kasus berat pendarahan internal maupun eksternal.

Masa inkubasi Ebola bisa berlangsung dua hingga 21 hari. Strain Bundibugyo sendiri pertama kali diidentifikasi di Uganda pada 2007 dan menurut Menteri Kesehatan DRC Samuel-Roger Kamba memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, yang dapat mencapai 50 persen.

DRC sudah mengalami setidaknya 17 wabah Ebola sejak virus itu pertama kali ditemukan di negara tersebut. Wabah paling mematikan di negara itu terjadi pada 2018 hingga 2020 dan menewaskan hampir 2.300 orang, sementara secara global Ebola telah menewaskan sekitar 15.000 orang sejak ditemukan, hampir semuanya di Afrika.

Exit mobile version