Fenwick & West memilih jalan damai untuk keluar dari salah satu pusaran hukum paling mahal yang lahir dari runtuhnya FTX. Firma hukum asal Silicon Valley itu sepakat membayar $54 juta guna menyelesaikan klaim dari pelanggan FTX yang menuduh mereka ikut memfasilitasi penipuan besar tersebut.
Langkah ini langsung menambah panjang daftar beban hukum yang masih mengikuti kebangkrutan FTX. Bagi Fenwick, penyelesaian ini juga menutup salah satu jalur gugatan paling sensitif yang sempat menyeret firma hukum besar ke dalam skandal kripto itu.
Kesepakatan awal diajukan pada Jumat di pengadilan federal Miami dan masih menunggu persetujuan hakim. Bila disetujui, pembayaran itu akan menjadi bagian penting dari gelombang penyelesaian yang terus berkembang di perkara FTX.
Fenwick sebelumnya berperan sebagai penasihat luar utama FTX saat bursa itu tumbuh menjadi salah satu platform kripto terbesar di dunia. Para penggugat menuduh firma tersebut membantu menyusun dan menerapkan strategi yang memfasilitasi penipuan FTX.
Tuduhan itu membuat nama Fenwick masuk lebih dalam ke perkara yang awalnya lebih banyak menyorot para eksekutif dan pendiri bursa. Fenwick membantah keras tuduhan tersebut dan mengatakan tidak mengetahui penipuan di FTX.
Dalam pernyataan pada Jumat, firma itu menegaskan integritas pekerjaan hukumnya. Fenwick juga menyampaikan keinginan untuk segera menutup perkara ini dan kembali fokus pada bisnisnya.
Dengan lebih dari 500 pengacara, Fenwick dinilai punya alasan kuat untuk menghindari litigasi panjang dan rumit. Penyelesaian damai menjadi cara yang lebih cepat untuk meredakan risiko hukum yang masih membayangi.
David Boies bersama pengacara utama lain untuk para penggugat menyampaikan kepada pengadilan bahwa kesepakatan itu layak diterima. Mereka menilai penyelesaian memberi jalan yang lebih efisien dibanding pertarungan hukum yang berlarut-larut.
Fenwick menjadi bagian dari gelombang kedua penyelesaian dalam litigasi FTX. Sebelumnya, sudah ada juga kesepakatan dengan dua mantan eksekutif FTX.
Semua ini tidak lepas dari jatuhnya Sam Bankman-Fried, pendiri FTX. Ia dijatuhi hukuman 25 tahun penjara pada 2024 karena mencuri $8 miliar dari pelanggan dalam skema penipuan besar.
Bankman-Fried mengaku tidak bersalah dan telah mengajukan banding atas vonis tersebut. Meski putusan terhadap dirinya tetap menjadi titik utama dalam runtuhnya FTX, rangkaian gugatan lanjutan menunjukkan dampak hukumnya belum selesai.
Penyelesaian dengan Fenwick memperlihatkan bagaimana skandal FTX terus meluas ke pihak-pihak di luar jajaran eksekutif inti. Dengan nilai $54 juta, kasus ini juga menegaskan mahalnya harga yang harus dibayar ketika sebuah firma besar ikut terseret ke pembongkaran skema keuangan yang merusak kepercayaan pasar.





